AI dan ZISWAF: Pesan Langit di Era Digital

Mahasiswa UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan
ยทwaktu baca 5 menit
Tulisan dari AMANDA SYIFA IZZATI 40226049 tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertengahan September lalu, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) menyampaikan rencana memperkuat sistem informasinya dengan kecerdasan buatan atau AI. Sebagian orang mungkin bertanya-tanya, apa urusannya mesin dengan ibadah yang begitu sakral? Pertanyaan itu wajar. Tetapi menurut saya, langkah ini justru kabar baik bagi perekonomian umat.
ZISWAF, singkatan dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf, adalah cara Islam meratakan kesejahteraan. Idealnya, perintah langit itu mendarat di bumi dalam bentuk perut yang kenyang, anak yang bersekolah, dan usaha kecil yang terus berjalan. Pertanyaannya, mampukah AI menjadi jembatan antara perintah itu dan kenyataan di lapangan?
AI dan ZISWAF: Potensi Besar, Penyaluran Belum Tepat
BAZNAS menyebut potensi zakat nasional mencapai Rp772 triliun. Angka sebesar itu seharusnya mampu mengubah wajah perekonomian umat. Namun menurut saya, persoalannya bukan hanya pada jumlah dana. Persoalan yang sama pentingnya adalah data, siapa yang berhak, siapa yang sudah menerima, dan siapa yang terlewat.
Bayangkan seorang amil di tingkat kecamatan yang harus mendata ratusan keluarga hanya dengan buku catatan. Wajar jika ada warga yang terlewat atau tercatat dua kali. Tanpa data yang rapih, dana sebesar apa pun mudah salah sasaran. Di sinilah AI bisa mengambil peran, karena mesin tidak lelah dan tidak lupa. Ia mampu membaca ribuan data dalam hitungan menit.
Masalah serupa terjadi pada infak, sedekah, dan wakaf. Dana mengalir lewat banyak lembaga dan kelompok, dengan pencatatan masing-masing. Akibatnya, satu keluarga bisa menerima bantuan dari tiga tempat sekaligus, sementara keluarga di desa sebelah tidak mendapat apa-apa. Ketimpangan semacam ini sering bukan karena kurang niat baik, melainkan karena kurang informasi.
Digitalisasi Zakat: Apa yang Bisa Dikerjakan AI untuk ZISWAF
Untuk zakat, AI dapat memetakan wilayah dan keluarga yang paling membutuhkan dari data yang tersebar, lalu mencocokkannya agar tidak ada penerima ganda sementara warga lain terlewat. Pekerjaan yang dulu memakan waktu berminggu-minggu bisa selesai lebih cepat dan rapih. Amil pun punya lebih banyak waktu untuk turun langsung menemui warga, bukan terkurung di balik tumpukan berkas. AI juga dapat membantu menghitung kewajiban zakat berdasarkan penghasilan dan harta pemberi zakat (muzaki), sehingga orang tidak lagi bingung atau ragu menentukan jumlahnya.
Untuk infak dan sedekah, tantangannya berbeda. Donasi mengalir deras lewat media sosial, tetapi tidak semua penggalangan dana bisa dipercaya. AI dapat membantu mendeteksi kampanye yang janggal, memeriksa kesesuaian antara dana yang terkumpul dan laporan penyalurannya, serta menghubungkan donatur dengan kebutuhan yang paling mendesak. Dengan begitu, niat baik tidak berakhir di tangan yang salah, dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penyalur bisa tumbuh
Untuk wakaf, peluangnya mungkin paling besar. Banyak tanah dan bangunan wakaf yang menganggur karena pengelolanya kesulitan merencanakan pemanfaatannya. AI dapat membantu menganalisis aset tersebut, menyarankan penggunaan yang produktif, dan memantau hasilnya. Dengan begitu, wakaf tidak hanya berdiri sebagai bangunan, tetapi juga menghasilkan manfaat ekonomi yang terus mengalir, misalnya untuk beasiswa, layanan kesehatan, atau modal usaha warga sekitar. Laporan perkembangannya juga bisa disampaikan secara berkala, sehingga orang yang berwakaf (wakif) yakin hartanya terus bermanfaat.
Distribusi Islami dan Batas yang Tidak Boleh Dilanggar
Meski begitu, ada batas yang harus dijaga. Dalam fikih, pengelola zakat disebut amil, dan syarat utamanya adalah amanah. Pengelola wakaf (nazir) pun dituntut hal yang sama. Nilai ini tidak bisa diprogram ke dalam mesin.
Ada pula hal yang tidak bisa dihitung mesin, yaitu rasa. Seorang amil yang datang ke rumah warga bisa membaca keadaan yang belum tercatat di data, misalnya pekerjaan yang baru hilang minggu lalu atau anggota keluarga yang sedang sakit. Mesin hanya tahu apa yang diberikan kepadanya.
Setidaknya ada tiga risiko yang perlu diwaspadai. Pertama, data penerima yang sensitif bisa bocor. Kedua, algoritma bisa salah menilai, sehingga warga miskin yang tidak punya ponsel justru terlewat. Ketiga, kita bisa terlalu percaya pada hasil mesin. Padahal zakat punya delapan golongan penerima yang jelas, dan penentuannya membutuhkan pemahaman syariat serta pengenalan langsung terhadap warga.
Pesan Langit Harus Sampai
Karena itu, lembaga ZISWAF sebaiknya memosisikan AI sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan. Hasil analisis mesin tetap diverifikasi petugas di lapangan, dan keputusan akhir ada di tangan amil atau nazir yang amanah. Pemerintah, di sisi lain, perlu menjamin keamanan data penerima dan menghubungkan data antarlembaga agar penyaluran tepat sasaran.
Transparansi juga perlu dijaga. Lembaga yang memakai AI sebaiknya menjelaskan kepada publik bagaimana data dipakai dan siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan. Dalam Islam, amanah menuntut keterbukaan. Masyarakat berhak tahu ke mana zakat, infak, sedekah, dan wakaf mereka pergi, dan teknologi seharusnya mempermudah hal itu.
Di lapangan, tidak semua penerima akrab dengan teknologi. Penyaluran tidak boleh bergantung sepenuhnya pada aplikasi. Petugas tetap perlu mendatangi mereka yang tidak punya ponsel atau jaringan internet, agar kemudahan digital tidak menciptakan kesenjangan baru.
Pada akhirnya, mengawinkan AI dan ZISWAF bukan berarti menyerahkan ibadah kepada mesin. Ini upaya memastikan pesan langit tidak berhenti di rekening, tetapi benar-benar mendarat di meja makan mereka yang lapar. Teknologi boleh secanggih apa pun, tetapi hati yang amanah tetap penentunya. Jika keduanya bisa dipadukan, ZISWAF tidak hanya menjadi ibadah yang dijalankan, tetapi juga kekuatan ekonomi yang benar-benar dirasakan.
