Melihat Kemacetan Daan Mogot dari Kacamata Pengguna Jalan
Tulisan dari Amelia De Sanctis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap hari melewati Jalan Daan Mogot membuat saya semakin menyadari bahwa kemacetan di jalur ini bukan sekadar persoalan banyaknya kendaraan. Ada berbagai kondisi yang turut memengaruhi kelancaran perjalanan, mulai dari kendaraan mogok hingga pekerjaan galian yang berlangsung di sejumlah titik jalan.
Salah satu titik yang cukup menarik perhatian saya adalah ruas Jalan Daan Mogot dari Halte Taman Kota hingga Halte Rawa Buaya, khususnya ke arah Tangerang. Berdasarkan pengamatan saya, pekerjaan galian di kawasan tersebut sudah berlangsung sejak 7 Januari 2026 dan hingga kini masih menjadi bagian dari kondisi perjalanan sehari-hari yang saya alami.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga oleh masyarakat yang mengandalkan transportasi umum, khususnya TransJakarta. Waktu tempuh yang biasanya sekitar 15 menit dari Halte Taman Kota menuju Halte Rawa Buaya, berdasarkan pengalaman saya, kini dapat mencapai satu jam ketika kemacetan terjadi.
Perbedaan waktu tempuh tersebut cukup terasa. Perjalanan yang seharusnya dapat dilalui dalam waktu relatif singkat justru membutuhkan waktu jauh lebih lama. Kondisi ini membuat saya bertanya-tanya, bagaimana pekerjaan infrastruktur dan pengaturan lalu lintas dapat dikelola agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan masyarakat?
Kemacetan yang Menjadi Bagian dari Perjalanan Sehari-hari
Kemacetan di Jalan Daan Mogot sebenarnya bukan hal baru. Terkadang, arus kendaraan tersendat karena truk mogok. Pada waktu lain, ada kejadian berbeda yang membuat kendaraan kembali mengular. Namun, ketika hambatan terjadi berulang kali di ruas jalan yang sama, dampaknya tentu tidak bisa dianggap sepele.
Bagi pengguna jalan, kemacetan bukan hanya tentang kendaraan yang bergerak lambat. Ada waktu yang terbuang, tenaga yang terkuras, dan aktivitas yang berpotensi terganggu. Bagi masyarakat yang setiap hari harus tiba di tempat kerja atau menjalankan kegiatan dengan jadwal tertentu, tambahan waktu perjalanan dapat menjadi persoalan tersendiri.
Saya memahami bahwa tidak semua kemacetan dapat dihindari. Volume kendaraan yang tinggi, kendaraan mogok, kecelakaan, maupun pekerjaan konstruksi bisa memengaruhi kelancaran lalu lintas. Karena itu, saya tidak ingin menyimpulkan bahwa seluruh kemacetan di Jalan Daan Mogot hanya disebabkan oleh pekerjaan galian.
Namun, keberadaan pekerjaan konstruksi di ruas jalan yang ramai dilalui kendaraan tentu perlu mendapatkan perhatian, terutama ketika dampaknya dirasakan oleh pengguna jalan dalam waktu yang panjang.
Pertanyaannya bukan apakah pembangunan boleh dilakukan atau tidak. Pembangunan tentu diperlukan. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana prosesnya dikelola agar aktivitas masyarakat tetap dapat berlangsung dengan baik.
Ketika Perjalanan TransJakarta Ikut Terdampak
Hal lain yang saya amati adalah penggunaan jalur busway oleh kendaraan lain di ruas dari Halte Taman Kota hingga Halte Jembatan Baru ke arah Tangerang.
Berdasarkan pengamatan saya, jalur yang seharusnya diperuntukkan bagi bus TransJakarta tersebut kini juga digunakan oleh kendaraan lain. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai pengaturan lalu lintas selama pekerjaan galian berlangsung, terutama terkait dampaknya terhadap perjalanan penumpang TransJakarta.
Saya memahami bahwa dalam kondisi tertentu, rekayasa lalu lintas mungkin diperlukan untuk mengatasi keterbatasan ruang jalan akibat pekerjaan konstruksi. Pengaturan seperti ini bisa menjadi salah satu upaya untuk menjaga arus kendaraan tetap bergerak.
Namun, penggunaan jalur busway oleh kendaraan lain juga perlu dilihat dari sisi pengguna transportasi umum. Jalur khusus TransJakarta memiliki fungsi penting untuk membantu bus melayani penumpang dengan perjalanan yang lebih efisien dan terprediksi.
Ketika jalur tersebut digunakan bersama kendaraan lain, kelancaran perjalanan bus berpotensi ikut terpengaruh. Karena itu, apabila pengaturan khusus memang diperlukan selama proyek berlangsung, pelaksanaannya perlu mempertimbangkan kepentingan penumpang dan memastikan perjalanan TransJakarta tetap diperhatikan.
Bagi masyarakat yang memilih transportasi umum, waktu tempuh merupakan salah satu pertimbangan penting. Mereka berharap dapat melakukan perjalanan dengan lebih teratur tanpa harus menghadapi ketidakpastian yang terlalu besar setiap harinya.
Ketika perjalanan dari Halte Taman Kota menuju Halte Rawa Buaya yang biasanya sekitar 15 menit dapat mencapai satu jam saat terjadi kemacetan, tentu muncul pertanyaan mengenai bagaimana kualitas layanan transportasi umum tetap dijaga.
Angka tersebut merupakan pengalaman pribadi saya, sehingga waktu tempuh penumpang lain bisa berbeda bergantung pada jam keberangkatan dan kondisi lalu lintas. Meski demikian, pengalaman ini menunjukkan mengapa dampak kemacetan terhadap pengguna TransJakarta layak mendapat perhatian.
Sebab, transportasi umum bukan hanya soal menyediakan bus dan halte. Kelancaran perjalanan, pengaturan jalur, serta kepastian waktu tempuh juga menjadi bagian penting dari layanan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pembangunan Infrastruktur dan Kepentingan Masyarakat
Saya menyadari bahwa pembangunan infrastruktur merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas fasilitas publik. Pekerjaan konstruksi membutuhkan tahapan, perencanaan, dan waktu agar fasilitas yang dibangun dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Dalam pemberitaan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat pada Mei 2026, terdapat informasi mengenai pembangunan Sistem Tata Air Pompa Daan Mogot di empat titik, yaitu Rumah Pompa Depag, KM 13, KM 13A, dan KM 13B. Jadwal keseluruhan pekerjaan tersebut disebut berlangsung dari 7 Januari 2026 hingga 6 Agustus 2027.
Informasi tersebut dapat dibaca melalui pemberitaan resmi Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat mengenai pembangunan pompa Daan Mogot dan rekayasa lalu lintas.
Pembangunan sistem tata air merupakan salah satu bentuk upaya penanganan persoalan infrastruktur di kawasan tersebut. Namun, informasi yang tersedia belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh pekerjaan galian yang saya amati dari Halte Taman Kota hingga Halte Rawa Buaya merupakan bagian dari proyek yang sama.
Bagi saya, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pembangunan yang memiliki manfaat jangka panjang tetap dikelola dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat selama proses pengerjaan.
Pembangunan dan kelancaran aktivitas masyarakat seharusnya tidak dipandang sebagai dua kepentingan yang saling bertentangan. Keduanya perlu berjalan beriringan. Infrastruktur yang baik memang dibutuhkan, tetapi pengaturan lalu lintas yang memadai juga penting agar dampak pekerjaan terhadap pengguna jalan dapat diminimalkan.
Masyarakat tidak selalu menuntut agar seluruh pekerjaan selesai dalam waktu singkat. Namun, masyarakat berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai pekerjaan yang berlangsung, tahapan pengerjaan, serta pengaturan lalu lintas yang diterapkan.
Informasi yang terbuka akan membantu pengguna jalan memahami situasi dan menyesuaikan perjalanan mereka. Apabila terdapat perubahan pengaturan lalu lintas, masyarakat juga perlu mengetahui bagaimana perubahan tersebut memengaruhi jalur kendaraan pribadi maupun transportasi umum.
Pentingnya Evaluasi dan Keterbukaan Informasi
Menurut saya, salah satu hal yang penting dalam pekerjaan infrastruktur di ruang publik adalah evaluasi yang dilakukan secara berkala.
Ketika suatu pekerjaan berpotensi menghambat lalu lintas, perlu ada perhatian terhadap kondisi di lapangan. Apakah pengaturan kendaraan sudah berjalan dengan baik? Apakah terdapat cara untuk mengurangi kepadatan di titik tertentu? Bagaimana perjalanan transportasi umum tetap dapat berlangsung secara efisien?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk dijawab melalui pengamatan, data lalu lintas, dan informasi dari pihak terkait. Dengan begitu, pembahasan mengenai kemacetan tidak berhenti pada keluhan, tetapi dapat menjadi bahan evaluasi untuk mencari solusi.
Saya juga berharap informasi mengenai penggunaan jalur busway selama pekerjaan berlangsung dapat disampaikan dengan jelas. Jika memang terdapat rekayasa lalu lintas yang mengizinkan kendaraan lain menggunakan jalur tersebut, masyarakat perlu mengetahui dasar pengaturannya serta bagaimana kelancaran layanan TransJakarta tetap dijaga.
Tentu, saya tidak mengetahui seluruh pertimbangan teknis yang dihadapi pihak terkait. Karena itu, saya tidak ingin langsung menyalahkan pihak tertentu atau menyimpulkan bahwa kebijakan yang diterapkan merupakan satu-satunya penyebab perjalanan menjadi lebih lama.
Namun, pengalaman pengguna jalan tetap layak menjadi salah satu bahan pertimbangan. Sebab, masyarakat adalah pihak yang merasakan langsung bagaimana suatu kebijakan atau pekerjaan infrastruktur memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Keterbukaan informasi dan evaluasi yang baik dapat membantu membangun kepercayaan masyarakat. Ketika masyarakat memahami apa yang sedang dikerjakan dan bagaimana dampaknya dikelola, mereka memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi yang dihadapi.
Pembangunan yang Baik Juga Memperhatikan Penggunanya
Pada akhirnya, saya tidak berharap Jalan Daan Mogot selalu bebas dari kemacetan. Dalam lalu lintas perkotaan, berbagai hambatan memang dapat terjadi. Namun, pekerjaan infrastruktur yang berlangsung dalam jangka panjang perlu disertai pengelolaan yang memperhatikan kebutuhan masyarakat.
Bagi pengguna jalan, kelancaran perjalanan merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari. Bagi penumpang TransJakarta, kepastian waktu tempuh juga menjadi bagian penting dari pengalaman menggunakan transportasi umum.
Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari hasil akhir yang ingin dicapai. Proses pengerjaan, pengaturan lalu lintas, keselamatan pengguna jalan, dan dampaknya terhadap layanan transportasi umum juga perlu menjadi perhatian.
Saya berharap pekerjaan infrastruktur di kawasan Daan Mogot dapat berjalan sesuai rencana, dengan pengaturan lalu lintas yang baik serta informasi yang mudah diakses masyarakat. Saya juga berharap kondisi perjalanan TransJakarta tetap menjadi pertimbangan penting selama pekerjaan berlangsung.
Tulisan ini berangkat dari pengalaman pribadi sebagai pengguna jalan yang setiap hari melewati kawasan tersebut. Pengalaman saya tentu tidak mewakili seluruh pengguna jalan, tetapi dapat menjadi pengingat bahwa persoalan lalu lintas memiliki dampak nyata terhadap kehidupan sehari-hari.
Pembangunan memang membutuhkan proses dan kesabaran. Namun, masyarakat juga membutuhkan informasi, pengelolaan yang baik, dan perhatian terhadap kondisi yang mereka hadapi selama proses tersebut.
Sebab, keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang fasilitas yang akhirnya selesai dibangun, melainkan juga tentang bagaimana prosesnya dijalankan dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang menggunakannya.

