Jangan Terlalu Benci, Nanti Jatuh Cinta: Resensi Film “Pride and Prejudice”

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Amelia Misgi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Identitas Film
Judul : Pride and Prejudice
Tahun rilis : 2005
Sutradara : Joe Wright
Berdasarkan : Novel “Pride and Prejudice” (1813) karya Jane Austen
Pemeran : Keira Knightley, Matthew Macfadyen, Brenda Blethyn, Donald Sutherland, Rosamund Pike, Judi Dench
Durasi : 129 menit
Pernahkah kamu jatuh hati pada seseorang yang justru paling kamu benci di pertemuan pertama?. Lewat film “Pride and Prejudice” (2005), Joe Wright mengajak kita menyaksikan bagaimana gengsi dan prasangka bisa menjadi tembok tertinggi antara dua orang yang sebenarnya saling mencintai.
Film ini diadaptasi dari novel klasik Jane Austen dan berlatar Inggris pada akhir abad ke-18. Kita berkenalan dengan Elizabeth Bennet, putri kedua keluarga Bennet yang cerdas, blak-blakan, dan menolak menikah demi harta. Di tengah ibunya yang sibuk mencarikan suami untuk lima anak perempuannya, Elizabeth, atau Lizzy, bertemu Mr. Darcy, lelaki kaya yang tampak dingin dan menganggap dirinya lebih berderajat tinggi daripada siapa pun.
Kisah bermula ketika Mr. Bingley, bujangan kaya raya, menyewa sebuah rumah besar tak jauh dari kediaman keluarga Bennet. Ia datang bersama sahabatnya, Mr. Darcy. Di sebuah pesta dansa, Bingley langsung tertarik pada Jane, kakak Lizzy. Sementara itu, Darcy justru menolak berdansa dan melontarkan komentar merendahkan kepada Lizzy. Kesan pertama yang buruk itu membuat Lizzy menilainya sombong. Prasangkanya makin kuat setelah Wickham, seorang perwira yang ramah, menceritakan tentang masa lalu Darcy, yang memiliki konflik dengan keluarganya. Namun, sebuah surat dari Darcy mulai mengguncang semua prasangka yang selama ini Lizzy yakini.
Pesan yang paling terasa dari film ini adalah ajakan untuk tidak berprasangka buruk lebih dulu kepada orang lain, dan tidak terlalu membenci karena siapa tahu justru berakhir jatuh cinta. Namun, film ini tidak dikemas sesederhana itu. Meski ceritanya kompleks, tapi alurnya tidak membosankan. Sinematografinya pun nyaman dipandang: padang rumput berkabut, rumah keluarga Bennet yang riuh, hingga adegan dansa dalam satu pengambilan gambar panjang membuat kita ikut merasakan suasana di dalamnya.
Yang membuat kisah ini terasa berbeda, cinta Lizzy dan Darcy tidak dipaksakan untuk langsung bersatu. Keduanya dibawa menjalani perjalanan masing-masing terlebih dahulu. Bahkan ketika Darcy menyatakan perasaannya, Lizzy tidak serta-merta menerima. Sutradara justru mengajak Lizzy, dan penonton, untuk mengenal sosok Darcy lebih dalam, hingga penilaian awal itu perlahan runtuh. Kisah ini juga banyak dituturkan dari sudut pandang perempuan, sehingga kita bisa merasakan langsung pergulatan batin Lizzy dalam menimbang perasaan dan harga dirinya.
Salah satu momen paling diingat adalah saat Darcy mengungkapkan perasaannya kepada Lizzy di tengah hujan, seusai kegiatan gereja. Di adegan ini, gengsi dan perasaan yang lama ditahan oleh Darcy akhirnya terluapkan.
“…Circumstance all these things that I'm willing to put them aside and ask you to end my Agony I don't understand l love you…”
Meski begitu, penonton yang belum membaca novelnya mungkin akan merasa alurnya berjalan cepat karena harus merangkum cerita yang panjang dalam waktu sekitar dua jam. Namun, film ini kurang menyoroti detail sudut pandang Darcy terhadap Lizzy. Selain itu, dialog dalam film ini masih mempertahankan gaya bahasa khas era Jane Austen, sehingga beberapa bagian terasa terlalu sastrawi dan cukup sulit dipahami.
Meski demikian, “Pride and Prejudice” tetap layak ditonton, baik oleh pencinta sastra klasik maupun mereka yang hanya ingin menikmati kisah cinta yang hangat dan tidak lekang oleh zaman. Sebab pada akhirnya, film ini mengingatkan kita bahwa terkadang orang yang paling kita salahpahami adalah orang yang paling perlu kita dengar.
