Konten dari Pengguna

Karhutla Masih Terjadi, Udara Bersih Tak Boleh Dianggap Sepele

Aminah

Aminah

Mahasiswa Universitas Pamulang S1 Manajement

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aminah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah membayangkan harus menjalani aktivitas sehari-hari dengan udara yang terasa tidak nyaman untuk dihirup? Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kondisi seperti ini bukan sekadar bayangan. Asap kebakaran dapat mengganggu aktivitas, membatasi kegiatan di luar rumah, bahkan menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga.

Karhutla bukan masalah baru di Indonesia. Hampir setiap musim kemarau, persoalan ini kembali menjadi perhatian. Berita tentang hutan yang terbakar, petugas yang berusaha memadamkan api, hingga kabut asap yang menyelimuti permukiman kembali bermunculan. Namun, ketika pemberitaan mulai berkurang, apakah itu berarti persoalannya benar-benar selesai?

Sumber : Ilustrasi AI petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Ilustrasi AI petugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan

Ketika titik api berkurang, masalah belum tentu berakhir

Berdasarkan informasi Kementerian Kehutanan yang dirilis pada 20 Oktober 2026, pemantauan hingga 19 Oktober 2026 mencatat 487 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia. Jumlah tersebut turun dari 1.104 titik pada hari sebelumnya. Meski begitu, penurunan ini bukan berarti seluruh wilayah sudah terbebas dari ancaman karhutla.

Titik panas juga tidak selalu berarti satu titik kebakaran yang telah terkonfirmasi. Kondisi di lapangan tetap perlu diperiksa untuk memastikan apakah api masih menyala atau berpotensi muncul kembali.

Menurut saya, keberhasilan penanganan karhutla seharusnya tidak hanya diukur dari berkurangnya titik panas. Kondisi lingkungan, kualitas udara, dan keamanan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak juga harus menjadi perhatian.

Bukan cuma soal asap, tetapi juga kesehatan

Ketika membicarakan karhutla, kita sering langsung membayangkan hutan yang terbakar dan asap yang terlihat dari kejauhan. Padahal, dampaknya bisa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Asap kebakaran mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan polusi ini berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan.

Pergerakan asap juga dipengaruhi oleh angin dan kondisi atmosfer. Karena itu, dampaknya tidak selalu terbatas pada lokasi kebakaran. Wilayah yang jauh dari sumber api pun dapat mengalami penurunan kualitas udara ketika asap terbawa angin.

Istilah “krisis oksigen” mungkin sering digunakan untuk menggambarkan kekhawatiran masyarakat. Namun, persoalan yang lebih tepat untuk dibahas adalah krisis kualitas udara akibat asap dan polusi. Bukan berarti oksigen di atmosfer Indonesia habis, melainkan udara yang kita hirup dapat tercemar dan membahayakan kesehatan.

Sumber : Ilustrasi AI masyarakat yang tetap harus beraktivitas di tengah kondisi udara berasap

Situasi ini mengingatkan kita bahwa udara bersih bukan sekadar pelengkap kenyamanan. Udara merupakan kebutuhan dasar yang digunakan setiap orang setiap hari. Ketika kualitasnya memburuk, masyarakat harus menyesuaikan aktivitas dan lebih berhati-hati saat berada di luar ruangan.

Mengapa karhutla terus menjadi persoalan?

Salah satu faktor yang membuat karhutla sulit ditangani adalah kondisi cuaca yang kering. Ketika curah hujan rendah, vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar. Pada lahan gambut, api bahkan dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga tidak selalu terlihat dari luar

Karena itu, pemadaman tidak cukup hanya dilakukan pada api yang terlihat. Pembasahan lahan, pendinginan, dan pemeriksaan lanjutan juga diperlukan untuk mengurangi risiko api menyala kembali.

Selain faktor cuaca, pencegahan membutuhkan pengawasan yang konsisten, keterlibatan masyarakat, serta tanggung jawab dari pihak-pihak yang melakukan aktivitas di kawasan rawan kebakaran.

Menurut saya, kita tidak bisa terus-menerus hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah terlanjur membesar. Pencegahan harus dilakukan sejak awal, termasuk memastikan kawasan rawan dipantau, sumber api ditangani dengan cepat, dan aturan lingkungan dijalankan secara konsisten.

Masyarakat juga membutuhkan perlindungan

Ketika karhutla terjadi, masyarakat sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Mereka tetap perlu bekerja, bersekolah, berbelanja, dan menjalankan aktivitas sehari-hari meskipun kondisi udara belum tentu aman.

Karena itu, informasi mengenai kualitas udara harus mudah diakses dan dipahami. Masyarakat perlu mengetahui kapan kondisi udara tidak sehat, kapan sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta langkah apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan asap.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup telah menyediakan pemantauan kualitas udara melalui ISPUNET yang diperbarui secara berkala. Informasi tersebut dapat membantu masyarakat memahami kondisi udara dan mengambil langkah pencegahan yang sesuai.

Namun, perlindungan masyarakat tidak boleh menggantikan upaya untuk mencegah kebakaran itu sendiri. Menggunakan masker atau membatasi kegiatan di luar ruangan mungkin membantu mengurangi paparan, tetapi langkah tersebut bukan solusi utama untuk menghentikan karhutla.

Tanggung jawab tetap membutuhkan kerja sama antara pemerintah, pengelola lahan, masyarakat, dan pihak terkait dalam mencegah kebakaran serta memulihkan lingkungan yang terdampak.

Jangan menunggu asap kembali menjadi berita

Menurut saya, persoalan karhutla seharusnya tidak hanya ramai dibicarakan ketika asap mulai menyelimuti permukiman atau kualitas udara memburuk. Perhatian publik dan pengawasan perlu tetap berjalan setelah jumlah titik panas menurun.

Masyarakat bisa ikut berperan dengan tidak melakukan pembakaran sembarangan, melaporkan kebakaran yang ditemukan, serta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara. Namun, partisipasi masyarakat harus didukung oleh penanganan yang konsisten dan penegakan aturan yang tegas.

Hutan yang terbakar bukan hanya kehilangan pepohonan. Ada ekosistem yang rusak, satwa yang kehilangan habitat, dan masyarakat yang harus menghadapi dampak lingkungan. Pemulihan pun tidak selalu selesai hanya dalam hitungan hari setelah api berhasil dipadamkan.

Pada akhirnya, berkurangnya titik panas memang patut diapresiasi. Namun, kita tidak boleh menjadikan angka yang menurun sebagai alasan untuk berhenti peduli.

Udara bersih adalah kebutuhan bersama, bukan sesuatu yang baru kita hargai ketika asap sudah mengganggu pernapasan. Karhutla harus ditangani bukan hanya agar api segera padam, tetapi juga agar masyarakat bisa kembali menjalani aktivitas dengan aman dan lingkungan memiliki kesempatan untuk pulih.

Jangan sampai setiap musim kemarau kita kembali membicarakan persoalan yang sama, sementara pencegahan belum dilakukan secara maksimal. Sebab, hutan yang terbakar mungkin berada jauh dari tempat tinggal kita, tetapi dampaknya bisa dirasakan jauh melampaui batas wilayah kebakaran.