Seharian Saya Tidak Belanja, Ternyata Ekonomi Tetap Mengejar Saya

saya mahasiswa semester 3 universitas Pamulang, prodi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Amiraa virginia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari itu saya sengaja tidak membeli apa-apa.
Bukan karena sedang tidak punya uang. Saya hanya ingin mencoba satu hal sederhana: bagaimana rasanya menjalani sehari tanpa mengeluarkan uang.
Pagi dimulai dengan sarapan dari rumah. Saya membawa botol minum sendiri, tidak membeli kopi, dan menolak ajakan makan di luar. Siang hari, ketika teman bertanya, “Mau pesan makan apa?”
Saya menjawab, “Enggak dulu. Hari ini mau hemat.”
Sampai sore, dompet saya masih aman.
Tidak ada transaksi. Tidak ada struk belanja. Tidak ada pembayaran di kasir.
Tapi anehnya, saya tetap merasa sedang berhadapan dengan ekonomi.
Saat melihat harga makanan di aplikasi, saya tetap memperhatikan apakah harganya naik. Ketika naik kendaraan, saya tetap memikirkan ongkos. Ketika membayar tagihan bulanan, saya tetap berhadapan dengan biaya hidup. Bahkan ketika menerima gaji, saya sedang berada di dalam sebuah sistem ekonomi.
Di titik itu saya baru sadar: tidak belanja ternyata tidak membuat kita keluar dari ekonomi.
Kita hanya sedang mengubah bentuk keterlibatan kita.
Selama ini ekonomi makro sering terdengar seperti sesuatu yang jauh. Pertumbuhan ekonomi, inflasi, konsumsi rumah tangga, suku bunga, investasi, dan nilai tukar rupiah terdengar seperti urusan pemerintah, bank sentral, atau ekonom di televisi.
Padahal, semuanya bisa berakhir di meja makan kita.
Ambil contoh konsumsi rumah tangga. Pada triwulan II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 5,06 persen. Bank Indonesia menyebut aktivitas domestik dan konsumsi rumah tangga tetap menjadi bagian penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
Angka itu terlihat besar.
Tetapi coba turunkan ke kehidupan sehari-hari.
Di balik angka konsumsi tersebut ada orang yang membeli nasi, membayar transportasi, membeli pakaian, memesan makanan, membayar listrik, atau sekadar membeli kopi sebelum bekerja.
Lalu ada juga orang seperti saya hari itu: memilih tidak membeli.
Keputusan kecil tersebut mungkin tidak berarti banyak jika hanya dilakukan satu orang. Namun secara ekonomi, keputusan rumah tangga untuk meningkatkan atau mengurangi konsumsi dapat memengaruhi permintaan barang dan jasa. Ketika permintaan berubah, pelaku usaha ikut menyesuaikan produksi, stok, tenaga kerja, bahkan rencana investasinya.
Jadi, “saya tidak belanja hari ini” sebenarnya bukan keputusan yang sepenuhnya pribadi.
Ada sistem yang lebih besar di belakangnya.
Begitu juga dengan inflasi. Pada Agustus 2026, inflasi Indonesia tercatat 3,19 persen secara tahunan.
Angka 3,19 persen mungkin terlihat biasa ketika dibaca di berita.
Tetapi bagi seseorang yang sedang menyusun daftar belanja bulanan, angka tersebut bisa diterjemahkan menjadi pertanyaan yang jauh lebih sederhana: “Bulan depan uang saya masih cukup tidak?”
Di sinilah menurut saya ekonomi makro menjadi menarik.
Ekonomi tidak selalu hadir ketika kita membuka dompet. Kadang ia hadir ketika kita memutuskan untuk tidak membuka dompet.
Kita mengurangi makan di luar. Memilih memasak sendiri. Menunda membeli pakaian. Mengurangi perjalanan. Membandingkan harga sebelum membeli. Atau mencari pekerjaan tambahan agar pendapatan bisa mengikuti kebutuhan.
Semua keputusan itu merupakan respons terhadap kondisi ekonomi.
Karena itu, saya merasa kita terlalu sering melihat ekonomi hanya dari sisi transaksi. Seolah-olah ekonomi baru bergerak ketika uang berpindah tangan.
Padahal, keputusan menunda transaksi juga memiliki cerita.
Ada orang yang tidak belanja karena memang tidak membutuhkan. Ada yang sedang menabung. Ada yang menunggu diskon. Tetapi ada juga yang tidak belanja karena harga terasa terlalu mahal atau pendapatannya belum cukup.
Dari luar, semuanya terlihat sama: tidak ada transaksi.
Namun alasan di baliknya bisa sangat berbeda.
Dan perbedaan itulah yang penting.
Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,29 persen tentu merupakan kabar yang positif. Tetapi angka makro tidak selalu menceritakan pengalaman setiap rumah tangga secara utuh. Di dalam satu angka pertumbuhan, ada orang yang sedang meningkatkan konsumsi, ada yang tetap berhemat, ada yang mencari penghasilan tambahan, dan ada pula yang sedang menyesuaikan gaya hidup karena biaya hidup.
Jadi, mungkin pertanyaan ekonominya bukan lagi sekadar, “Berapa banyak uang yang dibelanjakan masyarakat?”
Kita juga perlu bertanya:
“Kenapa seseorang memilih membelanjakan uangnya, dan kenapa orang lain memilih menahannya?”
Karena dari keputusan kecil itulah kita bisa melihat sesuatu yang sering hilang dari angka statistik: bagaimana ekonomi benar-benar dirasakan manusia.
Hari itu saya memang tidak belanja.
Tetapi harga tetap berubah, tagihan tetap datang, pendapatan tetap harus dicari, dan keputusan ekonomi tetap harus dibuat.
Ternyata, kita tidak perlu pergi ke pusat perbelanjaan untuk bertemu ekonomi.
Ekonomi sudah lebih dulu mengejar kita.
