Konten dari Pengguna

Keputusan Bisnis Butuh Data, Bukan Sekadar Dashboard

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rarasati Amrishyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

cover-keputusan.jpg. Keterangan: Dashboard membantu membaca data, tetapi keputusan tetap di tangan manusia. (Ilustrasi: dibuat dengan bantuan AI)]
zoom-in-whitePerbesar
cover-keputusan.jpg. Keterangan: Dashboard membantu membaca data, tetapi keputusan tetap di tangan manusia. (Ilustrasi: dibuat dengan bantuan AI)]

Banyak organisasi bangga memamerkan dashboard berwarna-warni di ruang rapat. Grafiknya bergerak, angkanya diperbarui setiap hari. Namun, coba perhatikan apa yang terjadi saat rapat benar-benar mengambil keputusan. Tidak jarang, yang menentukan tetap pendapat orang paling senior di ruangan itu. Menurut saya, inilah masalah sebenarnya: sistem informasi sering dibeli untuk dipamerkan, bukan untuk dipakai berpikir.

Secara teori, sistem informasi bertugas mengubah data mentah menjadi informasi, lalu menjadi pengetahuan yang mendukung keputusan. Perjalanan itu bisa tersendat di setiap tahap.

alur-keputusan.jpg. Keterangan: Tahapan dari data menjadi keputusan dan titik-titik yang sering tersendat. (Grafis: dibuat dengan bantuan AI)]

Pertama, data yang tidak bisa dipercaya. Prinsip lama "sampah masuk, sampah keluar" masih berlaku. Data yang tidak lengkap, dobel, atau tersebar di banyak sistem yang tidak saling terhubung akan menghasilkan laporan yang rapi tetapi menyesatkan. Banyak perusahaan sibuk membeli perangkat analitik canggih sebelum membereskan kualitas datanya.

Kedua, laporan yang tidak menjawab pertanyaan. Dashboard dengan puluhan grafik belum tentu menjawab apa yang sebenarnya perlu diputuskan. Menurut saya, urutannya sering terbalik. Organisasi mulai dari data apa yang tersedia, padahal seharusnya mulai dari pertanyaan bisnis apa yang ingin dijawab. Tanpa pertanyaan yang jelas, grafik hanya menjadi hiasan.

Ketiga, tidak semua keputusan cocok diserahkan ke sistem. Dalam teori sistem informasi, keputusan dibedakan menjadi terstruktur, semiterstruktur, dan tidak terstruktur. Keputusan terstruktur, seperti kapan stok harus dipesan ulang, sangat cocok dibantu bahkan diotomatisasi oleh sistem. Tetapi keputusan strategis, seperti masuk ke pasar baru atau menghentikan satu lini produk, melibatkan hal-hal yang tidak ada di database: membaca situasi, menimbang risiko, dan memahami manusia. Sistem informasi membantu, tetapi tidak bisa menggantikan penilaian itu.

Keempat, budaya dan kemampuan membaca data. Sistem secanggih apa pun tidak berguna kalau penggunanya tidak terbiasa menafsirkan angka atau takut keputusannya "dikoreksi" oleh data. Di sini, pelatihan dan keberanian pimpinan untuk menerima temuan yang tidak sesuai harapan sama pentingnya dengan teknologinya.

Lalu apa yang menurut saya perlu dilakukan? Mulailah dari pertanyaan, bukan dari alat. Rapikan dan satukan data penting sebelum membeli sistem baru. Latih orang-orangnya membaca data, bukan hanya mengoperasikan aplikasi. Terakhir, jaga etika: data pelanggan dan karyawan harus dikelola dengan aman dan sesuai aturan pelindungan data pribadi.

Pada akhirnya, sistem informasi adalah penerang jalan, bukan pengemudi. Organisasi yang baik bukan yang punya dashboard paling banyak, melainkan yang paling jujur pada datanya dan paling berani mengambil keputusan berdasarkan apa yang ditunjukkan data tersebut.