Geliat FEsyar sebagai Wadah Akselerasi Ekonomi Syariah

Analis Yunior di Bank Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dunia, sekaligus meraih peringkat pertama pada sektor modest fashion, peringkat kedua pada sektor pariwisata ramah muslim, dan peringkat ketiga pada sektor makanan halal. Potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia masih sangat besar, didukung konsep ekonomi syariah (esyar) yang inklusif, berkelanjutan, berkeadilan, dan stabil. Salah satu pengembangan eksyar ialah melalui wadah Festival Ekonomi Syariah (Fesyar).
FESyar yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI) bersama stakeholder terkait seperti kementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan lainnya dalam rangka untuk memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Kehadiran FESyar menjadi ajang pameran produk halal, wadah kolaborasi dan inovasi dalam membangun ekosistem ekonomi syariah yang berdaya saing. Potensi Indonesia harus didukung melalui penguatan sektor riil, pengembangan industri, peningkatan literasi keuangan, serta sinergi.
Penyelenggaraan FESyar bertujuan memperkuat ekosistem halal value chain yang meliputi makanan dan minuman halal, fesyen muslim, farmasi dan kosmetik halal, pariwisata, serta pembiayaan. FESyar memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas bisnis sekaligus memperluas akses pasar domestik maupun internasional.
Salah satu fokus utama dalam FESyar adalah pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) halal. Masih banyaknya UMKM yang menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan pembiayaan. Melalui FESyar, BI mendorong peningkatan kapasitas UMKM melalui pendampingan, sertifikasi halal, pemasaran, hingga business matching.
Selain penguatan UMKM, FESyar juga menjadi momentum penting dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah masyarakat. Melalui seminar, dan forum diskusi yang diselenggarakan selama FESyar, masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai prinsip-prinsip ekonomi syariah.
Di sisi lain, digitalisasi menjadi tema penting yang terus diangkat dalam penyelenggaraan FESyar. Pengembangan ekonomi syariah harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Melalui FESyar, berbagai inovasi digital diperkenalkan kepada pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperluas jangkauan pemasaran hingga pasar internasional. Digitalisasi juga memberikan peluang bagi pelaku UMKM untuk naik kelas dengan biaya yang relatif lebih rendah dibandingkan metode pemasaran konvensional.
FESyar berperan dalam memperkuat rantai nilai halal yang berfokus sertifikasi halal mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, distribusi, logistik, pembiayaan, hingga pemasaran. Sinergi antara BI, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), pemerintah daerah, lembaga keuangan syariah menjadi faktor penentu keberhasilan pengembangan industri halal nasional.
FESyar menjadi sarana penguatan ekonomi pesantren melalui program pemberdayaan pesantren berbasis kewirausahaan. Pesantren berpeluang sebagai pusat pengembangan ekonomi umat karena memiliki jaringan yang luas. Berbagai program inkubasi bisnis, pelatihan manajemen usaha, digitalisasi pemasaran, hingga akses pembiayaan syariah terus dikembangkan agar pesantren menjadi motor penggerak ekonomi lokal.
FESyar memperkuat posisi Indonesia di forum internasional yang diselenggarakan. FESyar membuka peluang kolaborasi yang diharapkan meningkatkan ekspor produk halal Indonesia dan menarik investasi pada sektor-sektor seperti makanan halal, farmasi, kosmetik, modest fashion, serta ekonomi digital syariah. Salah satu penyelenggaraan akhir-akhir ini ialah FESyar KTI yang diselenggarakan pada 10-12 Juli 2026.
Dilansir dari BI, FESyar KTI merupakan rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026, program tahunan Bank Indonesia. Mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital", FESyar KTI 2026 menghadirkan 4 program unggulan, yaitu AKBAR (Akselerasi Kemandirian Bisnis Pesantren Berkelanjutan), AMANAH (Akselerasi Menuju Sertifikasi dan Ekosistem Halal), BARAKAH (Bina Rantai Komoditas Halal untuk Ekspor), dan MAHAR (Mobilisasi Aset Halal melalui Akselerasi Wakaf). Keempat program tersebut menyasar penguatan akses pembiayaan, literasi dan edukasi, hingga keuangan sosial digital bagi pelaku ekonomi syariah.
Penyelenggaraan FESyar KTI 2026 tidak terlepas dari sinergi dan kolaborasi erat Bank Indonesia, Pemerintah Daerah, Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Agama, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), Kementerian Keuangan, akademisi, dan pelaku usaha syariah. Bank Indonesia bersama seluruh mitra strategis akan terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam penguatan rantai nilai halal, pengembangan keuangan syariah yang inklusif dan adaptif, serta peningkatan literasi dan inklusi ekonomi. Berbagai upaya sinergis ini diharapkan mendukung terwujudnya visi Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia.
