Bahasa Indonesia Diutamakan, Berbeda dari Negara Tetangga

Berkerja dan kuliah di universitas pamulang
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Andreas margate tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia adalah negeri dengan ribuan pulau, ratusan etnis, dan lebih dari 700 bahasa daerah. Dalam keragaman luar biasa ini, satu hal yang menarik sekaligus membanggakan adalah kenyataan bahwa hampir semua kelompok etnis di Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, menggunakan dan memahami bahasa Indonesia. Bahkan banyak yang menggunakannya dengan sangat fasih dalam kehidupan sehari - hari. Ini bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa. Di banyak negara multibahasa, bahasa nasional sering kali menjadi sumber konflik atau ketimpangan. Mengapa di Indonesia justru sebaliknya?
1. Bahasa Indonesia: Bahasa Kesepakatan, Bukan Paksaan
Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu mayoritas masyarakat Indonesia, namun menjadi bahasa nasional melalui jalan yang sangat unik: ia disepakati secara sukarela oleh para pendiri bangsa. Dalam Sumpah Pemuda tahun 1928, para pemuda dari berbagai daerah, dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda, mengikrarkan satu bahasa persatuan: bahasa Indonesia.
Yang menarik, bahasa Indonesia bukan bahasa suku Jawa—yang secara demografis merupakan suku terbesar tetapi justru berkembang dari bahasa Melayu yang saat itu berfungsi sebagai lingua franca di kawasan Nusantara. Artinya, sejak awal, bahasa Indonesia tidak mengakar pada dominasi etnis tertentu, melainkan lahir dari kebutuhan dan semangat kolektif untuk bersatu. Ini menjadikannya lebih mudah diterima oleh semua kalangan.
2. Pendidikan dan Media sebagai Alat Penyebaran Bahasa
Sejak awal kemerdekaan, bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa resmi negara, digunakan dalam pendidikan, administrasi, hukum, dan media massa. Sekolah - sekolah di seluruh pelosok negeri menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama. Anak-anak dari Papua, Kalimantan, Nusa Tenggara, hingga Aceh sejak usia dini sudah terbiasa mendengar dan menggunakan bahasa Indonesia dalam konteks formal maupun informal.
Media massa pun memainkan peran vital. Televisi nasional, siaran radio, buku, dan kini media digital hampir seluruhnya menggunakan bahasa Indonesia. Paparan intens inilah yang membuat bahasa Indonesia menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari semua etnis.
3. Bahasa yang Netral dan Inklusif
Di tengah banyaknya bahasa daerah yang memiliki tingkatan sosial (misalnya bahasa Jawa dengan ngoko dan krama), bahasa Indonesia terasa lebih “demokratis.” Tidak ada kasta dalam penggunaannya. Semua orang berbicara dengan gaya yang relatif setara, baik pejabat maupun rakyat biasa. Ini membuat bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi yang inklusif, tidak mengintimidasi, dan nyaman digunakan oleh siapa saja.
4. Bahasa Indonesia sebagai Modal Sosial dan Ekonomi
Di era modern, kemampuan berbahasa Indonesia seringkali menjadi syarat utama untuk mendapatkan pekerjaan, mengakses layanan publik, atau mengikuti proses pendidikan. Bagi banyak keluarga, terutama di daerah - daerah terpencil, mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak berarti memberi mereka peluang yang lebih besar untuk maju. Inilah yang mendorong banyak keluarga dari berbagai etnis untuk menggunakan bahasa Indonesia di rumah, bahkan kadang mengorbankan penggunaan bahasa daerah.
Fungsi bahasa Indonesia tidak hanya simbolik, tapi juga sangat praktis. Bahasa ini menjadi jembatan mobilitas sosial dan alat utama untuk menjangkau peluang ekonomi lintas wilayah.
5. Bahasa Indonesia dan Tantangan Masa Depan
Meski keberhasilan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu sudah terbukti, bukan berarti tantangannya selesai. Hari ini, justru muncul kekhawatiran terhadap menurunnya penggunaan bahasa daerah. Banyak generasi muda yang hanya bisa berbahasa Indonesia, sementara bahasa ibu mereka mulai ditinggalkan.
Idealnya, masyarakat Indonesia bisa menjadi bilingual atau bahkan multilingual: fasih berbahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, namun tetap memelihara bahasa daerah sebagai identitas budaya. Inilah tantangan kita bersama menjaga keseimbangan antara persatuan dan keberagaman.
Penutup
Keberhasilan bahasa Indonesia menyatukan ratusan etnis adalah kisah sukses yang patut dirayakan. Ini bukan hasil kebetulan, tetapi buah dari semangat persatuan, kebijakan yang konsisten, serta peran aktif masyarakat sendiri. Bahasa Indonesia menjadi bukti bahwa perbedaan bisa dijembatani, bukan untuk diseragamkan, tapi untuk disatukan dalam semangat kebangsaan.
Maka tak heran jika hampir semua orang, dari berbagai suku, merasa nyaman berbicara dalam bahasa Indonesia. Bukan karena terpaksa, tapi karena merasa memiliki.
