Ramai Namanya, Sepi Kerja Samanya

Pelajar kelas XII dari SMA Santa Ursula Jakarta yang memiliki ketertarikan pada dunia sastra dan humaniora
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Angelica Valentina Sutanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tugas kelompok seharusnya mempertemukan berbagai ide, bukan sekadar berbagai nama dalam satu lembar tugas. Namun, dalam praktiknya, kerja kelompok sering berhenti pada pembagian tugas, lalu masing-masing anggota bekerja sendiri tanpa banyak berinteraksi. Hasil akhirnya memang dapat terlihat sebagai satu kesatuan, tetapi proses di baliknya belum tentu mencerminkan kerja sama. Jika yang menjadi perhatian hanya tugas yang selesai, tujuan untuk melatih kemampuan berkolaborasi justru dapat terabaikan. Padahal, pengalaman bekerja dalam kelompok seharusnya memberi ruang bagi siswa untuk bertukar pendapat, saling membantu, dan belajar bertanggung jawab terhadap tujuan bersama. Tanpa proses tersebut, tugas kelompok hanya menjadi pekerjaan individu yang dikumpulkan dalam satu hasil.
Pembagian tugas belum tentu merupakan kerja sama. Dalam pembelajaran, kerja kelompok seharusnya tidak hanya berfokus pada penyelesaian tugas, tetapi juga memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dan saling belajar. Hal ini sejalan dengan penerapan Kurikulum Merdeka yang mendorong pembelajaran yang relevan dan interaktif melalui berbagai kegiatan berbasis proyek, termasuk kegiatan yang melatih siswa bekerja dalam kelompok dan menghasilkan karya. Namun dalam praktiknya, siswa lebih sering langsung membagi tugas dan mengerjakan bagian masing-masing. Salah satu siswa bahkan menilai bahwa pembagian tugas saja belum cukup disebut kerja sama karena masih diperlukan diskusi, pertukaran ide, dan saling membantu. Artinya, adanya pembagian pekerjaan belum otomatis menunjukkan adanya kolaborasi.
Beban pekerjaan juga sering kali tidak seimbang. Ketika setiap anggota hanya berfokus pada bagian masing-masing, pembagian tanggung jawab dapat menjadi kurang terkontrol. Kondisi ketika beberapa anggota mengerjakan lebih banyak dibandingkan anggota lainnya cukup sering terjadi. Padahal, kemampuan bekerja sama bukan hanya tentang menyelesaikan bagian yang diberikan, tetapi juga melibatkan tanggung jawab bersama terhadap hasil kelompok. Dalam konteks pendidikan, kemampuan kolaborasi memang menjadi salah satu kompetensi yang ditekankan dalam arah kebijakan kurikulum saat ini. Karena itu, pembagian tugas perlu disertai dengan komunikasi dan pengawasan bersama agar beban pekerjaan tidak hanya bertumpu pada anggota tertentu.
Sistem penilaian juga ikut memengaruhi kerja sama. Dalam pelaksanaan tugas kelompok, perbedaan tingkat usaha dan keterlibatan antaranggota dapat menyebabkan nilai yang sama belum tentu mencerminkan kontribusi yang diberikan oleh setiap anggota selama proses pengerjaan tugas. Memang, pemberian nilai yang sama dapat mendorong siswi untuk saling membantu dan merasa memiliki tanggung jawab terhadap hasil kelompok. Namun, tanpa penilaian terhadap proses dan kontribusi masing-masing, siswi yang aktif dapat memperoleh hasil yang sama dengan siswi yang kurang berpartisipasi. Padahal, proses kerja kelompok juga penting untuk melihat apakah setiap anggota benar-benar terlibat, berdiskusi, dan menjalankan tanggung jawabnya. Karena itu, penilaian tugas kelompok sebaiknya tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga mempertimbangkan proses dan kontribusi setiap anggota agar nilai yang diberikan lebih mencerminkan keterlibatan mereka dalam kerja sama.
Model Jigsaw dari Cooperative Learning yang sesuai dengan penerapan Kurikulum Merdeka dapat menjadi salah satu solusi. Siswa mendalami satu bagian materi dalam kelompok ahli, lalu kembali ke kelompok awal untuk membagikan pemahamannya kepada anggota lain. Dengan cara ini, setiap anggota memiliki tanggung jawab dan kontribusi yang jelas terhadap hasil kelompok. Model ini juga mendorong siswa untuk saling menjelaskan, mendengarkan pendapat, dan memahami bahwa keberhasilan kelompok tidak hanya bergantung pada satu orang. Dengan demikian, kerja kelompok dapat menjadi proses belajar bersama, bukan sekadar pembagian pekerjaan.
Pada akhirnya, tugas kelompok tetap bisa menjadi sarana melatih kerja sama, tetapi sekadar memberi tugas secara berkelompok tidaklah cukup. Guru perlu melihat proses diskusi, pembagian tanggung jawab, dan kontribusi setiap anggota, sementara siswa juga perlu benar-benar berdiskusi dan saling membantu. Penilaian yang memperhatikan proses juga dapat membuat setiap anggota lebih terdorong untuk berpartisipasi. Dengan begitu, tugas kelompok tidak hanya menghasilkan tugas yang selesai, tetapi juga melatih kemampuan siswa untuk berkomunikasi, bertanggung jawab, menghargai kontribusi teman, dan bekerja menuju tujuan yang sama. Sebab, tugas kelompok seharusnya membuat siswa belajar bersama, bukan hanya mengerjakan tugas secara bersamaan.
Oleh: Angelica Valentina Sutanto & Viona Jocelynn Manullang
