Konten dari Pengguna

Ketika Mendapatkan Pekerjaan Menjadi Sebuah Kemewahan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Angelina Komala tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi persaingan dan ketidakpastian dunia kerja bagi lulusan baru. Generated by ChatGPT.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi persaingan dan ketidakpastian dunia kerja bagi lulusan baru. Generated by ChatGPT.

Semakin dekat dengan kelulusan, semakin sering saya memikirkan kehidupan setelah kuliah. Dulu, rasanya sederhana saja. Belajar dengan baik, mencari pengalaman, mengikuti organisasi, menambah keterampilan, lalu lulus dan mendapatkan pekerjaan. Saya tahu mencari kerja tidak akan mudah, tetapi saya selalu berpikir bahwa selama kita mau berusaha dan terus mengembangkan diri, akan ada jalan yang bisa ditempuh.

Sekarang, saya tidak lagi seyakin itu.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir, saya mulai memperhatikan apa yang terjadi di pasar tenaga kerja dengan perasaan yang berbeda. Berita tentang perusahaan yang mengurangi karyawan, persaingan mendapatkan pekerjaan yang semakin ketat, hingga banyaknya orang yang harus bersaing untuk satu posisi membuat saya bertanya-tanya tentang masa depan yang sebentar lagi akan saya hadapi. Saya belum benar-benar terjun ke dunia kerja, tetapi terkadang rasanya saya sudah harus bersiap menghadapi berbagai ketidakpastian di dalamnya.

Pada Oktober 2026, misalnya, Microsoft menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 60.000 karyawan yang memenuhi kriteria, di tengah upaya pengendalian biaya dan investasi besar-besaran di bidang kecerdasan buatan (AI). Program tersebut bukan pemecatan langsung terhadap 60.000 orang. Namun, bagi saya, peristiwa ini tetap menggambarkan bagaimana perusahaan besar sekalipun terus menata ulang kebutuhan tenaga kerjanya. Jika perusahaan sebesar itu melakukan perubahan, saya pun bertanya-tanya: bagaimana nasib orang-orang yang bahkan belum memiliki pengalaman kerja yang cukup untuk memulai kariernya?

Kekhawatiran ini terasa semakin nyata ketika melihat kondisi di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 20–24 tahun mencapai 14,35 persen pada 2025, jauh di atas angka nasional sebesar 4,85 persen. Angka tersebut mencakup seluruh angkatan kerja dalam kelompok usia itu, bukan hanya lulusan perguruan tinggi. Meski demikian, bagi saya, data ini cukup untuk mengingatkan bahwa menyelesaikan pendidikan tidak serta-merta membuat seseorang mudah mendapatkan pekerjaan.

Ketika kesempatan menjadi sesuatu yang sulit ditolak

Di tengah situasi tersebut, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya: posisi tawar pencari kerja.

Saya melihat bagaimana pengalaman magang menjadi salah satu hal yang semakin penting bagi mahasiswa. Kita diminta memiliki pengalaman sebelum melamar pekerjaan, sementara untuk mendapatkan pengalaman itu sendiri, kita harus bersaing dengan banyak orang. Kita pun mulai mengumpulkan berbagai hal yang dianggap bisa membuat CV lebih menarik, berharap satu pengalaman akan membuka pintu menuju kesempatan berikutnya.

Gambaran persaingan ini terlihat dari Program MagangHub yang diselenggarakan pemerintah. Pada Angkatan II Batch 1 tahun 2026, tercatat 732.483 pendaftar untuk 54.304 kuota peserta. Dari jumlah tersebut, 226.719 orang yang memenuhi persyaratan mengajukan lebih dari 547 ribu lamaran ke berbagai posisi. Artinya, kesempatan yang tersedia masih harus diperebutkan oleh jumlah pencari pengalaman yang jauh lebih besar.

Angka tersebut membuat saya berpikir bahwa bahkan untuk mendapatkan kesempatan magang, mahasiswa harus melalui persaingan yang tidak sederhana. Padahal, magang sering kali menjadi salah satu pintu awal untuk memasuki dunia profesional.

Saya tidak menganggap magang sebagai sesuatu yang buruk. Justru, pengalaman tersebut penting untuk membantu mahasiswa memahami dunia profesional. Namun, saya mulai mempertanyakan apa yang terjadi ketika kebutuhan akan pengalaman membuat seseorang bersedia menerima hampir semua tawaran yang tersedia.

Bayangkan ada sebuah posisi magang dengan uang saku yang relatif kecil, tetapi jumlah pelamarnya sangat banyak. Bagi mahasiswa yang belum memiliki penghasilan sendiri, kesempatan itu mungkin tetap terasa berharga. Ada pengalaman yang bisa dicantumkan di CV, keterampilan yang bisa dipelajari, dan harapan untuk direkrut setelah masa magang berakhir. Menolak tawaran tersebut mungkin terasa seperti mengambil risiko kehilangan kesempatan yang belum tentu datang lagi.

Di sisi lain, kondisi ini tentu membuat perusahaan memiliki banyak pilihan kandidat. Ketika ada begitu banyak orang yang bersedia menerima tawaran demi memperoleh pengalaman, perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk menentukan biaya yang ingin dikeluarkan.

Saya tidak ingin menyamaratakan semua perusahaan. Ada perusahaan yang benar-benar memberikan bimbingan, pengalaman, dan kesempatan belajar melalui program magangnya. Namun, saya khawatir ketika kebutuhan mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman justru membuka ruang bagi praktik yang tidak seimbang: tanggung jawabnya besar, pekerjaannya menyerupai pekerjaan reguler, tetapi kompensasinya jauh dari sepadan.

Bukankah ada sesuatu yang ironis ketika kita harus bekerja keras membuktikan bahwa kita layak mendapatkan pekerjaan, tetapi pada saat yang sama harus menerima bahwa waktu dan tenaga kita mungkin tidak dihargai secara layak karena begitu banyak orang lain yang bersedia menggantikan kita?

Jadi, siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab?

Saya tahu bahwa sebagai calon pekerja, saya tidak bisa hanya mengeluh. Saya tetap harus belajar, meningkatkan keterampilan, memahami kebutuhan industri, dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan. Dunia kerja terus berubah, dan kemampuan beradaptasi memang diperlukan.

Namun, saya juga merasa ada sesuatu yang keliru ketika setiap persoalan pasar tenaga kerja selalu dikembalikan kepada individu. Jika sulit mendapatkan pekerjaan, kita diminta meningkatkan keterampilan. Jika belum memiliki pengalaman, kita diminta mengikuti magang. Jika belum mendapatkan tawaran yang baik, kita diminta bersabar dan terus mencoba.

Semua saran itu masuk akal. Saya pun sedang berusaha melakukannya. Akan tetapi, sampai kapan persoalan ini dianggap semata-mata sebagai tanggung jawab pencari kerja?

Sebanyak apa pun keterampilan yang dimiliki seseorang, ia tetap membutuhkan kesempatan untuk menggunakannya. Persaingan yang sehat seharusnya mendorong orang untuk berkembang, bukan membuat mereka merasa harus menerima kondisi apa pun hanya agar tidak tertinggal. Perusahaan memang perlu menjaga efisiensi, tetapi efisiensi juga seharusnya tidak menghilangkan pertimbangan tentang kelayakan dan penghargaan terhadap tenaga kerja. Pemerintah pun memiliki peran dalam memastikan tersedianya lapangan kerja serta perlindungan yang memadai.

Saya tidak berharap setelah lulus nanti semuanya akan berjalan mudah. Saya juga tidak merasa bahwa gelar sarjana otomatis membuat saya berhak mendapatkan gaji tinggi atau posisi yang bagus. Saya memahami bahwa pengalaman harus dibangun dan kemampuan harus dibuktikan.

Yang saya harapkan hanyalah kesempatan untuk berkembang tanpa harus menganggap kompensasi yang tidak layak sebagai harga yang wajar untuk memulai karier.

Sebab, bagi saya, ada perbedaan antara bersedia memulai dari bawah dan harus menerima apa pun karena takut tidak mendapatkan kesempatan lain. Ada perbedaan antara belajar sebagai peserta magang dan menjalankan pekerjaan dengan tanggung jawab besar tanpa penghargaan yang sepadan.

Saya masih akan terus mempersiapkan diri. Saya akan tetap berusaha menjadi kandidat yang lebih baik, karena pada akhirnya masa depan saya juga membutuhkan usaha dari diri sendiri. Namun, saya berharap dunia kerja yang akan saya masuki tidak hanya menuntut calon pekerjanya untuk terus meningkatkan kualitas diri, tetapi juga bersedia menghargai kualitas tersebut.

Mungkin saya belum memiliki cukup pengalaman untuk memahami seluruh persoalan pasar tenaga kerja. Namun, sebagai seseorang yang sebentar lagi akan menjadi bagian darinya, saya rasa wajar jika saya mempertanyakan kondisi yang sedang saya lihat.

Kami diminta siap kerja. Kami diminta terus belajar, beradaptasi, dan menjadi lebih kompetitif. Namun, ketika kami akhirnya siap, apakah dunia kerja juga siap memberikan kesempatan dan membayar kami dengan layak?