Konten dari Pengguna

Ilmu Pengetahuan di Era AI: Menimbang Etika di Tengah Kemajuan Teknologi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anggun Najla Fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Artificial Intelligence by ai
zoom-in-whitePerbesar
Artificial Intelligence by ai

Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan, menyelesaikan pekerjaan, dan mengambil keputusan. Dalam hitungan detik, AI dapat membantu menyusun tulisan, merangkum buku, menganalisis data, hingga menghasilkan gambar yang menyerupai kenyataan. Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuka peluang yang semakin luas bagi kehidupan manusia. Namun, di balik berbagai kemudahan itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah segala sesuatu yang mampu dilakukan manusia melalui teknologi selalu layak untuk dilakukan?

Pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab melalui sudut pandang kemajuan teknologi. Kita perlu melihatnya melalui aksiologi ilmu, yaitu kajian filsafat yang membahas nilai, manfaat, dan tujuan penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam perspektif ini, ilmu tidak hanya berkaitan dengan apa yang dapat diketahui manusia, tetapi juga bagaimana pengetahuan digunakan dan untuk kepentingan siapa pengetahuan tersebut dikembangkan. Aksiologi mengingatkan bahwa kemajuan ilmu seharusnya tidak berhenti pada pencapaian kemampuan teknis, tetapi juga mempertimbangkan tanggung jawab moral dan dampaknya terhadap kehidupan manusia.

Ketika Kemampuan Tidak Lagi Diimbangi Kebijaksanaan

AI menawarkan berbagai kemudahan yang sebelumnya membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar. Dalam dunia pendidikan, misalnya, AI dapat membantu peserta didik memahami konsep yang sulit, mencari inspirasi, dan memperoleh penjelasan alternatif. Bagi pendidik, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk merancang bahan ajar dan mengembangkan pengalaman belajar yang lebih beragam. Jika digunakan secara tepat, AI berpotensi memperluas akses terhadap pengetahuan.

Namun, persoalan muncul ketika kemudahan tersebut membuat manusia menyerahkan seluruh proses berpikir kepada teknologi. Peserta didik dapat menghasilkan tugas tanpa benar-benar memahami isinya. Informasi yang belum terverifikasi dapat diterima sebagai kebenaran hanya karena disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan. Bahkan, kemampuan menghasilkan konten yang tampak autentik dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi palsu atau memanipulasi opini publik.

UNESCO melalui Guidance for Generative AI in Education and Research menyoroti pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia dalam penggunaan AI untuk pendidikan dan penelitian. Panduan tersebut juga menekankan perlindungan data, validasi penggunaan teknologi, serta pertimbangan etis dan pedagogis dalam penerapannya (Miao & Holmes, 2023). Hal ini memperlihatkan bahwa persoalan AI tidak cukup diselesaikan dengan meningkatkan keterampilan teknis penggunanya. Manusia juga perlu memiliki kemampuan untuk menilai informasi, memahami keterbatasan teknologi, dan mempertimbangkan konsekuensi dari penggunaannya.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan menghasilkan sesuatu tidak selalu sejalan dengan kemampuan menilai apakah sesuatu itu benar, baik, atau bermanfaat. AI dapat menghasilkan jawaban, tetapi manusia tetap perlu memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks, dan mempertimbangkan konsekuensi penggunaannya. Teknologi dapat membantu proses berpikir, tetapi tidak semestinya menghilangkan tanggung jawab manusia untuk berpikir secara kritis.

Aksiologi Ilmu: Bukan Hanya tentang Manfaat, tetapi Juga Tanggung Jawab

Dalam perspektif aksiologi, ilmu pengetahuan tidak dapat dilepaskan dari persoalan nilai. Sebuah pengetahuan mungkin benar secara ilmiah dan sebuah teknologi mungkin berhasil secara teknis, tetapi keduanya masih perlu dinilai berdasarkan tujuan dan dampak penggunaannya. Pertanyaannya bukan hanya apakah teknologi tersebut bekerja, melainkan apakah penggunaannya memberikan manfaat, menghormati martabat manusia, dan meminimalkan kerugian.

Kajian Kallabe, Munir, dan Ismail tahun 2025 tentang nilai dan etika ilmu pengetahuan dalam perspektif aksiologi menegaskan pentingnya tanggung jawab moral dan sosial dalam praktik keilmuan. Ilmu tidak cukup berorientasi pada kebenaran dan kemajuan intelektual, tetapi juga perlu diarahkan pada kesejahteraan manusia. Pemikiran ini relevan untuk melihat perkembangan AI yang semakin luas penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, kemampuan AI untuk mengolah data dapat membantu berbagai bidang kehidupan. Akan tetapi, jika teknologi tersebut digunakan tanpa memperhatikan privasi, menghasilkan keputusan yang diskriminatif, atau menyebarkan informasi yang menyesatkan, kemajuan teknis justru dapat menimbulkan persoalan baru. Artinya, keberhasilan teknologi tidak cukup diukur berdasarkan kecepatan, efisiensi, atau kecanggihannya. Ada nilai kemanusiaan yang juga harus menjadi pertimbangan.

UNESCO melalui Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence menempatkan martabat manusia, hak asasi manusia, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas sebagai bagian penting dari etika AI. Rekomendasi tersebut juga menekankan bahwa tanggung jawab akhir atas keputusan dan tindakan yang melibatkan sistem AI tetap harus dapat dipertanggungjawabkan oleh manusia sesuai dengan perannya (UNESCO, 2021).

Di sinilah etika menjadi bagian penting dalam penggunaan ilmu. Pengetahuan memberikan kemampuan untuk melakukan sesuatu, sedangkan pertimbangan etis membantu manusia menentukan apakah tindakan tersebut patut dilakukan. Tanpa pertimbangan nilai, ilmu berisiko diperlakukan hanya sebagai alat untuk mencapai tujuan, tanpa memperhatikan siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung akibatnya.

Pendidikan di Tengah Kemudahan AI

Persoalan aksiologi ilmu menjadi semakin penting dalam dunia pendidikan. Kehadiran AI seharusnya mendorong perubahan cara belajar, bukan sekadar mempercepat penyelesaian tugas. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan jawaban yang benar, tetapi juga membentuk kemampuan berpikir kritis, kejujuran akademik, tanggung jawab, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Penggunaan AI dalam pembelajaran, misalnya, dapat diarahkan untuk membantu peserta didik membandingkan berbagai perspektif, menguji argumen, dan memperdalam pemahaman. Namun, penggunaan tersebut perlu disertai kemampuan memverifikasi informasi dan kesadaran untuk tidak mengakui hasil kerja teknologi sebagai hasil pemikiran pribadi sepenuhnya. Pendidik juga perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk menjelaskan proses berpikirnya, bukan hanya menilai produk akhir yang dikumpulkan.

Dalam konteks ini, persoalan utamanya bukan apakah peserta didik menggunakan AI, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam proses belajar. Ketika AI dimanfaatkan untuk meminta penjelasan tambahan, menguji pemahaman, atau memperoleh umpan balik, teknologi dapat menjadi sarana pendukung pembelajaran. Sebaliknya, ketika AI digunakan untuk menggantikan seluruh proses membaca, menganalisis, dan menyusun argumen, kesempatan untuk mengembangkan kemampuan intelektual justru dapat berkurang.

Karena itu, pendidikan perlu membangun literasi AI yang tidak hanya mencakup keterampilan mengoperasikan teknologi, tetapi juga kemampuan mengevaluasi hasilnya, memahami risikonya, dan menggunakannya secara bertanggung jawab. AI tidak harus dipandang sebagai ancaman terhadap pendidikan. Tantangannya terletak pada bagaimana lembaga pendidikan memanfaatkan teknologi tanpa mengabaikan integritas dan kemandirian intelektual.

Mengembalikan Orientasi Ilmu kepada Kemaslahatan

Pada akhirnya, perkembangan AI mengajak manusia untuk meninjau kembali tujuan ilmu pengetahuan. Kecanggihan teknologi bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana yang seharusnya diarahkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Karena itu, pengembangan dan penggunaan AI perlu disertai transparansi, perlindungan terhadap privasi, evaluasi risiko, serta tanggung jawab dari pihak yang merancang maupun menggunakannya.

Tanggung jawab tersebut tidak dapat dibebankan kepada teknologi semata. Pengembang perlu mempertimbangkan dampak sistem yang dibuatnya, lembaga perlu menetapkan aturan penggunaan yang bertanggung jawab, dan pengguna perlu bersikap kritis terhadap informasi yang diterima. Kolaborasi ini penting agar kemajuan teknologi tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi juga memperhatikan kepentingan masyarakat secara luas.

Dalam konteks yang lebih luas, aksiologi ilmu mengajak kita untuk tidak memisahkan kecerdasan dari kebijaksanaan. Kecerdasan memungkinkan manusia menemukan cara baru untuk menyelesaikan masalah, sedangkan kebijaksanaan membantu menentukan tujuan yang patut dicapai. Tanpa orientasi nilai, pengetahuan berisiko menjadi instrumen yang digunakan semata-mata untuk memenuhi kepentingan tertentu. Sebaliknya, ketika ilmu disertai tanggung jawab moral, kemajuan teknologi dapat diarahkan untuk memperluas manfaat dan mengurangi dampak buruk bagi masyarakat.

Maka, pertanyaan apakah semua yang bisa dilakukan berarti layak dilakukan harus menjadi bahan refleksi bersama di era AI. Manusia tidak perlu menolak kemajuan teknologi, tetapi juga tidak seharusnya menerima setiap kemajuan tanpa pertimbangan. Sebab, ukuran kemajuan yang sesungguhnya bukan hanya terletak pada kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, melainkan pada kebijaksanaan dalam menentukan untuk apa kemampuan itu digunakan.