Konten dari Pengguna

Mengangkat Jamu Tradisional melalui Inovasi dan Strategi Pemasaran

Kurnia Aning Pratiwi

Kurnia Aning Pratiwi

Mahasiswa UMY

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kurnia Aning Pratiwi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jamu merupakan salah satu warisan tradisional Indonesia yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk yang bernilai ekonomi. Namun, di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan perlu memiliki strategi pemasaran yang tepat agar produk tradisional tetap diminati oleh masyarakat. Perubahan selera konsumen juga membuat perusahaan harus mampu menyesuaikan produknya dengan kebutuhan pasar tanpa meninggalkan ciri khas yang dimiliki.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk menjadi salah satu contoh perusahaan yang menarik untuk dipelajari dalam bidang Manajemen Pemasaran. Perusahaan ini menunjukkan bahwa produk tradisional tidak hanya dapat dipertahankan, tetapi juga dapat dikembangkan melalui inovasi produk dan penguatan merek. Hal tersebut penting bagi dunia usaha karena keberhasilan pemasaran tidak hanya bergantung pada produk yang dijual, tetapi juga pada kemampuan perusahaan memahami kebutuhan konsumen dan membangun kepercayaan terhadap produknya.

Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Mengenal Perkembangan dan Strategi Pemasaran Sido Muncul

Pada tanggal 12 Oktober 2026, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk mempelajari penerapan ilmu manajemen dalam dunia industri. khuususnya mengenai pengembangan produk dan strategi pemasaran.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri jamu dan farmasi. Perusahaan ini berawal dari usaha peracikan jamu tradisional yang didirikan oleh pasangan Siem Thiam Hie dan Rakhmat Sulistio pada tahun 1930. Seiring perkembangannya, Sido Muncul tumbuh menjadi perusahaan modern dengan berbagai produk herbal yang dikenal masyarakat, salah satunya Tolak Angin. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa usaha yang berawal dari tradisi dapat berkembang menjadi bisnis berskala besar melalui pengelolaan yang berkelanjutan.

Salah satu hal menarik dari perkembangan Sido Muncul adalah inovasi produknya. Tolak Angin yang awalnya dipasarkan dalam bentuk godokan kemudian dikembangkan menjadi bentuk cair pada tahun 1992. Perubahan ini membuat produk lebih praktis untuk dikonsumsi dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat modern. Selain itu, pada tahun 2024, Sido Muncul meluncurkan Tolak Angin Batuk sebagai salah satu varian baru. Pengembangan tersebut menunjukkan pentingnya menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen agar perusahaan dapat mempertahankan daya tarik produknya di tengah persaingan pasar.

Perkembangan bisnis Sido Muncul juga terlihat dari data penjualannya. Perusahaan mencatat penjualan sebesar Rp3,92 triliun pada tahun 2024, meningkat dari Rp3,57 triliun pada tahun 2023. Segmen jamu herbal dan suplemen menyumbang sekitar Rp2,49 triliun atau 63% dari total penjualan. Data ini menunjukkan bahwa produk herbal masih menjadi bagian penting dalam bisnis perusahaan. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa produk tradisional memiliki peluang pasar yang besar apabila dikembangkan dengan memperhatikan kualitas, kebutuhan konsumen, dan strategi pemasaran yang tepat.

Membangun Daya Tarik Jamu melalui Inovasi dan Citra Merek

Dari perspektif Manajemen Pemasaran, perkembangan Sido Muncul menunjukkan pentingnya memahami kebutuhan konsumen dalam mengembangkan produk. Inovasi Tolak Angin dari bentuk godokan menjadi bentuk cair merupakan contoh penyesuaian produk agar lebih praktis digunakan. Hal ini berkaitan dengan nilai pelanggan, yaitu manfaat yang dirasakan konsumen dari suatu produk. Produk yang mampu memberikan manfaat sekaligus kemudahan penggunaan berpeluang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Selain itu, pengembangan berbagai varian produk menunjukkan upaya perusahaan dalam menyediakan pilihan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Dalam pemasaran, perusahaan perlu memahami bahwa setiap konsumen dapat memiliki kebutuhan dan preferensi yang berbeda. Oleh karena itu, pengembangan produk perlu dilakukan dengan mempertimbangkan perubahan selera dan kebutuhan pasar, bukan hanya mengikuti produk yang sudah ada.

Identitas merek juga menjadi hal penting dalam pemasaran produk herbal. Nama Tolak Angin yang dikenal masyarakat dapat menjadi salah satu kekuatan perusahaan dalam memperkenalkan produknya kepada konsumen. Namun, pengenalan merek perlu didukung oleh kualitas produk yang konsisten agar kepercayaan konsumen tetap terjaga. Perusahaan juga perlu menyampaikan informasi produk secara jelas dan melakukan promosi yang sesuai dengan karakteristik target pasarnya.

Data penjualan Sido Muncul pada tahun 2024 memperlihatkan besarnya kontribusi segmen jamu herbal dan suplemen terhadap bisnis perusahaan. Meskipun data tersebut tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa peningkatan penjualan disebabkan oleh strategi pemasaran tertentu, angka tersebut menunjukkan pentingnya segmen herbal bagi perusahaan. Oleh karena itu, Sido Muncul perlu terus menjaga kualitas, mengembangkan produk, dan memahami perubahan perilaku konsumen agar mampu mempertahankan posisinya di pasar.

Bagi mahasiswa Manajemen, perkembangan Sido Muncul memberikan gambaran bahwa pemasaran bukan hanya kegiatan menawarkan produk kepada konsumen. Pemasaran juga mencakup proses memahami kebutuhan pasar, menciptakan nilai bagi pelanggan, membangun identitas merek, dan menjaga hubungan dengan konsumen. Produk tradisional dapat memiliki daya saing apabila perusahaan mampu menghubungkan keunikan yang dimiliki dengan kebutuhan masyarakat saat ini.