Membaca Perundungan lewat Teori Konflik

Sebagai mahasiswa Pendidikan Sosiologi di Universitas Negeri Jakarta, saya percaya bahwa setiap fenomena sosial adalah cerita yang layak untuk diungkap.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Anissatul Hassanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah memiliki peran penting dalam membentuk cara anak berpikir dan berhubungan dengan orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari pelajaran di kelas tapi juga belajar menghargai perbedaan, menaati aturan, dan menyelesaikan masalah bersama sehingga menghasilkan hubungan antar siswa yang sebenarnya menjadi bagian penting dari proses tersebut. Sayangnya, kehidupan di sekolah tidak selalu menunjukkan hubungan yang sehat. Sebagian siswa masih mengalami ejekan, ancaman, pengucilan, bahkan kekerasan fisik dari teman sebaya atau siswa lain yang memiliki posisi lebih kuat.
Perundungan sering dianggap sebagai kenakalan anak yang bisa selesai melalui teguran atau permintaan maaf. Pandangan tersebut dapat membuat masalah terlihat lebih sederhana daripada kenyataannya. Perundungan juga berkaitan dengan cara seseorang menggunakan kekuatan untuk mengendalikan orang lain. Teori konflik dalam sosiologi dapat membantu menjelaskan keadaan ini, terutama ketika terdapat ketimpangan kuasa dalam hubungan antar siswa.
Ketika Perbedaan Posisi Menjadi Masalah
Teori konflik melihat kehidupan masyarakat sebagai hubungan yang diwarnai perbedaan kepentingan dan kekuasaan. Pemikiran Karl Marx banyak membahas ketimpangan antara kelompok yang memiliki kendali atas sumber daya dan kelompok yang berada dalam posisi lebih lemah. Gagasan mengenai ketimpangan tersebut dapat digunakan untuk mengkaji kehidupan sekolah meskipun hubungan antar siswa tentu berbeda dari hubungan kelas sosial dalam pemikiran Marx.
Di sekolah, posisi siswa dapat dipengaruhi oleh usia, tingkat kelas, kekuatan fisik, dan hubungan pertemanan. Siswa yang memiliki banyak teman mungkin lebih mudah memperoleh dukungan ketika menghadapi konflik. Siswa yang lebih muda juga bisa merasa kesulitan menghadapi kakak kelas yang dianggap lebih kuat. Perbedaan posisi ini tidak otomatis menimbulkan perundungan. Masalah muncul ketika seseorang menggunakan kelebihannya untuk mengancam, mempermalukan, atau menyakiti orang lain.
Teori konflik membantu kita melihat bahwa perundungan tidak selalu berhenti pada persoalan sifat atau perilaku individu. Hubungan sosial di sekitar siswa juga perlu diperhatikan karena ketika seorang anak merasa bebas menekan temannya sedangkan korban merasa tidak mampu melawan, hubungan keduanya sudah menunjukkan ketimpangan kuasa. Kondisi tersebut perlu ditangani agar perbedaan posisi tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk memperlakukan orang lain secara sewenang-wenang.
Kasus Pemalang dan Persoalan Keamanan di Sekolah
Persoalan ini menjadi lebih serius ketika kekerasan terjadi di lingkungan pendidikan dan menimbulkan dampak yang berat. BBC News Indonesia memberitakan kasus seorang siswa sekolah dasar berusia tujuh tahun di Pemalang, Jawa Tengah yang meninggal dunia setelah diduga mengalami kekerasan oleh kakak kelasnya pada 30 September 2026 lalu. Berita tersebut juga memuat keterangan keluarga mengenai respons sekolah terhadap laporan yang mereka sampaikan. Peristiwa ini kemudian menjadi perhatian publik dan ditangani oleh pihak berwenang.
Kasus tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena dugaan kekerasan dan tanggung jawab setiap pihak harus diperiksa berdasarkan bukti. Meski demikian, pemberitahuan ini membuka pertanyaan penting tentang perlindungan siswa di sekolah. Bagaimana sekolah mengenali tanda-tanda kekerasan? Apakah siswa memiliki tempat yang aman untuk melapor? Bagaimana pihak sekolah menangani laporan dari anak maupun orang tua?
Dari sudut pandang teori konflik, dugaan kekerasan yang melibatkan kakak kelas dan siswa yang lebih muda dapat dikaji melalui perbedaan posisi di antara mereka. Usia dan kekuatan fisik mungkin mempengaruhi cara siswa berinteraksi. Namun jika kita lihat, perbedaan tersebut tidak cukup untuk menjelaskan penyebab kejadian secara keseluruhan. Penyelidikan tetap diperlukan untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Analisis sosiologis digunakan untuk memahami hubungan sosial yang perlu diperhatikan bukan untuk menetapkan kesalahan seseorang sebelum proses pemeriksaan selesai.
Tanggung Jawab Sekolah dalam Menghadapi Perundungan
Sekolah memiliki aturan untuk menjaga ketertiban dan melindungi siswa. Keberadaan aturan tersebut perlu disertai tindakan yang jelas ketika terjadi dugaan kekerasan. Sekolah perlu menanggapi laporan secara serius, memeriksa informasi dari berbagai pihak, dan sebagainya. Perundungan juga bisa sulit ditangani ketika lingkungan sekitar menganggapnya sebagai candaan atau bagian dari kebiasaan senioritas. Ejekan dan tindakan kasar yang terus dibiarkan dapat membuat siswa menganggap perilaku tersebut sebagai hal biasa. Dalam keadaan seperti ini, persoalannya bukan cuma tindakan siswa yang terlibat. Sikap orang-orang di sekitarnya ikut menentukan apakah perilaku tersebut akan dihentikan atau justru terus terjadi.
Maka dari itu, sekolah perlu memiliki cara pelaporan yang mudah dipahami siswa dan tidak membuat mereka takut untuk meminta bantuan. Guru juga perlu memperhatikan interaksi antar siswa termasuk di luar kegiatan belajar di kelas. Orang tua perlu mendapat informasi yang jelas ketika muncul dugaan kekerasan terhadap anak. Kerja sama tersebut penting agar penanganan tidak baru dilakukan setelah masalah berkembang menjadi lebih serius.
Korban Perlu Mendapat Perlindungan
Anak yang mengalami perundungan belum tentu berani menceritakan kejadian yang dialaminya. Sebagian anak mungkin takut mendapat ancaman atau khawatir membuat cemas orang tua mereka bahkan ada pula anak yang belum memahami cara menyampaikan masalahnya. Keadaan ini membuat sekolah dan keluarga perlu membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa aman ketika ingin bercerita.Dalam laporan Raja Eben Lumbanrau di BBC News Indonesia, kasus seorang siswa sekolah dasar di Pemalang yang meninggal setelah diduga mengalami kekerasan menjadi perhatian terhadap perlindungan anak di lingkungan sekolah. Terdapat keterangan keluarga mengenai kejadian yang mereka ketahui dan respons sekolah yang mereka persoalkan. Keterangan tersebut perlu dipahami sesuai informasi yang tersedia dan tidak bisa digunakan untuk menyimpulkan semua alasan korban tidak bercerita lebih awal. Meski begitu, kasus ini mengingatkan kita bahwa orang dewasa tidak seharusnya hanya menunggu anak menyampaikan masalahnya sendiri.
Tanggung jawab pencegahan juga tidak boleh dibebankan kepada korban. Anak tidak seharusnya dituntut untuk selalu berani melawan atau menghadapi pelaku seorang diri. Sekolah perlu memastikan bahwa siswa dapat meminta bantuan tanpa takut mengalami ancaman atau kekerasan lanjutan. Perlindungan yang baik dimulai dari kesediaan orang dewasa untuk mendengarkan, memeriksa laporan, dan mengambil langkah yang sesuai.
Membangun Hubungan yang Lebih Aman di Sekolah
Teori konflik menunjukkan bahwa perundungan dapat berkaitan dengan ketimpangan kuasa dalam hubungan sosial. Perspektif ini mengajak kita memperhatikan alasan seseorang dapat mendominasi orang lain dan bagaimana lingkungan sekolah merespons tindakan tersebut. Penanganan perundungan tidak cukup dengan memberikan nasihat agar siswa saling menghargai. Sekolah perlu memperbaiki pengawasan, menyediakan saluran pelaporan, dan juga memberikan perlindungan perlindungan ketika siswa mengalami perundungan.
Siswa yang diduga melakukan kekerasan tetap perlu ditangani sesuai ketentuan yang berlaku dan dengan mempertimbangkan usia serta hak-hak mereka. Pada saat yang sama, korban membutuhkan perlindungan dan pendampingan yang memadai. Kedua hal tersebut perlu berjalan bersama agar penanganan kasus tidak hanya berfokus pada hukuman, tetapi juga mencegah kekerasan serupa terulang.
Keberhasilan pendidikan tidak hanya terlihat dari nilai akademik atau prestasi siswa. Sekolah perlu memastikan bahwa setiap anak dapat belajar tanpa rasa takut dan memperoleh perlindungan yang setara. Ketika siswa menggunakan kekuatan untuk menekan teman, sekolah perlu hadir untuk menghentikan perilaku tersebut. Hubungan yang sehat di lingkungan pendidikan hanya dapat tumbuh jika setiap anak memahami bahwa usia, kekuatan fisik, dan kedudukan dalam kelompok tidak memberinya hak untuk merugikan orang lain.
