Riset Pasar di Era AI: Apakah Masih Penting di Tengah Melimpahnya Data?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Anisyatul Khaela tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa Riset Pasar Tetap Dibutuhkan di Tengah Perkembangan AI?
Riset pasar di era AI mengalami perubahan seiring berkembangnya teknologi dan semakin mudahnya perusahaan mendapatkan informasi tentang konsumen. Saat ini, perusahaan bisa melihat produk yang sedang populer di media sosial, membaca ulasan pembeli di marketplace, bahkan menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis kebiasaan konsumen. Informasi yang dahulu membutuhkan waktu cukup lama untuk dikumpulkan sekarang bisa diperoleh dengan lebih cepat.
Namun, ada satu hal yang menarik untuk dipertanyakan. Jika perusahaan sudah memiliki banyak data dan bisa menggunakan AI untuk menganalisisnya, apakah mereka masih perlu melakukan riset pasar secara langsung? Bukankah data yang tersedia sudah cukup untuk mengetahui apa yang diinginkan konsumen?
Pertanyaan tersebut penting karena tidak semua informasi yang ditemukan di internet bisa dijadikan dasar untuk mengambil keputusan bisnis. Produk yang ramai dibicarakan belum tentu laku di pasaran. Begitu juga dengan banyaknya komentar positif yang belum tentu menunjukkan bahwa orang benar-benar ingin membeli produk tersebut.
Oleh karena itu, perkembangan AI seharusnya tidak langsung membuat perusahaan meninggalkan riset pasar. Justru, perusahaan perlu memahami bagaimana teknologi bisa membantu mereka mengenali kebutuhan konsumen tanpa mengabaikan kondisi pasar yang sebenarnya
Perkembangan Riset Pasar di Era AI
Sebelum teknologi berkembang seperti sekarang, perusahaan umumnya mengumpulkan informasi pasar melalui survei, wawancara, observasi, dan pengamatan terhadap pesaing. Cara tersebut masih digunakan hingga saat ini, tetapi perusahaan memiliki lebih banyak pilihan untuk memperoleh dan mengolah informasi.
Sebagai contoh, pemilik usaha makanan bisa memanfaatkan AI untuk merangkum ulasan pelanggan, melihat keluhan yang sering muncul, dan mengidentifikasi jenis produk yang sedang diminati. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menentukan produk baru atau memperbaiki produk yang sudah dijual.
Perkembangan ini sejalan dengan kondisi perdagangan digital di Indonesia. Dalam publikasi Statistik E-Commerce 2023, Badan Pusat Statistik mencatat bahwa 95,33% usaha e-commerce yang disurvei menggunakan aplikasi pesan instan sebagai media penjualan online, sedangkan 33,29% menggunakan media sosial. Data ini menunjukkan bahwa media digital menjadi salah satu saluran penting bagi kegiatan usaha di Indonesia.
Meskipun demikian, data tersebut tidak berarti semua perusahaan sudah memahami kebutuhan konsumennya dengan baik. Mengetahui tempat konsumen berbelanja berbeda dengan mengetahui alasan mereka memilih suatu produk. Perusahaan tetap perlu mengolah informasi yang diperoleh dan mencari tahu apakah informasi tersebut sesuai dengan kebutuhan calon pembeli.
Mengapa Riset Pasar Masih Penting?
Banyaknya data yang tersedia tidak selalu memberikan jawaban atas semua pertanyaan perusahaan. Data penjualan, jumlah pengunjung, dan komentar pelanggan memang bisa memberikan gambaran tentang pasar, tetapi belum tentu menjelaskan alasan di balik perilaku konsumen.
Bayangkan sebuah usaha pakaian melihat jaket tertentu sedang viral di media sosial. Banyak orang menyukai video yang menampilkan jaket tersebut. Pemilik usaha kemudian beranggapan bahwa jaket itu akan laku jika diproduksi dalam jumlah besar.
Sayangnya, orang yang menyukai video belum tentu berniat membeli jaket tersebut. Ada yang hanya menyukai modelnya, ada yang tertarik tetapi tidak cocok dengan harganya, dan ada pula yang sekadar mengikuti tren. Jika pemilik usaha hanya mengandalkan jumlah tanda suka, keputusan produksinya bisa berisiko.
Di sinilah riset pasar berperan. Pemilik usaha dapat melakukan survei sederhana untuk mengetahui harga yang dianggap sesuai, menanyakan model yang paling disukai, atau mencoba menjual produk dalam jumlah terbatas sebelum memperbesar produksi.
Riset pasar juga membantu perusahaan memahami perubahan kebutuhan konsumen. Selera masyarakat bisa berubah karena tren, kondisi ekonomi, maupun pengalaman menggunakan produk tertentu. Informasi yang diperoleh beberapa bulan lalu belum tentu sepenuhnya sesuai dengan keadaan sekarang.
Bank Indonesia, misalnya, secara rutin melakukan Survei Konsumen untuk mengetahui keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini dan perkiraan kondisi ekonomi enam bulan mendatang. Hal ini memperlihatkan bahwa survei masih digunakan untuk memahami pandangan konsumen dan perubahan kondisi ekonomi.
Kelebihan AI dalam Menganalisis Pasar
Tidak bisa dimungkiri bahwa AI memberikan kemudahan dalam kegiatan riset pasar. Salah satu kelebihannya adalah kemampuan membantu mengolah informasi dalam jumlah besar dengan lebih cepat. Perusahaan tidak harus membaca satu per satu ribuan komentar pelanggan untuk menemukan keluhan yang paling sering disampaikan.
AI juga dapat membantu mengelompokkan konsumen berdasarkan pola tertentu, merangkum ulasan produk, dan menemukan topik yang sering muncul dalam percakapan di media sosial. Hasil analisis tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan ketika perusahaan menyusun strategi pemasaran.
Penelitian Pangkey, Furkan, dan Herman (2019) membahas pengaruh artificial intelligence dan digital marketing terhadap minat beli konsumen pada layanan transportasi online. Penelitian ini relevan untuk menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pemasaran telah menjadi topik kajian di Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan minat beli konsumen.
Namun, minat beli tidak selalu sama dengan pembelian yang benar-benar terjadi. Seseorang bisa tertarik terhadap suatu produk, tetapi akhirnya tidak membeli karena harga, kebutuhan, atau pertimbangan lainnya. Karena itu, hasil analisis AI perlu dilihat bersama informasi lain agar perusahaan tidak hanya mengandalkan perkiraan.
Menggabungkan AI dan Riset Pasar Langsung
Daripada memilih salah satu, perusahaan dapat menggabungkan AI dengan metode riset pasar yang sudah dikenal, seperti survei, wawancara, dan observasi. Keduanya memiliki kegunaan yang berbeda dan bisa saling melengkapi.
Sebagai contoh, sebuah usaha minuman ingin meluncurkan varian rasa baru. Pemilik usaha terlebih dahulu menggunakan AI untuk melihat tren minuman yang sedang ramai dibicarakan dan merangkum ulasan konsumen terhadap produk sejenis.
Setelah mendapatkan gambaran awal, pemilik usaha melakukan survei kepada calon pembeli. Pertanyaannya bukan hanya tentang rasa yang disukai, tetapi juga harga yang dianggap sesuai, ukuran kemasan yang diinginkan, dan alasan mereka tertarik membeli produk tersebut.
Selanjutnya, usaha tersebut bisa mencoba menjual produk dalam jumlah terbatas. Hasil penjualan kemudian dibandingkan dengan temuan dari analisis AI dan survei. Jika ternyata banyak orang tertarik mencoba tetapi sedikit yang membeli kembali, perusahaan dapat mencari tahu penyebabnya sebelum memutuskan untuk memperbesar produksi.
Cara ini membuat keputusan bisnis tidak hanya bergantung pada tren, tetapi juga mempertimbangkan tanggapan konsumen dan perilaku pembelian yang sebenarnya.
Dengan demikian, AI dapat membantu perusahaan menemukan peluang lebih cepat, sedangkan riset langsung membantu memeriksa apakah peluang tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar.
Kesimpulan
Riset pasar di era AI masih penting meskipun perusahaan sekarang memiliki akses terhadap data yang semakin beragam. AI memang membantu mempercepat analisis, menemukan pola, dan memberikan gambaran awal mengenai perilaku konsumen. Namun, data yang melimpah tidak otomatis menjamin bahwa keputusan bisnis yang diambil akan tepat.
Produk yang viral belum tentu menghasilkan penjualan tinggi. Banyaknya komentar positif juga belum tentu menunjukkan bahwa konsumen akan membeli produk tersebut. Perusahaan tetap perlu memahami alasan di balik keputusan konsumen agar dapat menentukan strategi yang sesuai.
Oleh karena itu, riset pasar sebaiknya tidak ditinggalkan, tetapi dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi. AI dapat digunakan untuk mengolah data dan menemukan peluang, sedangkan survei, wawancara, dan observasi membantu perusahaan memahami kondisi konsumen secara lebih mendalam.
Pada akhirnya, keberhasilan perusahaan bukan hanya ditentukan oleh seberapa banyak data yang dimiliki, tetapi juga oleh bagaimana data tersebut digunakan. Sebab, mengetahui apa yang sedang ramai dibicarakan tidak selalu sama dengan memahami apa yang benar-benar dibutuhkan konsumen.
