Fenmena " Beli Sekarang" Saat Takut Harga Naik

Mahasiswa pendidikan ekonomi, edukasi keuangan & bisnis gen z
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Annisa Azzukruf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

FOMO Harga Naik? Kenapa Kita Auto "Checkout Sekarang" Pas Denger Isu Inflasi
Oleh: Annisa Azzukruf
Real talk, siapa di sini yang langsung panik checkout skincare atau barang impian di marketplace begitu liat VT (Video TikTok) bertajuk "Harga Bakal Naik Bulan Depan"? Atau ada yang mendadak langsung bayar kosan untuk 6 bulan ke depan karena takut tarifnya melonjak?
Tenang, kita semua pernah berada di posisi itu. Tapi tahukah kamu? Perilaku impulsif itu bukan cuma soal kekhilafan finansial semata. Dalam ilmu ekonomi, respons psikologis ini punya nama resmi: Ekspektasi Inflasi (Inflation Expectations).
Laporan inflasi dari Bank Indonesia mungkin terasa seperti angka-angka statistik yang kaku dan membosankan. Namun di balik angka tersebut, sebenarnya ada drama psikologi kolektif dari jutaan pembeli seperti kita.
Bagaimana Otak Kita Memprediksi Harga?
Saat mendengar isu atau rumor kenaikan harga, otak kita secara otomatis bekerja memprediksi masa depan menggunakan dua pola pendekatan ekonomi:
1. Ekspektasi Adaptif (Adaptive Expectations) = Belajar dari Trauma Masa Lalu
Pola ini terjadi ketika kita menebak masa depan murni berdasarkan pengalaman pahit yang sudah-sudah.
"Bulan lalu harga kosan naik Rp200.000, pasti bulan depan naik lagi, nih."
Karena sudah sering "kecele" oleh kenaikan harga secara berturut-turut, otak kita membentuk mindset bertahan hidup: pasti besok bakal makin mahal.
2. Ekspektasi Rasional (Rational Expectations) = Mode Stalking Aktif
Ini adalah versi ekspektasi yang lebih up-to-date. Di era digital, kita tidak cuma mengandalkan kenangan masa lalu, tapi juga rajin stalking berita ekonomi, memantau kebijakan pemerintah, hingga menyimak thread viral di media sosial soal kelangkaan bahan pokok atau kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Semua informasi ini dikumpulkan otak untuk mengambil keputusan belanja secepat mungkin.
Plot Twist: Makin Panik Belanja, Harga Makin Naik Beneran!
Di sinilah letak fenomena yang paling mind-blowing.
Ketika muncul rumor harga naik, naluri bawaan kita adalah bereaksi cepat: "Beli sekarang sebelum makin boncos!" Secara individu, langkah ini terasa sangat cerdas untuk menyelamatkan dompet pribadi.
Namun secara kolektif, keputusan serentak ini menciptakan Self-Fulfilling Prophecy—ramalan yang menjadi kenyataan justru karena tindakan kita sendiri dalam merespons ramalan tersebut.
Ketika jutaan orang berbondong-bondong checkout barang yang sama dalam waktu bersamaan, tingkat permintaan (demand) meledak drastis sementara ketersediaan barang (supply) di pasar terbatas. Akibatnya, penjual menaikkan harga karena barang makin langka.
Fenomena inilah yang dalam ekonomi dikenal sebagai Demand-Pull Inflation—yaitu inflasi yang terjadi bukan semata-mata karena biaya produksi naik, melainkan karena permintaan masyarakat yang ditarik naik secara ugal-ugalan akibat kepanikan massal.
Lalu, Gimana Solusinya?
Mengendalikan inflasi nyatanya bukan cuma urusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan. Pekerjaan rumah terbesarnya justru ada pada pengendalian ekspektasi dan tingkat kepercayaan masyarakat.
Jika komunikasi publik dari pemerintah atau pemangku kebijakan kurang jelas dan gagal menenangkan publik, mentalitas "checkout sekarang!" akan terus menjadi bensin yang membakar kenaikan harga di pasar.
Kesimpulannya: Jangan mau kalah sama FOMO harga! Sebelum buru-buru menekan tombol "Beli Sekarang", coba ambil jeda sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: Apakah aku memang butuh barang ini hari ini, atau cuma takut rugi di masa depan.
Mengelola dompet dengan bijak selalu dimulai dari kemampuan kita mengendalikan emosi dan kepanikan diri sendiri.
Daftar Sumber & Referensi Akademis
Untuk memperkuat kredibilitas artikel opini ini, berikut adalah sumber-sumber teori ekonomi yang mendasari analisis di atas:
1. Ekspektasi Adaptif (Adaptive Expectations)
Cagan, P. (1956). "The Monetary Dynamics of Hyperinflation". In Friedman, M. (Ed.), Studies in the Quantity Theory of Money. University of Chicago Press.
Catatan: Konsep yang menjelaskan bagaimana masyarakat membentuk ekspektasi inflasi masa depan berdasarkan tren dan pengalaman inflasi di masa lalu.
2. Ekspektasi Rasional (Rational Expectations)
Muth, J. F. (1961). "Rational Expectations and the Theory of Price Movements". Econometrica, 29(3), 315–335.
Lucas, R. E. (1972). "Expectations and the Neutrality of Money". Journal of Economic Theory, 4(2), 103–124.
Catatan: Teori yang menyatakan bahwa pelaku ekonomi memanfaatkan seluruh informasi yang tersedia (termasuk berita dan kebijakan) untuk memprediksi kondisi ekonomi.
3. Self-Fulfilling Prophecy & Psikologi Pasar
Merton, R. K. (1948). "The Self-Fulfilling Prophecy". The Antioch Review, 8(2), 193–210.
Catatan: Sosiologi dan ekonomi perilaku yang menjelaskan bagaimana ekspektasi atau kepanikan publik dapat mendorong terciptanya kenyataan yang ditakutkan.
4. Demand-Pull Inflation & Kebijakan Moneter
Mankiw, N. G. (2020). Principles of Macroeconomics (9th ed.). Cengage Learning.
Bank Indonesia. "Inflasi: Pengertian, Indikator, dan Faktor Penyebab". Akses resmi publikasi Bank Indonesia terkait interaksi permintaan agregat (Demand-Pull) dan ekspektasi inflasi masyarakat.
