Konten dari Pengguna

Teknik dan FISIP: Rivalitas Kampus yang Dapat Dijelaskan secara Sosiologis

Annisa Rahayu efendi

Annisa Rahayu efendi

mahasiswa pendidikan sosiologi, unj

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Annisa Rahayu efendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

teknik vs fisip, SUMBER ; dok. sendiri
zoom-in-whitePerbesar
teknik vs fisip, SUMBER ; dok. sendiri

Siapa pun yang pernah kuliah di Indonesia tentu mengenal candaan tentang dua fakultas ini. Mahasiswa Teknik dikatakan tenggelam dalam laporan praktikum dan tugas besar. Mahasiswa FISIP dikatakan pandai berbicara, sibuk berorganisasi, dan akrab dengan demonstrasi. Candaan itu memang lucu, tetapi di baliknya ada gambaran serius tentang cara pendidikan tinggi membentuk pola pikir, pergaulan, dan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri

Kampus Bukan Ruang yang Netral

Dalam sosiologi pendidikan, kampus tidak hanya menjadi tempat mempelajari materi kuliah. Kampus juga merupakan lingkungan sosial tempat status, nilai, dan kesempatan dibagikan. Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa setiap lingkungan sosial membentuk kebiasaan berpikir, bersikap, dan berbicara yang melekat pada orang-orang di dalamnya.

Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya belajar kalkulus atau teori politik. Mereka juga belajar menjadi bagian dari fakultasnya, mulai dari cara berbicara hingga cara menilai sesuatu. Pelajaran semacam ini tidak tertulis dalam silabus, tetapi diserap melalui pergaulan sehari-hari.

Dua Cara Memandang Dunia

Lingkungan Teknik cenderung membentuk kebiasaan berpikir yang menekankan ketepatan, pemecahan masalah, dan hal-hal yang dapat diukur. Sesuatu dianggap benar apabila dapat diuji dan digunakan. Beban studi yang padat juga menumbuhkan etos kerja keras dan rasa kebersamaan, misalnya saat mahasiswa mengerjakan tugas hingga larut malam bersama-sama atau saling meminjamkan alat laboratorium.

Lingkungan FISIP cenderung menekankan penafsiran, argumentasi, dan sikap kritis. Pengetahuan dinilai berharga jika mampu menjelaskan atau mempertanyakan pembagian kekuasaan dalam masyarakat. Budaya diskusi dan organisasi membuat mahasiswanya terbiasa berbicara di depan umum dan memiliki jaringan pertemanan yang luas.

Keduanya memiliki kekuatan, dan keduanya juga memiliki kelemahan.

Soal Gengsi dan Anggapan tentang Jurusan Masa Depan

Banyak orang menganggap Teknik identik dengan karier yang pasti, seperti insinyur dan pekerja industri, dengan jalur yang jelas. Sebaliknya, jurusan sosial dan politik sering dianggap lebih tidak terarah karena lulusannya dapat bekerja di birokrasi, media, penelitian, lembaga swadaya masyarakat, politik, maupun bisnis.

Anggapan ini tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang melatarinya:

Wacana pembangunan. Pembicaraan tentang pentingnya sains, teknologi, rekayasa, dan matematika serta kebutuhan akan tenaga teknis memperkuat kesan bahwa ilmu teknis lebih produktif.

Harapan keluarga. Banyak orang tua mengarahkan anaknya ke jurusan yang dianggap menjamin keamanan ekonomi. Dalam sosiologi, hal ini dipahami sebagai upaya keluarga mempertahankan atau meningkatkan kedudukan sosialnya melalui pilihan pendidikan anak.

Ketatnya seleksi. Jurusan yang sulit dimasuki tampak lebih bergengsi, padahal ketatnya persaingan tidak otomatis berarti mutu pembelajaran lebih baik.

Kenyataannya, pasar kerja jauh lebih beragam daripada citra yang beredar. Banyak lulusan Teknik berkarier di bidang manajemen, keuangan, dan teknologi. Banyak pula lulusan FISIP yang menduduki posisi penting di bidang kebijakan publik, komunikasi, dan konsultasi.

Pilihan Jurusan Tidak Sepenuhnya Bebas

Kita sering mengira bahwa memilih jurusan semata-mata persoalan minat. Padahal, banyak faktor lain yang ikut menentukan. Kemampuan ekonomi keluarga memengaruhi keberanian seseorang mengambil jalur dengan prospek karier yang kurang pasti. Akses terhadap bimbingan belajar dan informasi tentang jurusan membuat sebagian siswa lebih siap menghadapi seleksi. Anggapan tentang peran gender juga masih terasa: Teknik secara historis lebih banyak diisi laki-laki, sedangkan sejumlah program ilmu sosial lebih banyak diisi perempuan. Selain itu, kualitas fasilitas sains di sekolah berbeda-beda antardaerah.

Jadi, jurusan yang dipilih sering kali mencerminkan kedudukan sosial seseorang, bukan hanya selera pribadinya.

Candaan yang Membangun Pembatas

Saling meledek antarfakultas memang menyenangkan dan dapat mempererat kebersamaan di dalam kelompok sendiri. Namun, para sosiolog melihat kebiasaan ini sebagai cara membuat batas yang memisahkan kelompok kita dari kelompok mereka. Jika dibiarkan mengeras, prasangka ini membuat orang meremehkan cara berpikir yang berbeda. Mahasiswa Teknik dicap kaku dan kurang peka terhadap persoalan sosial, sedangkan mahasiswa FISIP dicap banyak bicara tetapi kurang praktis. Kedua tuduhan itu sama-sama menyederhanakan kenyataan.

Masalah Masa Kini Membutuhkan Keduanya

Perubahan iklim, transformasi digital, urbanisasi, dan etika kecerdasan buatan tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Proyek infrastruktur tanpa pemahaman sosial dapat memicu sengketa lahan dan memperlebar ketimpangan. Sebaliknya, analisis sosial tanpa pemahaman teknis dapat berhenti pada kritik tanpa solusi yang dapat dijalankan.

Oleh karena itu, program Merdeka Belajar, yang membuka kesempatan mengikuti kuliah dan proyek lintas program studi, layak dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Ketika insinyur bekerja dalam satu tim dengan sosiolog atau analis kebijakan, prasangka di antara keduanya berkurang dan hasil kerjanya pun lebih menyeluruh.

Penutup

Rivalitas Teknik dan FISIP bukan sekadar perbedaan bidang ilmu. Rivalitas ini mencerminkan perbedaan kebiasaan berpikir, gengsi yang dilekatkan masyarakat, dan kedudukan dalam struktur sosial. Prestise sebuah jurusan dibentuk oleh harapan kelas sosial, wacana pembangunan, dan pembagian kekuasaan, bukan semata-mata oleh nilai ilmunya.