Konten dari Pengguna

Bukan Cuma Ngurusin Margin, Ini Alasan Orang Finance Perlu Turun ke Lapangan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Antica Mey Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda mendengar istilah marketing myopia? Dalam dunia bisnis, istilah ini menggambarkan kondisi ketika sebuah perusahaan terlalu fokus pada produknya sendiri hingga lupa membaca kebutuhan konsumen yang terus bergerak.

Namun, fenomena "miopia" atau pandangan sempit ini sebenarnya tidak hanya mengintai tim pemasaran. Divisi finance atau keuangan pun sangat rawan mengalaminya jika hanya mengurung diri di balik layar monitor dan berkutat dengan rumus-rumus spreadsheet.

Banyak yang mengira tugas bagian keuangan sebatas mencatat arus kas, mengoreksi nota, dan menghitung margin keuntungan di atas kertas. Padahal, keputusan finansial yang diambil tanpa memahami realita operasional serta dinamika pasar di lapangan justru berisiko fatal bagi kelangsungan bisnis.

Pengalaman magang di PT Lancar Laju Barokah memberi saya sudut pandang baru. Bergelut di divisi finance tidak lantas membuat saya menutup mata dari lini operasional maupun strategi marketing. Justru dari sanalah mata rantai bisnis terlihat secara utuh.

Melihat 'Nyawa' Angka di Balik Stok Freezer

Selama magang, salah satu tugas utama saya adalah membangun sistem monitoring stock real-time berbasis spreadsheet serta terlibat dalam audit fisik (stock opname) di beberapa lapak usaha.

Dokumentasi lembar kerja monitoring stok yang berhasil saya kembangkan di lapangan.

Secara teoritis, menghitung margin kotor, margin bersih, hingga estimasi laba tampak begitu matematis dan pasti. Namun, begitu turun langsung memeriksa freezer di lapangan, saya menyadari bahwa setiap angka dalam spreadsheet memiliki "nyawa".

Ada faktor penyusutan barang (shrinkage), kualitas daya tahan produk beku (frozen food), hingga kapasitas simpan freezer di tiap cabang yang tidak bisa digambarkan hanya dengan rumus Excel semata. Tanpa pemahaman operasional yang matang, laporan estimasi margin hanyalah angka kosong di atas kertas.

Integrasi antara data real-time di layar dan kondisi nyata di lapangan inilah yang menjaga agar proyeksi keuangan perusahaan tetap akurat, rasional, dan objektif.

Kenapa Anak Keuangan Perlu Paham Meta Ads?

Selain urusan audit dan margin, saya juga diberi kesempatan belajar bersama tim marketing, termasuk memahami cara kerja Meta Ads dan ikut dalam kunjungan lapangan.

Mungkin timbul pertanyaan: Mengapa orang finance perlu repot-repot belajar iklan digital?

Jawabannya sederhana: agar tidak miopia.

Dokumentasi visual kolaborasi strategi digital dan finansial.

Keuangan dan pemasaran adalah dua sisi mata uang yang saling menopang. Saat divisi finance memahami konsep Customer Acquisition Cost (CAC) atau Return on Ad Spend (ROAS) pada Meta Ads, proses penganggaran (budgeting) tidak lagi terasa kaku. Tim keuangan paham nilai strategis di balik setiap rupiah yang dikeluarkan untuk promosi, bukan sekadar memotong anggaran secara sepihak.

Sebaliknya, tim marketing yang dibekali data ketersediaan stok real-time dari tim finance dan operasional tidak akan terjebak mempromosikan produk yang stoknya ternyata habis di freezer lapak.

Meruntuhkan Sekat Sektoral dalam Bisnis

Pengalaman lintas fungsi ini menegaskan satu hal: bisnis yang tangguh tidak bisa dijalankan dalam sekat-sekat sektoral (silo).

Operasional memastikan kualitas produk dan kelancaran rantai pasok (supply chain).

Marketing menciptakan demand dan menjangkau pasar secara efektif.

Finance menjaga kestabilan arus kas serta memastikan margin usaha tetap sehat.

Ketika salah satu divisi mengalami "miopia" hanya mementingkan target divisinya sendiri roda bisnis akan berjalan pincang.

Sebagai mahasiswa Manajemen UMY yang bersiap melangkah ke dunia profesional, menyerap pengalaman lintas divisi ini adalah pelajaran berharga. Memahami keuangan bukan berarti mengisolasi diri dengan kalkulator dan angka.

Justru praktisi finance yang adaptif adalah mereka yang mau keluar ke lapangan: mengecek fisik freezer, memahami cara kerja iklan digital, dan merangkai seluruh data tersebut menjadi keputusan bisnis yang presisi. Sebab pada akhirnya, bisnis yang bertahan bukan hanya yang laporan keuangannya rapi, melainkan yang mampu membaca realita pasar tanpa kacamata miopia.