Perang Yaman dan Perebutan Bab al-Mandab

Pengkaji Hubungan Internasional & Hukum Internasional
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Adi Anugrah akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang Yaman memperlihatkan bagaimana geografi dapat menjadi sumber kekuatan dalam konflik modern. Ketika kelompok Houthi memperluas pengaruhnya di pesisir Laut Merah pada September 2026, perang yang berakar pada perebutan kekuasaan domestik kembali menarik perhatian internasional. Perebutan Mocha dan kawasan Bab al-Mandab menunjukkan penguasaan wilayah strategis dapat memberikan daya tawar strategis.
Pada awal Oktober, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melancarkan operasi untuk merebut kembali sejumlah posisi di kawasan tersebut. Namun, klaim kemajuan militer kedua pihak masih perlu dibaca secara kritis. Pertempuran tetap berlangsung di pesisir barat dan sekitar Taiz, sementara Houthi meningkatkan serangan terhadap sasaran di Saudi. Perkembangan ini menegaskan perang Yaman bukan semata-mata persoalan siapa yang menguasai ibu kota, melainkan juga tentang siapa yang dapat memengaruhi salah satu jalur pelayaran strategis dunia.
Yaman dan Nilai Strategis Bab al-Mandab
Bab al-Mandab menghubungkan Teluk Aden dengan Laut Merah, yang selanjutnya terhubung dengan Terusan Suez dan jalur perdagangan Asia–Eropa. Posisi tersebut menjadikannya salah satu titik sempit strategis dalam pelayaran internasional. Menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO), kawasan Laut Merah merupakan koridor penting bagi perdagangan global. Gangguan terhadap pelayaran di wilayah ini dapat meningkatkan risiko keselamatan awak kapal dan mengganggu rantai pasok internasional.
Dalam analisis yang diterbitkan September 2026, Chatham House menilai perebutan Mocha oleh Houthi sebagai perubahan teritorial penting dalam perang Yaman. Posisi di pesisir itu memberikan kelompok tersebut peluang lebih besar untuk memengaruhi lalu lintas maritim di sekitar Bab al-Mandab. Meski demikian, kemampuan mengancam pelayaran tidak sama dengan menguasai atau menutup seluruh selat secara permanen.
Di sinilah letak dimensi geopolitiknya. Houthi tidak harus menguasai seluruh Yaman untuk memperoleh pengaruh internasional. Posisi di sepanjang pesisir, ditambah kemampuan melancarkan serangan rudal, menggunakan pesawat nirawak, dan mengancam kapal, dapat meningkatkan biaya keamanan yang harus ditanggung negara lain serta perusahaan pelayaran.
Geografi dengan demikian dapat menjadi instrumen daya tawar. Aktor bersenjata yang secara konvensional lebih lemah tetap dapat memengaruhi perhitungan kekuatan regional ketika mereka berada di lokasi yang penting bagi perdagangan dan keamanan internasional.
Mengapa Perang Yaman Bukan Sekadar Perang Proksi
Membaca perang Yaman tidak dapat dipahami hanya sebagai pertarungan antara Iran dan Arab Saudi karena pendekatan tersebut berisiko mengabaikan dinamika politik domestik. Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, tidak sekedar mitra regional Iran. Gerakan ini tumbuh dari konflik politik di Yaman dan telah membangun struktur kekuasaan serta kepentingannya sendiri.
Dukungan Iran meningkatkan kemampuan militer Houthi, tetapi tidak berarti setiap keputusan kelompok tersebut merupakan perpanjangan langsung kebijakan Teheran. Houthi memiliki agenda politik, basis lokal, dan kalkulasi strategisnya sendiri. Mengabaikan unsur tersebut akan menyederhanakan konflik yang sebenarnya jauh lebih kompleks.
Persoalan serupa terlihat pada kubu anti-Houthi. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional tidak sepenuhnya mengendalikan satu struktur militer yang terpadu. Berbagai kelompok bersenjata memiliki kepentingan politik dan hubungan dengan pendukung regional yang berbeda. Fragmentasi ini membantu menjelaskan mengapa dukungan eksternal dan keunggulan sumber daya tidak otomatis menghasilkan kemenangan cepat.
Karena itu, perang Yaman merupakan pertemuan antara konflik domestik, persaingan regional, dan kepentingan strategis internasional. Ketiganya saling memengaruhi, tetapi tidak dapat dilebur menjadi satu persoalan.
Medan Perang Masih Berubah
Perkembangan hingga 9 Oktober 2026 memperlihatkan keseimbangan militer di Yaman belum stabil. Pada awal Oktober, pemerintah mengumumkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Laporan AP dan Al Jazeera pada 5–6 Oktober menyebut pasukan yang didukung Saudi mengklaim berhasil merebut sejumlah posisi di sekitar Bab al-Mandab, termasuk Dhubab dan kawasan sekitarnya. Pemerintah juga mengklaim telah merebut kembali Mocha, meskipun sebagian klaim penguasaan wilayah diperdebatkan.
Pada saat yang sama, pertempuran di sekitar Taiz dan pesisir barat belum berakhir. Pada 1 Oktober, Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memperingatkan bahwa peningkatan pertempuran di Provinsi Taiz menimbulkan risiko serius bagi warga sipil. Laporan-laporan berikutnya menunjukkan adanya operasi lanjutan untuk merebut kawasan al-Waziiya dan serangan Houthi terhadap sasaran di luar Yaman.
Houthi juga mengklaim melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada 8 Oktober. Namun, rincian mengenai serangan terbaru itu belum sepenuhnya terkonfirmasi secara independen. Karena itu, belum tepat menyimpulkan bahwa salah satu pihak telah mengamankan seluruh kawasan Bab al-Mandab atau bahwa perang telah memasuki tahap kemenangan yang menentukan.
Perbedaan antara klaim militer dan penguasaan wilayah yang terverifikasi sangat penting diperhatikan. Merebut beberapa titik strategis tidak sama dengan mempertahankannya secara permanen. Begitu pula, keunggulan udara Saudi tidak otomatis menghapus kemampuan Houthi melakukan perang asimetris.
Warga Yaman Menanggung
Di balik perebutan jalur pelayaran dan persaingan kekuatan regional, warga sipil menanggung konsekuensinya. Data IOM yang dipublikasikan pada 7 Oktober 2026 memperkirakan sekitar 200.161 orang mengalami pengungsian selama 1 Agustus hingga 6 Oktober akibat eskalasi di pesisir barat. Secara kumulatif, jumlah pengungsian yang tercatat sejak eskalasi dimulai pada Juni mencapai sekitar 201.217 orang.
Pengungsian memperbesar kebutuhan terhadap makanan, tempat tinggal, layanan kesehatan, serta perlindungan bagi keluarga yang kehilangan sumber penghidupan. Peringatan Utusan Khusus PBB mengenai kondisi Taiz juga menunjukkan pertempuran dan penutupan jalan dapat membatasi mobilitas warga serta akses terhadap bantuan.
Dimensi kemanusiaan tidak boleh sekadar menjadi pelengkap analisis geopolitik, melainkan harus menjadi tolak ukur keberhasilan strategi keamanan.Keunggulan dalam menguasai jalur maritim strategis tidak akan berarti jika warga sipil terus kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar.
Bagi masyarakat internasional, pentingnya Bab al-Mandab tidak seharusnya membuat nasib warga Yaman tenggelam di balik kepentingan perdagangan dan energi. Perlindungan pelayaran dan keselamatan manusia bukan dua agenda yang harus saling meniadakan.
Perang Yaman memperlihatkan bahwa posisi geografis dapat menjadi sumber daya geopolitik, bahkan bagi aktor yang tidak menguasai negara secara utuh. Namun, kemampuan mengancam jalur maritim tidak identik dengan kemenangan politik. Sebaliknya, keberhasilan militer merebut wilayah juga tidak otomatis menghasilkan perdamaian.
Respons internasional tidak cukup hanya berfokus pada pengamanan pelayaran atau operasi militer. Keamanan maritim perlu berjalan seiring dengan penyelesaian politik di Yaman, koordinasi regional, dan akses kemanusiaan yang berkelanjutan. Karena itu, persoalannya bukan sekadar siapa yang menguasai Bab al-Mandab, melainkan apakah kawasan strategis tersebut akan terus menjadi alat persaingan atau justru membuka jalan bagi penyelesaian konflik. Selama fragmentasi politik dan persaingan bersenjata di dalam negeri belum diatasi, penguasaan titik-titik strategis hanya akan memberikan keuntungan sementara, sementara warga sipil tetap menanggung dampaknya.
