Konten dari Pengguna

Di Tengah Rivalitas AS-China, Mampukah ASEAN Menjaga Keamanan Kawasan?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aqila syafira Arrahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan jika negara-negara Asia Tenggara harus memilih antara Amerika Serikat (AS) dan China. Keduanya memiliki pengaruh besar di kawasan, tetapi keduanya juga membawa kepentingan strategis yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan negara-negara ASEAN.

US - China. Sumber: GettyImages
zoom-in-whitePerbesar
US - China. Sumber: GettyImages

Dilema tersebut terlihat dalam survei The State of Southeast Asia 2026 yang diterbitkan ISEAS–Yusof Ishak Institute. Ketika responden diminta memilih salah satu kekuatan jika Asia Tenggara dipaksa berpihak, 52 persen memilih China, sedangkan 48 persen memilih AS. Setahun sebelumnya, hasilnya justru berbalik: AS memperoleh 52,3 persen dan China 47,7 persen.

Perubahan ini menarik karena menunjukkan betapa tipisnya perbedaan pandangan di kawasan. Namun, menurut saya, pertanyaan terpenting bukanlah siapa yang lebih unggul dalam survei tersebut. Persoalan sebenarnya adalah bagaimana ASEAN menjaga keamanan kawasan ketika dua kekuatan besar terus bersaing mendapatkan pengaruh.

Ketika Persaingan Kekuatan Besar Menjadi Ancaman Kawasan

Persaingan AS dan China bukan hanya tentang pengaruh ekonomi atau hubungan diplomatik. Dampaknya juga terasa dalam persoalan keamanan, terutama di Laut China Selatan. Klaim maritim yang tumpang tindih, aktivitas kapal penjaga pantai, dan risiko salah perhitungan dapat meningkatkan ketegangan antara negara-negara yang terlibat.

Pada Juli 2026, ASEAN dan China kembali mendorong penyelesaian negosiasi Code of Conduct (COC) Laut China Selatan, dengan harapan mencapai kesepakatan pada akhir tahun. Namun, kemajuan diplomatik tersebut berlangsung ketika ketegangan di laut masih terjadi. Situasi ini memperlihatkan bahwa dialog tetap diperlukan, tetapi belum otomatis menghilangkan risiko konflik.

AS juga memiliki kepentingan keamanan di kawasan, termasuk kebebasan navigasi dan hubungan pertahanan dengan sejumlah negara Asia Tenggara. Sementara itu, China mempunyai hubungan ekonomi yang luas dengan kawasan sekaligus terlibat dalam sengketa maritim dengan beberapa negara ASEAN.

Menurut saya, ASEAN perlu melihat situasi ini secara realistis. Kehadiran AS dapat menjadi bagian dari kerja sama keamanan kawasan, sementara hubungan dengan China tetap penting bagi kepentingan ekonomi dan diplomasi. Namun, keduanya tidak seharusnya membuat ASEAN mengabaikan prinsip kedaulatan, hukum internasional, dan penyelesaian sengketa secara damai.

ASEAN Tidak Harus Memilih Salah Satu

ASEAN. Sumber: GettyImages

Bagi saya, kekuatan ASEAN justru terletak pada kemampuannya menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan tanpa kehilangan kepentingan regionalnya sendiri. ASEAN tidak harus memutus hubungan dengan salah satu pihak hanya untuk menunjukkan sikap tegas. Akan tetapi, mempertahankan hubungan dengan keduanya juga tidak berarti membiarkan pelanggaran atau ketegangan berlangsung tanpa respons.

Tantangannya adalah memastikan bahwa prinsip sentralitas ASEAN benar-benar diterapkan. Organisasi ini perlu memperkuat kesatuan sikap negara anggotanya, mendorong penyelesaian sengketa berdasarkan hukum internasional, serta menjaga agar dialog dengan AS dan China menghasilkan manfaat nyata bagi stabilitas kawasan.

Upaya tersebut tidak mudah. Negara-negara ASEAN memiliki kepentingan yang berbeda. Sebagian lebih mengutamakan hubungan ekonomi dengan China, sementara negara lain menaruh perhatian besar pada kerja sama keamanan dengan AS. Perbedaan ini dapat menyulitkan pembentukan sikap bersama, terutama ketika sengketa maritim menyentuh kepentingan nasional secara langsung.

Meski demikian, perbedaan kepentingan bukan alasan untuk menyerahkan arah keamanan kawasan kepada persaingan dua kekuatan besar. Justru di sinilah ASEAN perlu menunjukkan bahwa kerja sama regional dapat menjadi ruang untuk mengelola perbedaan dan mencegah ketegangan berkembang menjadi konflik.

Pada akhirnya, angka 52 persen untuk China dan 48 persen untuk AS bukanlah mandat bagi ASEAN untuk memilih pihak tertentu. Angka tersebut menggambarkan betapa beragam dan berubahnya persepsi di Asia Tenggara. Keamanan kawasan tidak seharusnya ditentukan oleh siapa yang memperoleh dukungan lebih besar dalam sebuah survei, melainkan oleh kemampuan negara-negara ASEAN menjaga perdamaian, kedaulatan, dan kepentingan bersama.

Menurut saya, ujian terbesar ASEAN bukanlah memenangkan persaingan pengaruh antara Washington dan Beijing. Ujiannya adalah memastikan bahwa persaingan tersebut tidak menghilangkan ruang bagi negara-negara Asia Tenggara untuk menentukan masa depannya sendiri.

Sumber:

1. ISEAS–Yusof Ishak Institute. (2026). The State of Southeast Asia: 2026 Survey Report. https://www.iseas.edu.sg/wp-content/uploads/2026/03/The-State-of-Southeast-Asia-2026-Survey-Final-Single.pdf

2. Channel NewsAsia. (2026, 24 Juli). ASEAN sees progress on South China Sea code, targets year-end conclusion. https://www.channelnewsasia.com/asia/asean-foreign-ministers-meeting-manila-south-china-sea-code-year-end-6276111

3. ASEAN. (2026, 21 Mei). The 26th ASEAN-China Senior Officials’ Meeting on the Implementation of the Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea convenes in Kuala Lumpur. https://asean.org/the-26th-asean-china-senior-officials-meeting-on-the-implementation-of-the-declaration-on-the-conduct-of-parties-in-the-south-china-sea-convenes-in-kuala-lumpur/