Konten dari Pengguna

Puing yang Hilang dalam Diri Anak Negeri

Aqshal Habibillah

Aqshal Habibillah

Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Jambi

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aqshal Habibillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: Kumparan (Kabut asap Provinsi Jambi)
zoom-in-whitePerbesar
sumber: Kumparan (Kabut asap Provinsi Jambi)

Setiap tahun kita mengulang ritual yang sama. Di bulan yang sama, langit yang sama berubah warna. Bukan biru lagi, tapi kuning kecoklatan. Matahari bukan lagi sumber cahaya, tapi hanya bola merah pucat yang malu-malu muncul di balik kabut, seolah enggan untuk bersinar dan memberikan harapan.

Kita dipagari oleh Alam, di Sumatera, sudah terlalu hafal dengan ini. Kabut asap.

Anak-anak diliburkan sekolah. Terjadinya peningkatan pasien ISPA. Para petani kopi menatap kebunnya yang diselimuti debu. Penerbangan ditunda. Jalanan sepi. Kita memakai masker bukan karena virus, tapi karena udara kita sendiri sudah menjadi racun.

Dan yang paling menyedihkan adalah kita sudah menganggapnya biasa.

Kita ribut menyalahkan siapa yang membakar. Kita tunjuk korporasi sawit, kita tunjuk petani kecil yang membuka ladang dengan cara dibakar, kita tunjuk pemerintah yang terlambat memadamkan api. Saling tuduh itu tidak pernah selesai, tapi asapnya tetap datang setiap musim kemarau.

Padahal apinya bukan hanya ada di hutan.

Api itu ada di cara kita berpikir. Kita ingin hasil yang cepat. Ingin lahan bersih dalam sehari, tidak peduli hutan ratusan tahun harus jadi abu. Kita ingin untung besar, tidak peduli paru-paru satu pulau harus membayar harganya. Kita menebang, kita membakar, kita menanam, kita panen. Siklus serakah yang kita wariskan.

Lalu siapa yang rugi? Kita sendiri. Anak negeri itu sendiri.

Kita kehilangan langit biru Bukit Barisan. Kita kehilangan lebatnya hutan yang dulu jadi kebanggaan. Kita kehilangan kesehatan anak-anak kita. Ekonomi lumpuh, pariwisata mati, semua tertutup kabut.

Tapi puing yang paling nyata hilang bukan itu.

Banyak yang mengira yang hilang adalah hutan. Yang hilang adalah udara bersih. Yang hilang adalah 2,6 juta hektare lahan yang terbakar setiap tahun.

Bukan.

Setelah semua abu itu turun, setelah semua api itu padam oleh derasnya hujan, semua akan kembali seperti semula dan mengulang lagi perbuatannya. Sehingga puing yang sebenarnya hilang dan belum kita temukan kembali sampai hari ini adalah kesadaran atau awareness kita sendiri dalam mencintai negri ini.

Bukan hanya persoalan kebakaran hutan, dalam hal apa pun sekarang ini kesadaran itulah yang mulai memudar dalam diri anak negeri.

Kesadaran bahwa alam ini bukan warisan nenek moyang yang bisa kita habiskan, tapi titipan anak cucu yang harus kita jaga. Kesadaran bahwa satu korek api yang kita nyalakan di kebun bisa membuat satu provinsi sesak napas. Kesadaran bahwa kita tidak hidup sendiri di pulau ini, ada makhluk ciptaan Tuhan lainnya yang juga memiliki hak akan kesehatan. Hewan dan tumbuhan, mereka juga menjaga hutan lebih dari apa yang pernah manusia lakukan untuk melindungi hutan.

Selama kesadaran itu masih hilang dalam diri anak negeri, maka setiap tahun kita akan tetap menjadi korban sekaligus pelaku dari bencana yang kita buat sendiri.

Bencana kabut asap ini harus dipandang sebagai suatu pengingat bahwa Tuhan memegang kendali atas segala-galanya.