Konten dari Pengguna

Ketika "Satu-Satunya" Menjadi Rumah: Menelusuri Jejak Kenangan Bersama HIVI!

Ardiansyah Arif Rahnawan

Ardiansyah Arif Rahnawan

Mahasiswa S-1 Ilmu Komunikasi UNS

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ardiansyah Arif Rahnawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda mendengar sebuah lagu yang tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga bertindak seperti mesin waktu? Musik memiliki kemampuan ajaib untuk mengikat memori, membawa kita kembali ke sudut-sudut kenangan hangat yang tidak pernah pudar. Salah satu karya pop Indonesia yang berhasil menangkap kehangatan tersebut adalah lagu "Satu-Satunya" karya grup musik HIVI!. Dengan melodi yang riang namun sarat makna, lagu ini hadir tidak sekadar sebagai hiburan, melainkan sebagai lagu kebangsaan bagi persahabatan dan kebersamaan.

Sumber : Tangkapan Layar Pribadi Milik Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Tangkapan Layar Pribadi Milik Penulis

Identitas Lagu

Judul Lagu: Satu-Satunya

Penyanyi / Band: HIVI!

Album: Ceritera (Album Ketiga)

Penulis Lagu: Febrian Nindyo Purbowiseso

Produser: Tohpati

Tahun Rilis: 2019

Lirik Lagu "Satu-Satunya" — HIVI!

Kamu bilang aku tak sama

Tak seperti saat pertama

Kamu bilang mungkin pikiranmu saja

Kamu bilang 'ku tak peduli

Tak seperti pertama kali

Kamu bilang janganlah ragu sendiri

Mengapa, mengapa, oh, mengapa

Banyak keraguan dalam hatimu, oh, kasih

Dengarkanlah, hanya kamulah satu-satunya

Di antara yang pernah singgah di relung jiwa

Dan takkan pernah lagi ada manusia lainnya

Sudah cukup satu, hanya kamulah satu-satunya

Kamu bilang kamu berubah

Dulu kurus sekarang gajah

Kamu bilang semua manusia berubah

Mengapa, mengapa, oh, mengapa

Banyak keraguan dalam hatimu, oh, kasih

Dengarkanlah, hanya kamulah satu-satunya

Di antara yang pernah singgah di relung jiwa

Dan takkan pernah lagi ada manusia lainnya

Sudah cukup satu, hanya kamulah satu-satunya

Manusia diciptakan berpasang-pasangan

Untuk saling mencinta, untuk saling percaya

Dengarkanlah, hanya kamulah satu-satunya

Di antara yang pernah singgah di relung jiwa

Dan takkan pernah lagi ada manusia lainnya

Sudah cukup satu, hanya kamulah satu-satunya

Tak akan pernah lagi ada manusia lainnya

Sudah cukup satu, hanya kamu

Hanya kamu, hanya kamulah satu-satunya

Resensi Lagu

Secara musikal, "Satu-Satunya" merupakan salah satu nomor unggulan dari album ketiga HIVI! yang bertajuk Ceritera. Diproduseri oleh gitaris maestro Tohpati, album ini menonjolkan aransemen yang kaya akan referensi musik era 1970-an hingga 1980-an. Pengaruh hangat ala musisi legendaris seperti Guruh Soekarnoputra, Chrisye, dan Candra Darusman terasa kuat dalam balutan pop modern yang segar dan berenergi.

Lirik lagu ini mengusung tema penegasan rasa percaya dan penerimaan dalam sebuah hubungan. HIVI! dengan cerdas mengemas narasi yang apik dan relatable (sejalan/relevan), mulai dari keraguan pasangan akan rasa sayang, hingga selipan humor jujur seperti baris "dulu kurus sekarang gajah". Pesan utamanya sangat jelas, yakni perubahan fisik maupun waktu tidak akan meruntuhkan komitmen ketika seseorang telah menemukan figur yang menjadi "satu-satunya".

Komposisi vokalnya yang harmonis dipadukan dengan dentikan gitar dan ritme yang catchy (memikat) membuat lagu ini terasa sangat ramah, hangat, dan mudah dinyanyikan bersama di berbagai kesempatan.

Pendapat Penulis & Kenangan yang Tak Tergantikan

Secara pribadi, saya sangat menyukai lagu ini. Bahkan, lagu ini memiliki tempat yang sangat istimewa di hati saya. Setiap kali intronya mulai berputar dan liriknya terdengar, ingatan saya selalu langsung tertuju pada masa-masa kuliah, khususnya bersama teman-teman di Departemen Eksternal HIMAKOM UNS.

Departemen Eksternal HIMAKOM 2026/2027 (Dokumentasi Pribadi Penulis)

Lagu "Satu-Satunya" seperti sudah menjadi lagu yang turun-temurun dan melekat kuat di kultur kami. Ada alasan mendalam mengapa lagu ini bisa begitu menempel pada perjalanan kami:

Lebih dari Sekadar Makna Romantis: Meskipun lirik dasarnya menceritakan pasangan, bagi kami di Departemen Eksternal, kata "satu-satunya" bertransformasi menjadi lambang ikatan persahabatan. Di tengah padatnya agenda organisasi, rapat yang berlarut-larut, hingga lelahnya mengurus program kerja eksternal, lagu ini selalu hadir membawa kehangatan dan rasa memiliki satu sama lain.

Pengingat Bahwa Semua Orang Berubah, Tapi Kebersamaan Tetap: Lirik "semua manusia berubah" memberi pesan implisit bahwa sejauh mana pun kita berkembang dan berubah setelah lulus nanti, kenangan dan fondasi kebersamaan yang telah dibangun di Departemen Eksternal tidak akan tergantikan oleh siapa pun.

Tradisi yang Menembus Generasi: Kebiasaan menyanyikan lagu ini secara bersama-sama, terkhusus saat sedang nongkrong santai, membuat lagu ini diwariskan dari senior ke junior. Efek nostalgia dan keakrabannya membuat siapa pun yang pernah berproses di sana langsung merasa "pulang" setiap kali mendengar lagu ini.

Secara keseluruhan, "Satu-Satunya" bukan hanya sekadar karya pop yang indah di atas kertas, melainkan soundtrack (lagu latar) hidup yang mengabadikan hangatnya masa-masa perkuliahan dan indahnya kawan seperjuangan di eksternal tercinta saya.