Konten dari Pengguna

Mahasiswa Manajemen UNAIR Keluhkan Kuliah yang Didominasi Presentasi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aretha Zizi Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Unggahan @unairmenfess pada 17 September 2026 memuat keluhan mahasiswa terkait metode pembelajaran di Program Studi Manajemen UNAIR yang dinilai banyak menggunakan presentasi.
zoom-in-whitePerbesar
Unggahan @unairmenfess pada 17 September 2026 memuat keluhan mahasiswa terkait metode pembelajaran di Program Studi Manajemen UNAIR yang dinilai banyak menggunakan presentasi.

Presentasi kelompok menjadi salah satu kegiatan yang cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa. Mulai dari membuat materi bersama, membagi tugas, hingga berdiri di depan kelas untuk menjelaskan hasil pembahasan. Namun, ketika metode tersebut terlalu sering digunakan, sebagian mahasiswa mulai mempertanyakan seberapa efektif pembelajaran yang mereka jalani.

Hal tersebut baru-baru ini menjadi perbincangan di media sosial. Sebuah unggahan dari akun Instagram @unairmenfess pada 17 September 2026 menampilkan keluhan seorang mahasiswa mengenai perkuliahan di Program Studi Manajemen Universitas Airlangga (UNAIR). Pengirim menyoroti banyaknya presentasi dalam perkuliahan serta mempertanyakan kondisi ketika materi lebih banyak disampaikan oleh mahasiswa.

Unggahan tersebut kemudian menarik perhatian karena persoalan presentasi merupakan pengalaman yang cukup umum dirasakan mahasiswa. Meski demikian, keluhan dalam menfess tersebut merupakan pengalaman dari pengirim dan tidak dapat dianggap sebagai gambaran seluruh mahasiswa Manajemen UNAIR.

Di sisi lain, presentasi sebenarnya bukan metode yang sepenuhnya negatif. Dalam prosesnya, mahasiswa dituntut untuk memahami materi sebelum menjelaskannya kepada orang lain. Mereka juga belajar menyusun informasi, membagi pekerjaan dalam kelompok, berbicara di depan umum, serta menjawab pertanyaan dari teman maupun dosen.

Ilustrasi Perkuliahan Foto: Antara/M Agung Rajasa

Kemampuan tersebut cukup relevan bagi mahasiswa Manajemen. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan kemampuan memahami teori, tetapi juga kemampuan menyampaikan gagasan, bekerja sama, melakukan analisis, dan mengambil keputusan.

Namun, efektivitas presentasi sangat bergantung pada bagaimana kegiatan tersebut dilakukan. Presentasi dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang menarik ketika mahasiswa benar-benar memahami materi dan mendapatkan ruang untuk berdiskusi. Sebaliknya, kegiatan tersebut dapat terasa monoton apabila hanya berakhir pada membaca slide secara bergantian tanpa pembahasan lebih lanjut.

Karena itu, keberadaan dosen tetap memiliki peran penting. Setelah mahasiswa mempresentasikan materi, dosen dapat memberikan penjelasan tambahan, meluruskan konsep yang kurang tepat, memberikan contoh, atau menghubungkan teori dengan persoalan yang terjadi di dunia bisnis.

Pembelajaran di Program Studi Manajemen sendiri tidak hanya diarahkan pada penguasaan teori. Dalam berbagai kegiatan akademik maupun kemahasiswaan, mahasiswa juga didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan menyelesaikan permasalahan. Misalnya, M-Legacy 2026 untuk mahasiswa baru S1 Manajemen memasukkan business case competition dalam sesi Focus Group Discussion. Kegiatan tersebut dirancang agar mahasiswa berlatih menganalisis studi kasus bisnis dan menyusun solusi secara terstruktur.

Hal serupa juga terlihat dalam kegiatan lain di FEB UNAIR. Pada 2026, mahasiswa mengikuti berbagai kegiatan yang menggabungkan kemampuan akademik dengan praktik, seperti kompetisi business plan, kegiatan organisasi, hingga pelatihan keterampilan manajemen.

Dengan demikian, persoalan yang muncul mungkin bukan sekadar mengenai banyak atau sedikitnya presentasi. Yang lebih penting adalah apakah metode tersebut benar-benar membantu mahasiswa memahami materi.

Presentasi, diskusi, studi kasus, praktik, maupun penjelasan langsung dari dosen memiliki fungsi masing-masing. Jika dipadukan dengan tepat, berbagai metode tersebut dapat membuat proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyelesaian tugas, tetapi juga pada pemahaman.

Pada akhirnya, pengalaman setiap mahasiswa dalam mengikuti perkuliahan tentu berbeda. Keluhan yang muncul di media sosial dapat menjadi bahan refleksi mengenai bagaimana pembelajaran di kelas dirasakan oleh mahasiswa. Bagi mahasiswa, kuliah bukan hanya tentang menyelesaikan presentasi, tetapi juga memastikan bahwa setelah kelas berakhir, ada pengetahuan dan kemampuan baru yang benar-benar mereka dapatkan.