Konten dari Pengguna

Belajar Meraba Rupiah: Cerita Inklusi Keuangan dari Batas Negeri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Arham Aras tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tampak seorang pemuda disabilitas mencoba "Meraba Rupiah Challenge Box" bersama panitia di RUPIAHVERSE FEST 2026, Tarakan. Sumber/Kredit Foto: Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Tampak seorang pemuda disabilitas mencoba "Meraba Rupiah Challenge Box" bersama panitia di RUPIAHVERSE FEST 2026, Tarakan. Sumber/Kredit Foto: Dokumentasi Pribadi.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana rasanya berbelanja tanpa bisa melihat fisik uang di tangan?

Bagi sebagian besar dari kita, membedakan selembar uang seratus ribu dan dua puluh ribu rupiah adalah perkara sekejap mata. Cukup lirik warna merah atau hijaunya, transaksi pun beres. Namun, bagi kawan-kawan penyandang disabilitas netra, cerita sederhana itu bisa menjadi tantangan yang menegangkan. Risiko tertukar nominal, salah kembalian, hingga potensi kecurangan selalu membayangi setiap kali mereka bertransaksi di ruang publik.

Uang rupiah pada hakikatnya bukan sekadar alat tukar formal di atas meja kasir. Seperti yang diingatkan Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., rupiah adalah simbol kedaulatan, kehormatan, dan identitas kebangsaan yang menyatukan seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, hak untuk mengenal, merawat, dan memahami rupiah harus menjadi milik setiap warga negara tanpa kecuali—termasuk kawan-kawan disabilitas dan para orang tua lanjut usia (lansia).

Sebuah cerita inspiratif tentang bagaimana edukasi keuangan dihadirkan secara setara dan menyentuh hati lahir dari beranda utara Nusantara, Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Mengenal Rupiah Lewat Ujung Jari

Selama ini, sosialisasi cinta rupiah umumnya sangat bergantung pada visual. Penjelasan soal keaslian uang, benang pengaman, hingga gambar pahlawan hampir selalu disampaikan lewat layar presentasi atau panduan gambar. Pola ini tanpa sadar mengabaikan mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan.

Pendekatan itulah yang didobrak lewat inisiatif Zona Meraba Rupiah. Di tempat ini, gravitasi belajar dipindahkan dari mata ke ujung jari. Fokus utamanya adalah mengenalkan fitur Blind Code—pasangan garis timbul pada sisi kanan dan kiri uang kertas rupiah yang dirancang agar bisa diraba dan dikenali secara mandiri.

Lewat bimbingan yang santai dan permainan interaktif, kawan-kawan disabilitas netra diajak merasakan tekstur cetak timbul untuk mengenali nominal uang sekaligus memastikan keaslian fisiknya.

Kemampuan meraba ini bukan sekadar soal belajar teknis perbankan, melainkan pemenuhan hak kemandirian. Ketika seorang penyandang disabilitas bisa memastikan sendiri nilai uang di tangannya tanpa harus bertanya atau bergantung pada orang lain, di situlah martabatnya sebagai warga negara yang berdaulat kembali tegak.

Hadir sebagai Pelaku Utama, Bukan Sekadar Tamu Undangan

Kunci dari keterbukaan (inklusi) sejati adalah mengubah cara pandang: masyarakat disabilitas tidak boleh lagi diposisikan sebagai objek pasif penerima santunan atau sekadar pemanis barisan depan acara seremonial. Mereka adalah subjek yang berdaya dan kawan belajar yang setara.

Semangat emansipatoris ini tercermin nyata dari kehadiran 60 penyandang disabilitas dan teman setara di antara 660 total peserta yang memadati rangkaian kegiatan di Tarakan. Mereka tidak hanya duduk sebagai pendengar, melainkan tampil memukau di atas panggung lewat pementasan Drama Musikal Inklusi. Melalui seni pertunjukan yang menyentuh, mereka menyuarakan pesan cinta rupiah dan hak kesetaraan dengan cara yang menggugah nurani.

Kolaborasi bermartabat ini berbuah manis. Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Tarakan memberikan penghargaan kepada Bank Indonesia sebagai “Mitra Inklusif dalam Penguatan Akses dan Edukasi Rupiah”. Pada saat yang sama, Pemerintah Kota Tarakan turut menyematkan apresiasi “Mitra Strategis Penguatan Literasi”. Pengakuan ini membuktikan bahwa kebijakan dan edukasi yang dirancang dengan mendengar langsung suara komunitas akan selalu menemukan tempat di hati warga.

Edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah kepada lansia melalui pendampingan langsung dalam mengenali keaslian uang Rupiah di Kota Tarakan.Sumber/Kredit Foto: Dokumentasi Pribadi.

Merangkul Lansia, Menghidupkan Warung Warga

Inklusi juga berbicara tentang kepedulian pada kelompok rentan lainnya, khususnya para lanjut usia (lansia). Menurunnya daya penglihatan dan stamina fisik sering kali membuat lansia cemas saat harus memegang uang di era transaksi yang serba cepat.

Agar pesan kebanksentralan dapat menyentuh realitas hidup mereka, edukasi dipadukan secara hangat dengan aksi sosial nyata:

  • Kebugaran Bersama: Senam sehat khusus lansia dan disabilitas yang digelar untuk mencairkan suasana.

  • Layanan Kesehatan Gratis: Pemeriksaan kesehatan cuma-cuma, pembagian vitamin, serta penyuluhan kesehatan jantung oleh PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia).

  • Pendampingan Raba Rupiah: Membantu para lansia yang pandangannya mulai kabur agar tetap percaya diri mengenali nominal uang saat berbelanja di pasar.

Tak berhenti di situ, edukasi ini langsung dipertemukan dengan denyut ekonomi kerakyatan melalui stan Expo dan Bazar UMKM Lokal. Bagi pedagang kecil dan pelaku usaha mikro, rupiah yang dirawat dan dipahami adalah denyut nadi penopang rezeki keluarga mereka.

Peresmian karya seni Peta Indonesia berbahan Limbah Racik Uang Kertas (LRUK) dalam Rupiahverse Fest 2026 di Kota Tarakan.Sumber/Kredit Foto: Dokumentasi Pribadi.

Ketika Limbah Uang Disulap Menjadi Karya

Sebuah gerakan sosial yang mengakar selalu membutuhkan napas kreativitas anak muda. Sebagaimana ditegaskan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Wesky Putra Pratama, kekuatan gerakan literasi ini lahir dari kolaborasi lintas sektor yang konsisten dirawat bersama Komunitas Penggerak CBP Rupiah selama hampir dua tahun.

Kolaborasi bersama organisasi pemuda AYS Indonesia, misalnya, melahirkan inovasi ramah lingkungan yang unik: memanfaatkan Limbah Uang Rupiah Kertas (LRUK) yang diolah menjadi karya seni Peta Indonesia. Peta edukatif berbahan limbah uang tersebut membawa tiga pesan penting sekaligus: peduli kelestarian lingkungan, cinta tanah air, dan bangga pada rupiah.

Keterlibatan aktif figur-figur muda, seperti tim Tudai or Never dari QRIS Jelajah Indonesia (QJI) Kaltara, membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi juru bicara yang luwes dalam menerjemahkan isu rupiah ke dalam bahasa tongkrongan yang segar dan mudah diterima teman sebayanya.

Kedaulatan Tanpa Meninggalkan Siapapun

Pelajaran berharga dari tapal batas Kalimantan Utara mengingatkan kita semua: martabat dan kedaulatan sebuah bangsa atas mata uangnya tidak diukur dari megahnya gedung pertemuan atau hingar-bingar perayaan seremonial. Ukuran sejatinya adalah sejauh mana warga negaranya yang paling rentan merasa dirangkul, dilindungi, dan dimuliakan.

Merawat dan memahami rupiah adalah jalan sunyi menjaga kedaulatan Republik Indonesia. Dalam ikhtiar luhur ini, tidak boleh ada satu pun anak bangsa yang tertinggal di belakang.