Kura-Kura di Atas Tugu, Ketika Pangkat Mendahului Kapasitas dan Loyalitas Mengalahkan Integritas

Pemerhati Kepemimpinan, Etika Publik, dan Refleksi Spiritualitas Sosial.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Arief Sulistyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penetapan tersangka terhadap tiga perwira tinggi Polri dalam perkara dugaan penyadapan ilegal membuka pertanyaan yang melampaui perbuatan individual. Kabareskrim Polri dalam keterangannya pada 3 November 2026 menyampaikan bahwa penyadapan tersebut diduga dilakukan tanpa prosedur dan tanpa kaitan dengan proses penegakan hukum. Kesalahan masing-masing tetap harus dibuktikan melalui proses peradilan. Namun, organisasi sudah perlu bertanya: bagaimana kewenangan digunakan, mengapa pengawasan tidak mencegahnya, dan apakah pembinaan kepemimpinan telah menyiapkan orang yang tepat untuk memegang kekuasaan sebesar itu?
Perkara ini belum membuktikan bahwa proses promosi tertentu menjadi penyebabnya. Hubungan itu memerlukan pemeriksaan tersendiri. Meski demikian, peristiwa yang mengguncang kepercayaan terhadap institusi patut menjadi momentum mengevaluasi pengelolaan karir personel. Organisasi perlu melihat kembali siapa yang memperoleh kewenangan, apa dasar pemilihannya, dan bagaimana kelayakannya diuji. Pemeriksaan terhadap individu harus disertai keberanian memeriksa sistem yang menempatkan serta mengawasinya.
Pangkat semestinya mencerminkan kapasitas yang telah dibuktikan: kompetensi, pengalaman, prestasi, kematangan pertimbangan, serta integritas. Semakin tinggi pangkat, semakin besar harapan bahwa pemiliknya mampu memahami persoalan, mengambil keputusan, dan menanggung akibatnya. Pangkat dapat dipasang dalam sebuah upacara. Kedewasaan memimpin memerlukan proses yang jauh lebih panjang. Menambahkan bintang di pundak seseorang tidak otomatis menambahkan kejernihan dalam pikirannya.
Pembinaan karier menyediakan ruang untuk membangun kapasitas tersebut. Pengalaman penugasan mempertemukan seseorang dengan persoalan yang beragam, sementara evaluasi menguji hasil kerjanya. Kesalahan menjadi bahan pembelajaran dan keberhasilan diperiksa kontribusinya. Promosi cepat dapat dibenarkan apabila kelayakannya terbukti. Masa dinas panjang pun tidak otomatis menjamin kematangan. Ukurannya adalah kesiapan memikul tanggung jawab yang lebih besar, dengan bukti yang dapat dinilai secara jujur.
Persoalan muncul ketika ukuran itu digeser oleh selera pribadi: suka atau tidak suka, dekat atau jauh, menurut atau banyak bertanya. Rekam jejak kalah oleh hubungan. Prestasi tersisih oleh kemampuan menyenangkan atasan. Jabatan kemudian berubah menjadi hadiah, sedangkan promosi menjadi alat memelihara lingkaran pengikut. Organisasi seolah tetap menjalankan administrasi pembinaan karier, tetapi keputusan sesungguhnya telah dibuat sebelum penilaian dimulai.
Pesan yang diterima anggota pun berubah. Jika kedekatan lebih menentukan daripada prestasi, mencari akses terasa lebih menjanjikan daripada memperbaiki kualitas kerja. Orang belajar membaca suasana hati pimpinan lebih tekun daripada membaca persoalan organisasi. Mereka yang sibuk bekerja dapat tertinggal oleh mereka yang sibuk terlihat bekerja. Perlahan, persaingan karier kehilangan hubungannya dengan mutu pengabdian.
Pengangkatan seperti ini juga berisiko menciptakan utang budi. Seseorang merasa kedudukannya bergantung pada kemurahan orang yang mengangkatnya. Loyalitas kemudian diarahkan kepada pribadi tersebut. Perintah yang meragukan diupayakan pembenarannya; keberatan ditelan demi menjaga hubungan. Pertanyaan “apakah ini benar?” bergeser menjadi “apakah ini yang beliau inginkan?” Pada titik itu, jabatan publik diperlakukan seperti pemberian pribadi yang harus dibayar melalui kepatuhan.
Padahal, pemimpin memerlukan bawahan yang mampu mengingatkan. Kepercayaan seharusnya tumbuh dari kecakapan, kejujuran, dan kesetiaan kepada tugas. Orang yang berani menjelaskan risiko dapat sedang menyelamatkan atasannya. Sebaliknya, persetujuan yang selalu tersedia bisa menjerumuskan. Organisasi kehilangan kompas ketika pengingat dianggap penghambat, sedangkan orang yang selalu menurut dinilai paling hebat.
Keadaan ini menyerupai seekor kura-kura di atas tugu. Ia berada di tempat tinggi, tetapi semua orang memahami bahwa ia tidak memanjat ke sana. Ada yang mengangkat dan meletakkannya. Setelah berada di puncak, kepalanya keluar, menengok ke kanan dan ke kiri, tanpa mengetahui bagaimana harus bergerak. Ketinggian tempatnya tidak mengubah kemampuan yang dimilikinya.
Metafora itu menyentil bahaya kedudukan yang melampaui kesiapan. Pemimpin yang tidak memahami persoalan akan kesulitan mengenali akar masalah, memilah informasi, dan menimbang pilihan. Ia mudah bergantung pada bisikan orang terdekat atau mengambil langkah yang tampak tegas tetapi salah sasaran. Ketegasan akhirnya diukur dari kerasnya perintah, sementara ketepatan keputusan luput diperiksa.
Risikonya membesar ketika kekurangan kapasitas bertemu kewenangan yang luas. Ketidakmampuan menjelaskan keputusan dapat ditutupi dengan tekanan. Pertanyaan dianggap pembangkangan, kritik dibaca sebagai ancaman, dan kepatuhan dipaksakan untuk menjaga kesan bahwa pimpinan menguasai keadaan. Orang-orang akhirnya diam. Persoalan tetap ada, hanya semakin sedikit yang berani membicarakannya. Suasana tampak tertib karena kegelisahan telah kehilangan suara.
Kerugiannya ditanggung seluruh organisasi. Orang berkualitas dan berintegritas dapat tersisih karena enggan menjilat atau membenarkan penyimpangan. Bawahan belajar menyaring laporan agar menyenangkan pimpinan. Kesalahan terlambat diketahui, keputusan buruk terus dijalankan, dan kepercayaan masyarakat ikut dipertaruhkan. Pola tersebut bahkan dapat diwariskan ketika pemimpin memilih penerus dengan ukuran yang sama: dekat, patuh, dan tidak merepotkan.
Meritokrasi harus memutus rantai itu. Penilaian kelayakan perlu mencakup integritas, sebab kecerdasan dan prestasi teknis belum menjamin seseorang akan menjaga kewenangannya. Rekam jejak etik, keberanian menolak penyimpangan, serta tanggung jawab atas keputusan harus diperiksa. Orang yang cakap tetapi bersedia melakukan apa saja demi promosi membawa risiko yang berbeda, namun sama seriusnya.
Kepemimpinan Polri perlu menggunakan momentum ini untuk meninjau penempatan strategis dan kualitas pembinaan karier. Dasar promosi harus jelas, rekam jejak diperiksa, kapasitas diuji, dan hasil kepemimpinan dievaluasi. Pengawasan perlu mampu menjangkau jabatan tinggi. Mekanisme koreksi juga harus melindungi orang yang menyampaikan fakta tidak menyenangkan. Keberanian mengingatkan patut diperlakukan sebagai bagian dari tanggung jawab profesional.
Pembenahan tersebut harus menjangkau kebiasaan dan sistem. Mengganti orang lama dengan orang dekat yang baru hanya memindahkan pusat ketergantungan apabila ukuran pemilihannya tetap sama. Organisasi memerlukan standar yang bertahan melampaui pergantian pimpinan. Setiap pejabat harus memahami bahwa kedudukannya diperoleh untuk menjalankan amanah, dengan kewajiban mempertanggungjawabkan penggunaan kewenangannya.
Pelajaran terpentingnya adalah bahwa warisan seorang pemimpin juga terlihat pada kualitas orang yang ia beri jalan untuk memimpin. Salah memilih orang berarti menyerahkan masa depan organisasi kepada kapasitas yang keliru. Tugu dapat dibangun semakin tinggi, tetapi kura-kura tetap memerlukan orang lain untuk mengangkatnya. Organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu memahami medan, menentukan arah, dan membawa orang lain berjalan—serta cukup berintegritas untuk mengetahui jalan mana yang tidak boleh ditempuh.
Krakaw, Polandia.
4 November 2026
