Konten dari Pengguna

Bagaimana Membedakan Bicara Politik dan Bicara Ilmu Politik?

Arif Wicaksa

Arif Wicaksa

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Politik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Percakapan mengenai kebijakan pemerintah, pemilihan umum, kepemimpinan, korupsi, hingga ketimpangan sosial dapat ditemukan di berbagai ruang dan tempat, mulai dari lingkungan keluarga, kampus, kantor tempat kerja, hingga media sosial. Setiap orang dapat menyampaikan pandangan, kritik, atau penilaiannya terhadap persoalan politik yang mereka anggap penting. Namun, apakah setiap pembicaraan mengenai politik dapat disebut sebagai pembicaraan ilmu politik?

Poster tentang politik (Sumber foto: https://www.unsplash.com / Free stock photos)
zoom-in-whitePerbesar
Poster tentang politik (Sumber foto: https://www.unsplash.com / Free stock photos)

Pertanyaan tersebut menjadi penting, terutama bagi siapa yang sedang mempelajari ilmu politik sebagai disiplin akademis seperti mahasiswa atau peneliti politik. Sekilas, berbicara politik dan berbicara ilmu politik tampak seperti dua kegiatan yang sama. Keduanya sama-sama membahas fenomena politik, melibatkan pemikiran tentang kekuasaan, kebijakan serta dapat menghasilkan penilaian terhadap tindakan pemerintah dan perilaku masyarakat. Meskipun demikian, terdapat perbedaan mendasar dalam tujuan, pendekatan, dan dasar argumentasi yang digunakan. Memahami perbedaan tersebut bukan berarti menganggap percakapan politik sehari-hari kurang penting. Sebaliknya, pemahaman ini membantu seseorang membedakan antara pendapat pribadi, klaim mengenai kenyataan sosial, dan penjelasan yang dibangun melalui penyelidikan ilmiah. Dengan demikian, pembicaraan politik tidak hanya menjadi sarana menyampaikan opini, tetapi juga dapat menjadi titik awal untuk memahami persoalan politik secara lebih mendalam.

Politik sebagai Bagian dari Percakapan Sehari-hari

Berbicara politik secara umum merupakan kegiatan membicarakan persoalan politik tanpa harus menggunakan teori atau metode penelitian tertentu. Pembicaraan tersebut dapat berupa pendapat, kritik, dukungan, keluhan, maupun penilaian terhadap suatu peristiwa. Dasarnya pun beragam, mulai dari pengalaman pribadi dan pengamatan hingga informasi yang diperoleh melalui media baik media berita maupun media sosial. Sebagai contoh, seseorang mungkin mengatakan bahwa pemerintah membuat kebijakan yang tidak adil karena dianggap lebih menguntungkan kelompok tertentu. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya penilaian terhadap kebijakan pemerintah. Orang yang menyampaikannya mungkin memiliki alasan yang menurutnya masuk akal, misalnya pengalaman pribadi atau pengamatannya terhadap dampak kebijakan.

Percakapan seperti ini merupakan bagian wajar dari kehidupan politik masyarakat. Dalam negara demokratis, kebebasan menyampaikan pendapat memungkinkan warga mengkritik pemerintah, menyuarakan kepentingan, dan berpartisipasi dalam diskusi publik. Namun, pendapat yang disampaikan belum tentu memberikan penjelasan yang memadai mengenai persoalan yang sedang dibicarakan. Seseorang dapat menilai suatu kebijakan tidak adil tanpa mengetahui secara terperinci bagaimana kebijakan tersebut dirumuskan, siapa saja aktor yang terlibat, dan apa pertimbangan yang mendasarinya.

Meskipun demikian, hal tersebut tidak otomatis membuat pendapat tersebut salah. Persoalannya terletak pada perbedaan antara menyampaikan penilaian dan membuktikan suatu klaim. Pendapat pribadi dapat menjadi titik awal untuk mengajukan pertanyaan, tetapi belum tentu cukup untuk menjelaskan fenomena politik secara menyeluruh.

Ilmu Politik: Lebih dari Pendapat dan Penilaian

Berbeda dari percakapan politik pada umumnya, ilmu politik merupakan disiplin ilmu sosial yang berusaha memahami dan menjelaskan fenomena politik melalui pendekatan yang terstruktur dan sistematis. Bidang ini mempelajari berbagai persoalan, seperti kekuasaan, negara, pemerintahan, kebijakan publik, perilaku politik, serta hubungan antara individu, kelompok, dan lembaga politik. Dalam ilmu politik, suatu fenomena tidak hanya dinilai berdasarkan kesan pengalaman, pendapat atau keyakinan pribadi. Fenomena tersebut juga dipelajari melalui pertanyaan yang terarah, penggunaan konsep yang relevan, penalaran yang sistematis, dan pemeriksaan bukti.

Sebagai contoh, pernyataan bahwa masyarakat tidak percaya kepada politisi karena banyak janji kampanye tidak ditepati merupakan klaim yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Untuk mempelajarinya secara ilmiah, seorang mahasiswa atau peneliti politik dapat mengajukan pertanyaan seperti apakah persepsi masyarakat terhadap pemenuhan janji kampanye berkaitan dengan tingkat kepercayaan mereka kepada politisi? Pertanyaan tersebut menjadi pembuka kemungkinan untuk melakukan penelitian ilmu politik. Mahasiswa dapat mengumpulkan data atau informasi melalui survei atau wawancara, mempelajari penelitian terdahulu, dan menganalisis informasi yang relevan. Hasilnya kemudian digunakan untuk menyusun kesimpulan yang sesuai dengan bukti-bukti yang tersedia.

Melalui proses tersebut, mahasiswa atau peneliti politik tidak sekadar menyampaikan pendapat mengenai perilaku politik masyarakat. Ia berusaha memahami pola yang mungkin menjelaskan fenomena tersebut. Meski demikian, penggunaan metode penelitian tidak otomatis menjamin bahwa suatu kesimpulan pasti benar. Kualitas kesimpulan juga bergantung pada ketepatan penggunaan konsep, metode pengumpulan data, proses analisis, serta kemampuan peneliti mempertimbangkan penjelasan alternatif.

Pertanggungjawaban Ilmiah sebagai Pembeda Penting

Salah satu aspek penting yang membedakan pembicaraan politik secara umum dari pembicaraan ilmu politik adalah pertanggungjawaban ilmiah. Dalam konteks ini, pertanggungjawaban ilmiah berarti bahwa suatu pernyataan, argumen atau kesimpulan memiliki dasar yang dapat diperiksa dan dinilai secara kritis. Ketika seseorang menyatakan bahwa kebijakan pemerintah hanya menguntungkan kelompok yang berkuasa, ia mengajukan klaim mengenai proses politik. Agar klaim tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, diperlukan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan kepentingan kelompok, bagaimana kepentingan tersebut memengaruhi kebijakan, dan bukti apa yang mendukung dugaan tersebut, dan banyak hal terkait lainnya.

Seorang peneliti politik dapat mempelajari dokumen kebijakan, mengidentifikasi aktor yang terlibat dalam proses politik seperti pengambilan keputusan, atau menganalisis hubungan antara kelompok kepentingan dan lembaga pemerintah. Penjelasan yang dihasilkan kemudian perlu dibandingkan dengan kemungkinan lain yang juga masuk akal. Proses ini menunjukkan bahwa analisis ilmu politik tidak cukup hanya menggunakan istilah akademis atau menyampaikan argumen dengan bahasa formal. Analisis politik harus memiliki dasar penalaran yang jelas dan sesuai dengan bukti yang tersedia. Pertanggungjawaban ilmiah juga tidak berarti bahwa kesimpulan penelitian pasti selalu benar atau bebas dari keterbatasan. Fenomena politik melibatkan manusia, kepentingan, nilai, dan konteks sosial yang kompleks. Karena itu, penelitian yang berbeda dapat menghasilkan penjelasan yang berbeda pula. Perbedaan tersebut perlu dinilai melalui kualitas argumen, metode, bukti, dan keterbatasan penelitian masing-masing. Kesediaan untuk memeriksa kembali kesimpulan ketika ditemukan bukti baru merupakan bagian penting dari perkembangan pengetahuan ilmiah.

Ketika Fenomena Politik Menjadi Objek Penelitian

Perbedaan antara percakapan politik dan analisis ilmu politik juga dapat dilihat melalui contoh persoalan partisipasi pemilih dan pemilihan umum atau Pemilu. Dalam percakapan sehari-hari, seseorang mungkin menyatakan bahwa masyarakat yang tidak menggunakan hak pilih berarti tidak peduli terhadap politik. Pernyataan tersebut merupakan generalisasi yang belum tentu didukung bukti memadai. Ketidakhadiran seseorang di tempat pemungutan suara tidak dengan sendirinya menjelaskan sikap politiknya. Ada kemungkinan seseorang tidak memilih karena kendala administratif, keterbatasan akses, ketidakpuasan terhadap calon, atau alasan lainnya.

Ilmu politik berusaha memeriksa kemungkinan-kemungkinan tersebut secara sistematis. Peneliti dapat melakukan wawancara terhadap pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya atau menganalisis data survei mengenai perilaku memilih. Tujuannya adalah memahami faktor-faktor yang berkaitan dengan keputusan tersebut tanpa terlebih dahulu menganggap bahwa seluruh pemilih memiliki alasan yang sama. Contoh ini memperlihatkan bahwa analisis ilmu politik berusaha menghindari kesimpulan yang terlalu luas atau terlalu menggeneralisir berdasarkan data dan informasi yang terbatas. Penjelasan yang dihasilkan harus disesuaikan dengan bukti dan cakupan penelitian. Namun, perlu dipahami bukan berarti setiap pembicaraan politik harus berakhir dengan penelitian formal. Analisis akademis juga dapat dilakukan dengan menggunakan teori dan hasil penelitian yang sudah tersedia. Hal yang terpenting adalah ketepatan penggunaan konsep, ketepatan penggunaan metode, kejelasan argumentasi, kevalidan data, dan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan.

Penutup

Berbicara politik dan berbicara ilmu politik sama-sama berkaitan dengan fenomena politik, tetapi keduanya memiliki orientasi yang berbeda. Percakapan politik secara umum dapat digunakan untuk menyampaikan pendapat, kritik, atau penilaian berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi. Sementara itu, ilmu politik berusaha memahami dan menjelaskan fenomena politik melalui pendekatan yang sistematis, penggunaan konsep dan teori, serta pemeriksaan bukti yang relevan. Perbedaan tersebut tidak terletak semata-mata pada siapa yang berbicara atau seberapa formal bahasa yang digunakan. Seseorang yang tidak memiliki latar belakang akademis tetap dapat menyampaikan analisis politik yang rasional dan berbasis bukti. Sebaliknya, seorang mahasiswa ilmu politik juga dapat menyampaikan pendapat yang belum didukung argumentasi memadai. Oleh karena itu, pertanggungjawaban ilmiah menjadi salah satu unsur paling penting dalam membedakan analisis ilmu politik dari opini politik biasa. Suatu penjelasan ilmiah perlu memiliki dasar yang jelas, dapat diperiksa secara kritis, dan terbuka terhadap koreksi.

Demonstrasi dianggap bentuk ekspresi politik (Sumber foto: https://www.unsplash.com / Free stock photos)

Bagi mahasiswa ilmu politik atau peneliti politik, memahami perbedaan ini merupakan langkah awal untuk mengembangkan cara berpikir akademis. Tantangannya bukan sekadar menentukan apakah suatu kebijakan baik atau buruk, melainkan memahami bagaimana kebijakan dibuat, kepentingan apa yang terlibat, serta bukti apa yang mendukung penjelasan mengenai proses tersebut.

Pada akhirnya, berbicara politik memungkinkan kita untuk menyampaikan pandangan mengenai kehidupan politik, sedangkan ilmu politik membantu kita mengembangkan pemahaman yang lebih sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai fenomena politik tersebut. Keduanya dapat saling melengkapi: percakapan sehari-hari menghadirkan pertanyaan, sementara ilmu politik menyediakan perangkat untuk mempelajari pertanyaan itu secara lebih mendalam dan sistematis.