Benarkah Plankton Merupakan Machiavellian Sejati?

Dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Riau
·waktu baca 12 menit
Tulisan dari Arif Wicaksa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sheldon J. Plankton, pemilik restoran Chum Bucket dalam serial SpongeBob SquarePants, merupakan karakter yang memiliki sifat ambisius, manipulatif, dan terobsesi untuk menguasai formula rahasia Krabby Patty. Berbagai rencananya untuk mengalahkan Tuan Krabs sering melibatkan tipu daya, penyamaran, pencurian, dan eksploitasi kelemahan lawan. Karakteristik tersebut sekilas membuat Plankton tampak seperti representasi sempurna dari Machiavellianisme, sebuah istilah yang berkaitan dengan strategi manipulasi dan perebutan kekuasaan. Namun, apakah Plankton benar-benar dapat disebut sebagai pengikut pemikiran Niccolò Machiavelli? Dengan merujuk pada karya Machiavelli seperti The Prince dan Discourses on Livy, tulisan ini berargumen bahwa Plankton memiliki sejumlah karakteristik yang menyerupai penguasa Machiavellian, terutama dalam ambisi, manipulasi, dan orientasi pada hasil. Akan tetapi, ia juga memperlihatkan kelemahan mendasar yang bertentangan dengan nasihat politik Machiavelli, yaitu kegagalan membaca situasi, ketidakmampuan membangun dukungan, dan kecenderungan membiarkan ambisi pribadi mengalahkan pertimbangan strategis. Plankton bukan Machiavellian sejati, melainkan gambaran ironis tentang seorang calon penguasa yang memahami pentingnya kekuasaan, tetapi tidak benar-benar menguasai seni memperolehnya.

Penjahat Kecil dengan Ambisi Besar
Di Kota Bikini Bottom, tidak banyak karakter yang memiliki ambisi sebesar Sheldon J. Plankton. Dengan tubuh yang sangat kecil dan restoran yang hampir selalu sepi pelanggan, ia menyimpan impian besar yaitu mengalahkan Tuan Krabs, merebut formula rahasia Krabby Patty, dan menjadikan Chum Bucket sebagai restoran paling sukses di kota. Masalahnya, Plankton hampir selalu gagal. Ia menyusun rencana pencurian, menciptakan berbagai mesin, menggunakan penyamaran, memanipulasi orang lain, dan bahkan mencoba memanfaatkan kecerdasan teknologi untuk mencapai tujuannya. Namun, berbagai strategi tersebut biasanya berakhir dengan kekalahan yang menggelikan.
Sekilas, Plankton mengingatkan kita pada Niccolò Machiavelli, pemikir politik Renaisans Italia yang terkenal melalui buku karyanya, The Prince (Sang Pangeran). Machiavelli sering dikaitkan dengan gagasan bahwa seorang penguasa harus memahami cara memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, termasuk ketika situasi menuntut tindakan yang tidak sesuai dengan moralitas yang beredar di masyarakat. Dalam penggunaan sehari-hari, istilah Machiavellian sering merujuk pada individu yang manipulatif, licik, dan rela melakukan apa saja demi mencapai tujuan.
Jika menggunakan pengertian populer tersebut, Plankton tampak sebagai kandidat Machiavellian yang sempurna. Namun, ada masalah penting, menjadi manipulatif tidak otomatis berarti memahami Machiavelli.
Machiavelli bukan sekadar mengajarkan bahwa seseorang harus berbuat jahat untuk menang. Ia menganalisis bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana seorang penguasa menghadapi keadaan yang berubah, dan mengapa keputusan politik harus mempertimbangkan konsekuensi nyata, bukan sekadar niat atau moralitas abstrak. Karena itu, pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah Plankton licik, melainkan apakah kelicikannya benar-benar mencerminkan kecerdasan politik Machiavellian? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat Plankton bukan hanya sebagai penjahat yang gagal mencuri resep rahasia, tetapi juga sebagai calon penguasa yang terus-menerus salah memahami hakikat kekuasaan.
Machiavelli: Kekuasaan Bukan Sekadar Keinginan untuk Menang
Dalam The Prince, Machiavelli membahas persoalan yang mendasar dalam politik yaitu bagaimana seorang penguasa memperoleh, mempertahankan, dan kehilangan kekuasaan. Salah satu konsep penting dalam pemikirannya adalah Virtù. Istilah ini tidak sepenuhnya sama dengan kebajikan dalam pengertian moral sehari-hari. Dalam konteks politik Machiavelli, virtù lebih dekat dengan kapasitas untuk bertindak secara efektif yan membutuhkan kecakapan, ketegasan, kecerdikan, dan kemampuan menyesuaikan strategi terhadap keadaan.
Konsep lainnya adalah Fortuna, yang merujuk pada keberuntungan dan berbagai keadaan yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan manusia. Bagi Machiavelli, keberhasilan politik bergantung pada hubungan antara kemampuan bertindak dan kondisi yang dihadapi. Seorang penguasa tidak cukup hanya memiliki ambisi. Ia juga harus mampu mengenali peluang, membaca ancaman, dan mengubah pendekatan ketika strategi sebelumnya tidak lagi efektif. Plankton memiliki ambisi yang sangat besar, tetapi virtù-nya justru patut dipertanyakan. Ia berkali-kali mengembangkan rencana untuk mencuri formula Krabby Patty. Namun, rencana-rencana itu sering kali bergantung pada asumsi bahwa satu keberhasilan akan menyelesaikan seluruh persoalannya. Plankton mengira bahwa dengan memperoleh resep rahasia, ia otomatis akan mengalahkan Tuan Krabs dan memenangkan persaingan bisnis. Padahal, keberhasilan restoran tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan resep. Ada pula kualitas produk, pelayanan, reputasi, kebiasaan konsumen, dan hubungan sosial yang menopang bisnis tersebut. Dengan kata lain, Plankton tampakny memang memahami tujuan akhirnya, tetapi ia gagal memahami keseluruhan sistem yang memungkinkan tujuan itu tercapai. Di sinilah ia berbeda dari penguasa Machiavellian yang kompeten.
Seorang strategis yang baik tidak hanya bertanya, “Bagaimana caranya mendapatkan apa yang dimiliki lawan?” Tetapi ia juga bertanya, “Apa yang sebenarnya membuat lawan saya berhasil, dan apakah saya mampu mempertahankan keberhasilan itu jika berhasil mengalahkannya?” Plankton terlalu terobsesi pada simbol kemenangan yaitu formula rahasia Krabby Patty hingga mengabaikan struktur yang membuat Krusty Krab tetap bertahan. Ia ingin merebut takhta, tetapi belum tentu memahami cara memerintah setelah mendudukinya.
Manipulasi dan Tipu Daya: Apakah Plankton Memahami The Prince?
Salah satu alasan Plankton tampak Machiavellian adalah kecenderungannya dalam menggunakan tipu daya. Dalam The Prince, Machiavelli membahas bagaimana penguasa perlu memahami kekuatan dan kelicikan. Ia menggunakan gambaran singa dan rubah. Singa melambangkan kekuatan untuk menghadapi ancaman secara langsung, sedangkan rubah melambangkan kecerdikan dalam mengenali jebakan dan tipu muslihat. Seorang penguasa yang efektif, menurut gambaran ini, tidak dapat hanya mengandalkan satu jenis kemampuan. Penguasa harus mengetahui kapan perlu menunjukkan kekuatan dan kapan harus menggunakan kecerdikan. Plankton tampaknya lebih menyukai peran rubah. Ia menyamar, menyusun jebakan, menciptakan berbagai perangkat, dan mencoba mengeksploitasi kepercayaan SpongeBob maupun kelengahan Tuan Krabs. Ia jarang memenangkan persaingan melalui kekuatan langsung. Sebaliknya, ia berusaha menemukan jalan pintas yang memungkinkan dirinya memperoleh hasil maksimal dengan sumber daya minimal.
Pendekatan Plankton ini memang menyerupai strategi yang dibahas Machiavelli. Akan tetapi, ada perbedaan antara menggunakan tipu daya secara strategis dan menjadikan tipu daya sebagai kebiasaan yang tidak efektif. Dalam pemikiran Machiavelli, kecerdikan harus digunakan untuk melayani keberhasilan politik. Tipu daya bukan sesuatu yang otomatis bernilai hanya karena terlihat licik. Jika sebuah strategi berulang kali gagal, menghabiskan sumber daya, dan membuat lawan semakin waspada, strategi itu justru menunjukkan kelemahan penggunanya. Plankton sering terjebak dalam pola tersebut.
Plankton terus mengembangkan rencana yang semakin rumit tanpa benar-benar menyelesaikan masalah mendasarnya. Kegagalan sebelumnya tidak selalu membuatnya memperbaiki pemahamannya terhadap persaingan. Sebaliknya, ia sering kembali dengan skema baru yang mengulang kesalahan serupa. Dalam pengertian ini, Plankton bukan rubah yang cerdik, melainkan rubah yang terlalu percaya pada kecerdikannya sendiri. Ia memahami bahwa kekuasaan dapat diperoleh melalui manipulasi, tetapi gagal memahami bahwa manipulasi hanya berguna apabila menghasilkan keuntungan yang dapat dipertahankan.
Bagi Machiavelli, kelicikan adalah alat politik, bukan pengganti kecakapan politik. Dan Plankton terlalu sering memperlakukan alat tersebut seolah-olah kelicikan merupakan tujuan itu sendiri.
Tuan Krabs: Penguasa yang Memahami Fondasi Kekuasaan
Untuk memahami kelemahan Plankton, kita perlu membandingkannya dengan rivalnya, Tuan Krabs.
Keduanya memiliki kepentingan yang bertentangan. Plankton ingin merebut formula Krabby Patty, sedangkan Tuan Krabs ingin mempertahankan bisnisnya. Keduanya juga memperlihatkan sifat yang tidak selalu terpuji, terutama ketika berurusan dengan uang dan persaingan. Namun, terdapat perbedaan penting dalam cara mereka menjalankan usaha.
Tuan Krabs telah membangun sebuah restoran yang dikenal dan memiliki pelanggan tetap. SpongeBob menjadi koki yang mampu menghasilkan produk yang disukai konsumen, sementara reputasi Krusty Krab memberikan alasan bagi pelanggan untuk terus datang. Dengan demikian, kekuasaan ekonomi Tuan Krabs tidak hanya bertumpu pada resep rahasia. Ia juga ditopang oleh hubungan yang telah terbentuk antara bisnis, pekerja, dan pelanggan. Sebaliknya, Plankton cenderung menganggap formula Krabby Patty sebagai sumber utama keunggulan Tuan Krabs. Ia berusaha mencuri aset tersebut, tetapi jarang berhasil membangun daya tarik Chum Bucket secara mandiri. Perbedaan ini dapat dibaca melalui perspektif Machiavelli.
Kekuasaan yang bertahan lama tidak cukup dibangun melalui kemenangan sesaat. Ia membutuhkan fondasi yang membuat posisi seorang penguasa dapat dipertahankan ketika menghadapi perubahan dan ancaman. Dalam The Prince, Machiavelli memberikan perhatian besar pada fondasi kekuasaan, termasuk dukungan politik, kemampuan militer, dan hubungan penguasa dengan pihak-pihak yang dapat menopang atau menggoyahkan kedudukannya. Tentu saja, restoran fiktif seperti Krusty Krabs tidak identik dengan negara. Namun, analoginya tetap berguna, bahwa seorang pemimpin tidak dapat mempertahankan kekuasaannya hanya dengan melemahkan pesaing apabila ia sendiri tidak memiliki fondasi yang kuat.
Tuan Krabs mungkin bukan pemimpin yang bermoral tinggi. Ia terkenal pelit dan sering memperlakukan keuntungan sebagai prioritas utama. Namun, dalam persaingannya dengan Plankton, ia memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki rivalnya yakni ia telah membangun sistem yang benar-benar berfungsi. Plankton berusaha menang dengan mengambil milik orang lain, Tuan Krabs bertahan karena telah memiliki sistem yang menghasilkan keuntungan. Dari perspektif Machiavellian, perbedaan antara keduanya bukan semata-mata perbedaan moral, melainkan perbedaan kapasitas untuk mempertahankan kekuasaan.
Plankton dan Fortuna: Apakah Plankton Hanya Kurang Beruntung?
Plankton mungkin akan berargumen membela dirinya dengan mengatakan bahwa masalahnya bukan terletak pada kecakapannya, melainkan pada keberuntungan yang selalu berpihak kepada Tuan Krabs. Setiap kali rencananya tampak hampir berhasil, sesuatu terjadi untuk menggagalkannya. SpongeBob bisa muncul secara tiba-tiba dan tidak terduga, penyamarannya terbongkar, atau mesin yang ia bangun justru menghasilkan kekacauan. Dalam dunia kartun, kegagalan semacam ini merupakan bagian dari komedi. Namun, jika dibaca melalui konsep fortuna, kita dapat mengajukan pertanyaan filosofis yang lebih menarik yaitu sejauh mana seseorang bertanggung jawab atas kegagalannya ketika keadaan tidak berpihak kepadanya?
Machiavelli mengakui pentingnya keberuntungan dalam politik. Tidak semua peristiwa dapat diprediksi atau dikendalikan. Namun, ia juga menekankan pentingnya kesiapan dan kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan keadaan. Dengan kata lain, keberuntungan memang berpengaruh, tetapi kecakapan menentukan bagaimana seseorang menghadapi keberuntungan atau ketidakberuntungan tersebut. Plankton sering gagal bukan hanya karena rencananya digagalkan oleh kejadian tak terduga, tetapi juga karena ia tidak cukup siap menghadapi kemungkinan bahwa rencananya akan gagal. Ia cenderung merancang skenario yang mengandaikan keberhasilan, bukan strategi yang tetap masuk akal ketika muncul hambatan. Di sinilah kelemahan virtù-nya kembali terlihat. Seorang strategis yang baik tidak harus mampu meramalkan segala sesuatu. Ia hanya perlu memahami bahwa dunia tidak akan selalu mengikuti rencananya. Plankton, sebaliknya, tampak ingin menguasai hasil tanpa benar-benar menguasai kondisi ketidakpastian. Ia ingin menghilangkan unsur keberuntungan dari persaingan dengan membuat rencana yang canggih. Namun, semakin rumit rencananya, semakin banyak pula kemungkinan yang dapat menggagalkannya. Kegagalan Plankton, dengan demikian, bukan sekedar kisah tentang keberuntungan yang buruk. Ia juga merupakan kisah tentang seseorang yang gagal mengembangkan fleksibilitas dalam menghadapi keadaan. Plankton tidak selalu kalah karena dunia terlalu sulit dikendalikan, tetapi terkadang ia kalah karena tidak siap menghadapi dunia yang memang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan.
Kesalahan Terbesar Plankton: Mengira Kekuasaan Berarti Mengalahkan Orang Lain
Ada satu persoalan yang lebih mendasar daripada semua kegagalan teknis Plankton, yaitu ia tampaknya mendefinisikan keberhasilan melalui kekalahan Tuan Krabs. Tujuan Plankton bukan sekadar membuat Chum Bucket menjadi restoran yang sukses. Dalam banyak cerita, ia terobsesi untuk mendapatkan formula Krabby Patty dan mengalahkan rivalnya. Artinya, keberhasilan Plankton menjadi sangat bergantung pada posisi Tuan Krabs. Selama Krusty Krab lebih sukses, Plankton merasa dirinya belum menang. Ketergantungan ini menghasilkan paradoks. Plankton ingin menjadi penguasa dunia kuliner Bikini Bottom, tetapi tindakannya terus berpusat pada satu pesaing, Tuan Krabs yang menjadi pusat dari strategi, perhatian, dan identitas Plankton. Dari sudut pandang politik, keadaan ini menunjukkan bahwa ambisi untuk mengalahkan lawan dapat berubah menjadi bentuk ketergantungan terhadap lawan itu sendiri.
Menariknya, pemikiran Machiavelli tidak hanya berbicara tentang cara menaklukkan pesaing. Machiavelli juga membahas bagaimana seorang penguasa dapat menjaga kedudukannya di tengah berbagai kepentingan dan ancaman. Tujuan politik yang efektif harus mempertimbangkan keberlangsungan kekuasaan, bukan sekadar kepuasan melihat musuh dikalahkan. Jika Plankton berhasil mencuri resep Krabby Patty tetapi Chum Bucket tetap tidak memiliki pelanggan, apakah ia benar-benar menang? Jika ia berhasil mempermalukan Tuan Krabs tetapi menghancurkan usahanya sendiri dalam proses tersebut, apakah kemenangan itu masuk akal? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa Plankton sering kali mencampuradukkan tiga hal yang berbeda yaitu kemenangan atas lawan, pencapaian tujuan, dan keberhasilan jangka panjang. Ketiganya tidak selalu berjalan beriringan. Seseorang dapat mengalahkan pesaing dalam satu pertarungan tetapi tetap gagal mencapai tujuan besarnya. Sebaliknya, seseorang dapat mencapai keberhasilan tanpa harus menghancurkan pesaingnya. Plankton tampaknya sulit membayangkan kemungkinan kedua. Ia begitu terikat pada gagasan bahwa Tuan Krabs harus kalah sehingga Plankton tidak mampu membebaskan ambisinya dari persaingan tersebut.
Dalam pengertian ini, kelemahan Plankton bukan hanya perkara kemampuan strategis, tetapi juga psikologis. Ia bukan sekadar ingin berkuasa, tetapi ia ingin membuktikan bahwa dirinya lebih unggul daripada orang yang selama ini dianggap sebagai rivalnya. Dan ketika kebutuhan untuk membuktikan diri menjadi terlalu kuat, penilaian strategis dapat dikalahkan oleh ego.
Kesimpulan
Apakah Plankton merupakan Machiavellian sejati? Jawabannya adalah, Plankton memiliki insting Machiavellian, tetapi tidak memiliki kecakapan politik yang cukup untuk mewujudkannya. Ia memahami bahwa kekuasaan tidak selalu diperoleh melalui kejujuran. Ia mengenali manfaat manipulasi, menyukai strategi tersembunyi, dan bersedia menggunakan berbagai cara untuk mengalahkan pesaingnya. Semua itu membuatnya menyerupai gambaran populer tentang seorang Machiavellian. Namun, jika kita membaca Machiavelli secara lebih cermat, kelemahan Plankton menjadi jelas. Plankton kurang memiliki virtù dalam arti kemampuan membaca keadaan dan menyesuaikan strategi. Ia terlalu bergantung pada tipu daya yang berulang kali gagal. Ia tidak cukup memahami fondasi keberhasilan bisnis Tuan Krabs, dan ia membiarkan obsesi terhadap rivalnya mendominasi tujuan yang seharusnya ia capai.
Plankton ingin memperoleh kekuasaan, tetapi tidak memahami sepenuhnya apa yang membuat kekuasaan dapat bertahan. Plankton ingin menjadi penguasa, tetapi terus bertindak seperti seseorang yang hanya ingin memenangkan satu pertarungan. Di sinilah karakter Plankton menjadi lebih menarik daripada sekadar penjahat komedi. Plankton menggambarkan paradoks seseorang yang mengira bahwa ambisi dan kelicikan sudah cukup untuk menjamin keberhasilan. Padahal, dalam politik maupun kehidupan sehari-hari, kemampuan menemukan cara untuk memperoleh sesuatu tidak sama dengan kemampuan mempertahankannya. Kecerdikan tanpa pemahaman yang baik dapat berubah menjadi kebodohan yang tampak canggih. Barangkali, jika Machiavelli benar-benar mengamati persaingan antara Plankton dan Tuan Krabs, ia tidak akan terlalu terkesan oleh banyaknya rencana pencurian yang dibuat Plankton. Machiavelli mungkin justru akan bertanya mengapa seseorang yang begitu terobsesi untuk menang terus menggunakan strategi yang sama-sama tidak efektif. Sebab, pelajaran terpenting dari Machiavelli bukanlah bahwa seseorang harus menjadi licik untuk berkuasa. Pelajaran terpenting dari Machiavelli adalah bahwa kekuasaan menuntut kemampuan memahami kenyataan sebagaimana adanya, bukan sebagaimana yang diinginkan seseorang.
Plankton bukan Machiavellian sejati. Ia adalah seseorang yang memahami bahwa kekuasaan membutuhkan kelicikan, tetapi lupa bahwa kelicikan tanpa kecakapan hanyalah cara yang lebih rumit dan panjang untuk mengalami kegagalan. Dan mungkin, itulah alasan mengapa Chum Bucket tetap sepi, karena Plankton terlalu sibuk memikirkan cara mengalahkan Tuan Krabs dan mencuri resep rahasia Krabby Patty, sampai ia lupa mencari tahu lebih jauh mengapa orang-orang justru memilih makan di tempat rivalnya.
