Toleransi Beragama di Media Sosial Dimulai dari Jempol

Siswa Lulusan SMAN 1 Jalan Cagak Jurusan IPS, Memiliki Hobi Menonton Film
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Aripal Ilham tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Toleransi beragama sering diuji bukan di rumah ibadah, melainkan di layar ponsel. Coba bayangkan Rina, yang suatu malam menerima video pendek di grup WhatsApp keluarga besar. Isinya sindiran terhadap keyakinan kelompok lain, dikemas lucu dan diberi keterangan “sebarkan, biar semua tahu”. Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol bagikan. Besok paginya, grup itu sunyi. Ada om yang membalas dengan nada tersinggung, ada sepupu yang memilih keluar grup, dan Rina bingung: “Kan cuma video.”
Toleransi beragama diuji lewat satu klik bagikan
Cerita Rina fiktif, tapi saya yakin kamu pernah melihat versinya. [Ganti atau tambahkan dengan pengalaman nyata kamu: grup mana, jenis konten apa, dan bagaimana suasananya.] Menurut saya, yang membuat media sosial rawan adalah kecepatannya. Konten yang memancing emosi, termasuk soal keyakinan, cenderung cepat menyebar karena orang bereaksi dulu sebelum memeriksa. Satu klik yang terasa remeh bisa melukai orang yang berada di ruang yang sama.
Padahal Indonesia adalah rumah bagi banyak keyakinan. Konstitusi kita, lewat Pasal 29 UUD 1945, menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan beribadat menurut keyakinannya. Menjaga ruang digital tetap aman bagi semua orang adalah bagian dari menghormati jaminan itu dalam keseharian.
Toleransi bukan berarti menyamakan semua keyakinan
Ada salah paham yang sering muncul: toleransi dianggap sama dengan menganggap semua agama itu sama atau menyembunyikan keyakinan sendiri. Menurut saya, bukan itu maksudnya. Toleransi berarti menghormati hak orang lain untuk meyakini dan beribadah sesuai keyakinannya, sambil tetap setia pada keyakinan kita sendiri. Kita boleh berbeda, bahkan sangat berbeda, tanpa harus merendahkan.
Tiga kebiasaan kecil menjaga toleransi beragama di media sosial
Saya bukan ahli agama, jadi ini sekadar kebiasaan praktis yang menurut saya masuk akal bagi siapa pun, apa pun keyakinannya.
Pertama, berhenti sebentar sebelum membagikan. Tanyakan: siapa sumbernya, apakah ada konteks yang dipotong, dan apa dampaknya jika dibaca orang yang berbeda keyakinan? Konten yang menyudutkan satu kelompok dan meminta “sebarkan” patut dicurigai.
Kedua, bedakan mengkritik gagasan dari merendahkan orang. Berdiskusi tentang perbedaan pandangan itu wajar, dan bisa dilakukan dengan santun. Mengolok-olok keyakinan atau penganutnya adalah hal lain. Di mana persisnya batas keduanya memang sering diperdebatkan, tapi bahasa yang menghina hampir selalu membuat dialog berhenti.
Ketiga, perluas perkenalan langsung. Dalam psikologi sosial, ada gagasan lama yang dikenal sebagai teori kontak (Gordon Allport): interaksi yang setara dan positif antarkelompok cenderung mengurangi prasangka. Teman, tetangga, atau rekan kerja yang berbeda keyakinan sering lebih efektif melunakkan stereotip daripada seribu potongan video.
Kembali ke grup keluarga
Bayangkan jika di cerita tadi Rina berhenti sebentar, memeriksa video itu, lalu memilih tidak membagikannya. Mungkin tak ada yang tahu. Tapi grupnya tetap hangat, dan ia tidak menjadi bagian dari rantai yang melukai orang lain.
Tentu ada pandangan lain. Sebagian orang khawatir seruan toleransi dipakai untuk membungkam kritik atau dakwah, sementara sebagian lain melihat ujaran merendahkan sering dibiarkan atas nama kebebasan berpendapat. Kedua kekhawatiran itu nyata, dan menurut saya jawabannya bukan satu aturan kaku, melainkan kebiasaan menimbang dengan hati-hati dan niat baik.
Pada akhirnya, toleransi beragama bukan proyek besar yang hanya dikerjakan pemerintah atau tokoh agama. Ia dimulai dari hal kecil yang kita lakukan hari ini. Pertanyaannya sederhana: konten apa terakhir yang kamu bagikan, dan kalau tetangga atau temanmu yang berbeda keyakinan membacanya, apa yang akan ia rasakan?
