Perencanaan SDM: Hal yang Perlu Dipahami Mahasiswa Sebelum Memasuki Dunia Kerja

Mahasiswa Universitas Pamulang - Jurusan Manajemen - Digital Marketing
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aris Musadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagai mahasiswa, saya sering melihat dunia kerja sebagai tujuan yang akan dicapai setelah menyelesaikan pendidikan. Kita belajar, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, dan berusaha memperoleh nilai yang baik dengan harapan suatu hari nanti bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, ada satu hal yang menurut saya juga penting untuk dipahami sejak bangku kuliah: perencanaan SDM dan bagaimana perusahaan menentukan orang yang tepat untuk bekerja di dalamnya.
Pertanyaan ini membawa saya pada konsep perencanaan sumber daya manusia. Awalnya, istilah tersebut mungkin terdengar seperti urusan manajer atau bagian sumber daya manusia di perusahaan. Padahal, bagi mahasiswa yang sedang mempersiapkan masa depan, memahami perencanaan SDM dapat membantu kita melihat proses mencari pekerjaan dari sudut pandang yang berbeda.
Perencanaan SDM Tidak Sekadar Mencari Karyawan
Sebelum mempelajari manajemen SDM, saya mungkin akan menganggap bahwa perusahaan membuka lowongan kerja karena membutuhkan tambahan tenaga. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi ternyata ada proses yang lebih panjang di baliknya.
Perusahaan perlu memahami kondisi tenaga kerja yang dimiliki, keterampilan karyawan, serta kebutuhan pekerjaan pada masa mendatang. Dari situ, perusahaan dapat menentukan apakah perlu merekrut orang baru atau justru meningkatkan kemampuan karyawan yang sudah ada.
Menurut saya, bagian ini penting karena membuka lowongan kerja bukan sekadar mencari seseorang untuk mengisi kursi kosong. Perusahaan membutuhkan orang yang mampu menjalankan tanggung jawab tertentu dan berkontribusi terhadap tujuan organisasi.
Bagi mahasiswa, pemahaman tersebut bisa menjadi pengingat bahwa mendapatkan pekerjaan bukan hanya soal mengirimkan lamaran sebanyak-banyaknya. Kita juga perlu memahami kemampuan apa yang dibutuhkan oleh posisi yang dituju dan sejauh mana kemampuan kita sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Mengapa Lulus Kuliah Saja Belum Tentu Cukup?
Pendidikan formal merupakan salah satu bekal penting untuk memasuki dunia kerja. Namun, saya melihat bahwa ijazah sebaiknya tidak diperlakukan sebagai satu-satunya modal untuk memperoleh pekerjaan.
Dalam proses seleksi, perusahaan dapat mempertimbangkan berbagai hal, seperti keahlian, pengalaman, pendidikan, dan kesesuaian kandidat dengan pekerjaan. Materi perencanaan SDM yang saya pelajari juga menjelaskan pentingnya seleksi yang objektif berdasarkan persyaratan jabatan, bukan semata-mata penilaian pribadi.
Hal ini membuat saya berpikir bahwa masa kuliah seharusnya tidak hanya diisi dengan mengejar nilai akademik. Mahasiswa juga perlu mencari kesempatan untuk menerapkan pengetahuan, mengembangkan keterampilan, dan belajar bertanggung jawab atas pekerjaan yang diberikan.
Bukan berarti setiap mahasiswa harus memiliki pengalaman kerja sejak semester awal. Kesempatan setiap orang berbeda-beda. Namun, selama masih kuliah, kita dapat mulai mengenali bidang yang diminati, melatih kemampuan komunikasi, mengerjakan proyek, atau mengikuti kegiatan yang relevan dengan tujuan karier.
Dengan begitu, ketika menghadapi proses rekrutmen, kita tidak hanya mengatakan bahwa kita mampu, tetapi juga mempunyai pengalaman atau bukti yang dapat menjelaskan kemampuan tersebut.
Rekrutmen dan Seleksi Bukan Proses yang Sama
Satu hal lain yang menarik perhatian saya adalah perbedaan antara rekrutmen dan seleksi. Keduanya sering disebut bersamaan, padahal memiliki fungsi yang berbeda.
Rekrutmen merupakan proses mencari dan menarik calon tenaga kerja untuk melamar suatu posisi. Setelah calon pelamar terkumpul, perusahaan melakukan seleksi untuk menilai siapa yang paling sesuai dengan persyaratan pekerjaan.
Pemahaman ini membuat saya menyadari bahwa tidak dipanggil untuk wawancara atau tidak lolos seleksi tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki kemampuan. Bisa jadi, kualifikasinya belum sesuai dengan kebutuhan posisi tertentu, atau terdapat kandidat lain yang lebih cocok untuk pekerjaan tersebut.
Tentu saja, proses seleksi yang baik tetap harus dilakukan secara adil dan berdasarkan kriteria yang relevan. Perusahaan juga perlu menyampaikan persyaratan pekerjaan dengan jelas agar pelamar memahami apa yang dibutuhkan.
Dari sisi mahasiswa, hal ini dapat menjadi pelajaran untuk mengevaluasi diri tanpa langsung menganggap diri sendiri tidak layak. Kita bisa memeriksa kembali keterampilan, pengalaman, dan kualitas lamaran, lalu memperbaiki bagian yang masih kurang.
Mahasiswa Perlu Menyiapkan Diri, Perusahaan Perlu Memilih dengan Tepat
Menurut saya, kesiapan memasuki dunia kerja merupakan tanggung jawab yang perlu dilihat dari dua sisi. Mahasiswa perlu berusaha meningkatkan kompetensi, sedangkan perusahaan perlu merencanakan kebutuhan tenaga kerja dan melakukan seleksi secara profesional.
Jika mahasiswa hanya berfokus pada kelulusan tanpa memahami kebutuhan pekerjaan, persiapan kariernya mungkin menjadi kurang terarah. Sebaliknya, jika perusahaan tidak merencanakan kebutuhan SDM dengan baik, proses perekrutan berisiko tidak menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Karena itu, perencanaan SDM bukan hanya konsep yang perlu dihafalkan untuk menghadapi ujian. Konsep ini dapat membantu mahasiswa memahami bahwa dunia kerja memiliki kebutuhan, standar, dan proses yang perlu dipersiapkan.
Saya sendiri memandang masa kuliah sebagai kesempatan untuk membangun fondasi tersebut. Tidak semua hal harus dikuasai sekaligus, tetapi akan lebih baik jika kita mulai mengenali kemampuan yang perlu dikembangkan sebelum benar-benar memasuki dunia kerja.
Pada akhirnya, memperoleh pekerjaan memang bukan sesuatu yang sepenuhnya bisa kita kendalikan. Ada persaingan, kebutuhan perusahaan, dan berbagai kondisi yang berada di luar kemampuan pribadi. Namun, kita tetap bisa mengusahakan hal-hal yang berada dalam kendali kita: belajar, meningkatkan keterampilan, mencari pengalaman yang relevan, dan memahami pekerjaan yang ingin dituju.
Bagi saya, itulah salah satu pelajaran penting dari perencanaan SDM. Persiapan karier tidak seharusnya baru dimulai ketika ijazah sudah berada di tangan. Persiapan itu dapat dimulai sekarang, ketika kita masih menjadi mahasiswa dan masih memiliki ruang untuk belajar, mencoba, serta memperbaiki diri.
