Kekurangan Karyawan, Beban Kerja Bertambah: Sampai Kapan Harus Bertahan?

Mahasiswa Universitas Pamulang dan bekerja di bidang administrasi serta akuntansi. Menulis tentang bisnis, digital marketing, dunia kerja, dan pengembangan diri.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Arsha Rizmeira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah merasa pekerjaan seperti tidak ada habisnya, bahkan ketika jam pulang sudah tiba? Satu tugas belum selesai, tugas lain sudah menunggu. Pekerjaan rekan yang keluar ikut ditangani, target tetap harus tercapai, tetapi jumlah karyawan tidak kunjung bertambah. Lama-lama, pulang tepat waktu terasa seperti kemewahan.
Situasi ini bukan sekadar tentang sibuk bekerja. Ketika perusahaan kekurangan karyawan, beban yang seharusnya dibagi kepada beberapa orang bisa menumpuk di pundak mereka yang masih bertahan. Mereka dituntut tetap produktif, teliti, dan bertanggung jawab, seolah tenaga dan waktu yang dimiliki tidak memiliki batas.
Awalnya mungkin terasa seperti membantu perusahaan melewati masa sulit. Namun, bagaimana jika kondisi tersebut berlangsung berbulan-bulan? Sampai kapan karyawan harus terus menanggung pekerjaan tambahan tanpa kejelasan kapan keadaan akan membaik?
Mengambil alih pekerjaan tambahan mungkin terasa seperti bentuk kerja sama untuk membantu perusahaan. Namun, ketika kondisi ini terus berlangsung, pekerjaan yang menumpuk bisa menjadi beban yang melelahkan. Karyawan bukan hanya dituntut menyelesaikan tugasnya sendiri, tetapi juga harus memastikan pekerjaan tambahan tetap berjalan. Dari sinilah kekurangan karyawan mulai menjadi persoalan serius, terutama ketika beban kerja terus bertambah tanpa diimbangi pembagian tugas dan jumlah tenaga kerja yang memadai.
Ketika Satu Orang Harus Mengerjakan Banyak Hal
Kekurangan karyawan bukan sekadar persoalan jumlah tenaga kerja. Dampaknya bisa terlihat dari pekerjaan sehari-hari yang semakin menumpuk. Misalnya, ketika satu karyawan mengundurkan diri, tugas yang sebelumnya dikerjakan orang tersebut harus dibagi kepada karyawan lain. Sayangnya, pembagian tugas ini sering kali tidak diikuti pengurangan target atau penyesuaian tenggat waktu.
Bayangkan seorang karyawan administrasi yang biasanya bertugas membuat laporan. Karena jumlah tenaga kerja terbatas, ia juga harus mengurus data penjualan, memeriksa transaksi, menjawab pertanyaan dari bagian lain, hingga menyelesaikan pekerjaan yang mendadak diminta atasan. Semua tugas itu harus dikerjakan dalam jam kerja yang sama, sementara setiap pekerjaan memiliki tingkat kepentingan masing-masing.
Situasi serupa juga bisa terjadi di toko. Ketika jumlah karyawan tidak mencukupi, satu orang mungkin harus melayani pelanggan, memeriksa stok barang, merapikan produk, sekaligus menangani transaksi. Saat pelanggan datang bersamaan, pelayanan menjadi lebih lambat dan risiko kesalahan pencatatan atau transaksi pun meningkat. Akibatnya, bukan hanya karyawan yang kewalahan, pelanggan juga bisa merasakan dampaknya.
Jika kondisi ini terus berulang, karyawan mungkin mulai terbiasa bekerja melewati jam pulang demi menyelesaikan tugas yang belum selesai. Waktu istirahat berkurang, pekerjaan pribadi tertunda, dan kesempatan untuk memulihkan tenaga semakin sedikit. Ironisnya, ketika hasil kerja mulai menurun karena kelelahan, karyawan justru bisa dianggap kurang produktif.
Padahal, persoalannya belum tentu terletak pada kemampuan atau kemauan karyawan untuk bekerja. Bisa jadi, jumlah pekerjaan memang sudah tidak sebanding dengan jumlah orang yang tersedia. Karena itu, perusahaan perlu melihat beban kerja secara menyeluruh, bukan hanya menilai apakah semua tugas akhirnya selesai.
Bukan Hanya Lelah Fisik, Pikiran Juga Ikut Terbebani
Beban kerja yang terus menumpuk tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga pikiran. Karyawan bisa merasa sulit beristirahat karena memikirkan pekerjaan yang belum selesai. Waktu untuk keluarga, aktivitas pribadi, bahkan tidur pun dapat terganggu ketika pekerjaan sering melewati jam kerja.
Jika berlangsung terus-menerus, tekanan tersebut dapat meningkatkan risiko stres dan burnout, yaitu kondisi kelelahan akibat tekanan pekerjaan yang berkepanjangan. Penelitian mengenai beban kerja dan burnout juga menunjukkan pentingnya memperhatikan kondisi kerja agar kinerja karyawan tetap terjaga.
Tentu, setiap karyawan memiliki kondisi dan kemampuan yang berbeda. Namun, perusahaan perlu menyadari bahwa tenaga manusia memiliki batas. Karyawan tidak bisa terus-menerus diminta bekerja lebih banyak tanpa mempertimbangkan waktu, tenaga, dan kapasitas yang tersedia.
Karyawan yang Bertahan Bukan Berarti Tidak Keberatan
Ada satu hal yang sering luput diperhatikan: karyawan yang tetap bekerja dan menyelesaikan tugasnya belum tentu merasa baik-baik saja.
Sebagian karyawan memilih diam karena tidak ingin dianggap mengeluh. Ada pula yang merasa tidak enak kepada rekan kerja atau khawatir dinilai tidak mampu menjalankan tanggung jawabnya. Akhirnya, mereka tetap menerima pekerjaan tambahan meskipun beban yang ditanggung sudah semakin berat.
Padahal, menyampaikan bahwa pekerjaan terlalu banyak bukan berarti seseorang malas atau tidak bertanggung jawab. Justru, komunikasi mengenai kapasitas kerja diperlukan agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik tanpa mengorbankan kondisi karyawan.
Perusahaan juga perlu memahami bahwa kesediaan karyawan untuk membantu dalam situasi darurat seharusnya tidak dijadikan alasan untuk membiarkan kekurangan tenaga kerja berlangsung tanpa solusi.
Solusinya Bukan Sekadar Meminta Karyawan Bekerja Lebih Cepat
Ketika jumlah karyawan tidak mencukupi, perusahaan perlu mengevaluasi pembagian tugas dan kebutuhan tenaga kerja. Jika pekerjaan terus bertambah sementara jumlah karyawan tetap sama, meminta semua orang bekerja lebih cepat bukanlah solusi jangka panjang.
Perusahaan dapat menentukan prioritas pekerjaan, membagi tugas secara lebih adil, mengevaluasi target yang tidak realistis, serta mempercepat proses perekrutan untuk posisi yang kosong. Jika diperlukan, penyesuaian jam kerja dan dukungan tambahan juga perlu dipertimbangkan.
Di sisi lain, karyawan dapat menyampaikan kendala secara jelas, termasuk pekerjaan yang sedang ditangani dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Dengan begitu, atasan dapat menentukan prioritas berdasarkan kondisi nyata, bukan sekadar menganggap semua pekerjaan bisa diselesaikan sekaligus.
Produktivitas Tidak Bisa Bergantung pada Pengorbanan Karyawan
Perusahaan tentu membutuhkan karyawan yang bertanggung jawab dan mampu bekerja secara produktif. Namun, produktivitas yang berkelanjutan tidak seharusnya dibangun dari kebiasaan menambah beban kerja kepada orang yang sama setiap kali terjadi kekurangan tenaga kerja.
Karyawan yang kelelahan berisiko kehilangan fokus, melakukan kesalahan, dan semakin sulit mempertahankan kualitas pekerjaannya. Dalam jangka panjang, kondisi kerja yang tidak seimbang juga dapat membuat karyawan mempertimbangkan untuk mencari tempat kerja lain. Jika karyawan yang tersisa akhirnya ikut mengundurkan diri, perusahaan justru berpotensi menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja yang semakin besar.
Pada akhirnya, kekurangan karyawan bukan hanya persoalan pekerjaan yang menumpuk, melainkan juga persoalan bagaimana perusahaan mengelola sumber daya manusia. Karyawan memang memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaannya, tetapi perusahaan juga bertanggung jawab menyediakan pembagian kerja dan jumlah tenaga yang sesuai dengan kebutuhan.
Sebab, karyawan yang bertahan bukan berarti sanggup menanggung semuanya. Pertanyaannya, apakah perusahaan sedang membangun produktivitas yang sehat atau justru mengandalkan karyawan untuk terus bekerja melampaui batas kemampuannya?
