Bukan Tidak Bisa Tidur, Kita Hanya Terlalu Sering Menunda

Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Sistem Informasi S1
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Arya Candra Winata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu kebiasaan yang cukup dekat dengan kehidupan mahasiswa: menunda pekerjaan sampai akhirnya harus dikerjakan pada malam hari. Tugas yang diberikan beberapa hari sebelumnya sering kali masih dibiarkan karena merasa waktunya masih panjang. “Nanti saja, masih ada waktu,” menjadi kalimat yang terdengar sederhana, tetapi sering membuat pekerjaan menumpuk.
Ketika malam tiba, barulah rasa panik muncul. Laptop dibuka, materi dikumpulkan, tugas mulai dikerjakan, dan waktu tidur perlahan dikorbankan. Yang awalnya hanya ingin mengerjakan tugas sebentar akhirnya berlanjut sampai tengah malam, bahkan dini hari.
Pada kondisi seperti ini, sebenarnya kita bukan tidak bisa tidur. Kita hanya terlalu sering menunda.
Siang untuk Bersantai, Malam untuk Mengejar
Sebagai mahasiswa, waktu dalam sehari sebenarnya cukup banyak jika digunakan dengan baik. Setelah mengikuti perkuliahan, masih ada waktu untuk mengerjakan tugas atau mempersiapkan kegiatan untuk hari berikutnya.
Namun, godaan untuk beristirahat setelah kuliah sering kali lebih besar. Membuka media sosial, bermain gim, menonton video, atau sekadar berbaring di tempat tidur terasa lebih menyenangkan daripada membuka tugas.
Tidak ada yang salah dengan beristirahat. Masalah muncul ketika waktu bersantai tidak memiliki batas yang jelas. Niatnya hanya bermain ponsel selama beberapa menit, tetapi akhirnya berlangsung hingga berjam-jam.
Ketika tersadar, waktu sudah malam dan tugas belum dikerjakan.
“Masih Ada Besok” yang Berujung Tengah Malam
Menunda pekerjaan biasanya tidak langsung terasa sebagai sebuah masalah. Ketika tugas diberikan pada hari Senin dan dikumpulkan pada Jumat, masih ada rasa aman karena batas waktunya terlihat jauh.
Hari Selasa tugas belum dikerjakan karena merasa masih punya tiga hari. Hari Rabu masih berpikir bahwa besok masih ada waktu. Kamis malam akhirnya mulai merasa khawatir.
Kemudian Jumat dini hari menjadi waktu untuk menyelesaikan semuanya.
Kebiasaan seperti ini membuat seseorang seolah-olah bekerja paling baik ketika berada di bawah tekanan. Padahal, tekanan tersebut sebenarnya muncul karena pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan secara bertahap justru dikumpulkan pada satu waktu.
Begadang Menjadi Jalan Keluar
Ketika pekerjaan sudah menumpuk, begadang terlihat seperti satu-satunya pilihan. Tidur terasa tidak mungkin dilakukan karena tugas belum selesai.
Di sinilah muncul kebiasaan yang sering dialami mahasiswa. Malam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat berubah menjadi waktu untuk mengejar tugas.
Ada yang ditemani kopi, ada yang menggunakan musik agar tetap terjaga, dan ada pula yang terus membuka ponsel untuk mencari referensi. Jam menunjukkan pukul dua pagi, tetapi pekerjaan masih belum selesai.
Pada akhirnya, tugas mungkin berhasil dikumpulkan. Namun, pagi berikutnya harus tetap dijalani. Kuliah tetap dimulai sesuai jadwal, sementara tubuh belum mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Bukan Hanya Masalah Jam Tidur
Jika dipikir kembali, persoalan begadang dalam kondisi tersebut sebenarnya bukan hanya tentang jam tidur. Ada kebiasaan lain yang menjadi penyebabnya, yaitu menunda pekerjaan.
Kita sering berusaha memperbaiki waktu tidur dengan mengatakan, “Malam ini harus tidur lebih cepat.” Namun, jika tugas masih dibiarkan sampai mendekati tenggat waktu, kemungkinan besar pola yang sama akan terulang.
Karena itu, perubahan tidak cukup hanya dilakukan pada malam hari. Cara menggunakan waktu sejak siang juga perlu diperhatikan.
Daripada menghabiskan beberapa jam untuk menyelesaikan tugas sekaligus pada tengah malam, pekerjaan dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Mencari bahan dapat dilakukan hari ini, membuat kerangka tulisan besok, kemudian menyelesaikan isinya pada hari berikutnya.
Dengan begitu, tugas tidak terasa seperti beban besar yang harus diselesaikan dalam satu malam.
Tidak Semua Begadang Berarti Buruk
Meski begitu, bukan berarti semua kegiatan hingga larut malam harus dianggap sebagai kesalahan. Ada keadaan tertentu yang memang membuat seseorang harus menyelesaikan pekerjaan lebih lama.
Mahasiswa bisa saja memiliki tugas mendadak, kegiatan organisasi, pekerjaan sambilan, atau tanggung jawab lain yang tidak dapat diselesaikan pada siang hari.
Yang menjadi persoalan adalah ketika begadang terus dilakukan karena kebiasaan menunda. Jika hampir setiap tugas berakhir dengan tidur larut malam, mungkin yang perlu diperbaiki bukan hanya waktu tidur, tetapi juga cara mengatur waktu.
Ada perbedaan antara begadang karena keadaan yang tidak dapat dihindari dan begadang karena pekerjaan sengaja ditunda hingga batas terakhir.
Mulai dari Pekerjaan Kecil
Menghilangkan kebiasaan menunda memang tidak mudah. Tidak perlu langsung mengubah seluruh rutinitas dalam satu hari.
Kita bisa memulainya dari hal sederhana. Ketika mendapatkan tugas, jangan menunggu sampai memiliki banyak waktu luang. Cukup buka tugas tersebut, baca instruksinya, kemudian kerjakan bagian yang paling mudah terlebih dahulu.
Lima belas atau tiga puluh menit yang digunakan untuk mengerjakan tugas pada siang hari mungkin terlihat tidak banyak. Namun, pekerjaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat mengurangi beban ketika tenggat waktu semakin dekat.
Selain itu, penggunaan ponsel juga perlu dikendalikan ketika sedang mengerjakan sesuatu. Media sosial dan gim tidak akan kehabisan waktu untuk digunakan. Tugas, sebaliknya, memiliki batas pengumpulan.
Belajar Menghargai Waktu Sendiri
Menjadi mahasiswa berarti memiliki kebebasan yang lebih besar dalam mengatur kegiatan. Tidak selalu ada orang yang mengingatkan kapan tugas harus dikerjakan atau kapan waktunya beristirahat.
Kebebasan tersebut juga membawa tanggung jawab.
Menurut saya, salah satu bentuk menghargai diri sendiri adalah tidak terus-menerus membuat diri sendiri berada dalam keadaan terdesak. Menyelesaikan pekerjaan lebih awal bukan berarti kita harus selalu sibuk. Justru dengan menyelesaikannya secara bertahap, kita bisa memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat dan melakukan kegiatan lain.
Pada akhirnya, mungkin kita bukan tidak bisa tidur lebih awal. Kita hanya terlalu sering menggunakan waktu siang untuk berkata, “Nanti saja.”
Kalimat tersebut memang terdengar sederhana. Namun, jika terlalu sering diucapkan, “nanti” bisa berubah menjadi tengah malam, lalu menjadi dini hari.
Jadi, sebelum menyalahkan begadang karena membuat pagi berantakan, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya kapan kita mulai menunda?
