AI Tidak Hanya untuk Perusahaan Besar: UMKM Bisa Mulai dari Layanan Pelanggan

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari arya dafaq mahiba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat calon pembeli mengirim pesan pada malam hari, pemilik usaha kecil belum tentu bisa langsung membalas. Pemilik mungkin sedang menyiapkan pesanan, mengurus stok, atau beristirahat setelah seharian bekerja. Namun, calon pembeli tetap membutuhkan informasi yang jelas. Jika jawaban terlalu lama datang, mereka bisa beralih ke toko lain.
Situasi ini menunjukkan bahwa tantangan digitalisasi tidak berhenti pada pembuatan akun marketplace atau penerimaan pembayaran digital. Usaha juga perlu mengelola komunikasi dengan pelanggan. Data Badan Pusat Statistik yang dirilis melalui publikasi Statistik E-Commerce 2024 menunjukkan bahwa jumlah usaha e-commerce Indonesia tumbuh 15,30 persen pada 2024 dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut membuat kanal digital semakin penting sebagai bagian dari kegiatan usaha.

AI berbasis layanan pelanggan dapat menjadi salah satu pilihan. Sistem ini bisa membantu menjawab pertanyaan dasar seperti harga, ukuran, variasi produk, jam operasional, status pengiriman, dan ketentuan retur. Dengan jawaban yang konsisten, pemilik usaha tidak perlu mengetik ulang informasi yang sama sepanjang hari. Waktu yang tersedia bisa dialihkan ke pekerjaan yang memerlukan keputusan manusia.
Namun, UMKM tidak perlu langsung memasang sistem yang mahal. Langkah awal yang lebih masuk akal ialah mencatat sepuluh pertanyaan yang paling sering diterima, lalu menyiapkan jawaban yang singkat dan akurat. Setelah itu, pemilik dapat menilai apakah fitur otomatis pada platform yang sudah digunakan cukup memenuhi kebutuhan. Jika belum, barulah opsi chatbot AI dibandingkan.
Penerapan AI juga membutuhkan batas yang jelas. Sistem sebaiknya tidak membuat janji tentang stok, harga, waktu pengiriman, atau pengembalian dana jika data tersebut belum terverifikasi. Pertanyaan yang tidak dipahami sistem harus diteruskan kepada manusia. Pelanggan perlu mendapat jalan untuk berbicara dengan pemilik atau staf ketika masalahnya tidak sederhana.
Ukuran keberhasilan bukan jumlah teknologi yang dipasang. Pemilik perlu memeriksa apakah waktu respons membaik, pertanyaan berulang berkurang, kesalahan informasi menurun, dan pelanggan tetap merasa dilayani. Jika hasilnya tidak terlihat, proses perlu diperbaiki atau alatnya dievaluasi. Bagi UMKM, digitalisasi yang berguna adalah digitalisasi yang membantu pekerjaan sehari-hari, bukan sekadar mengikuti tren.
