Penjualan UMKM Bisa Naik Lewat WhatsApp Business, Asal Kebiasaan Membalas Chat Berubah

mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang yang tertarik pada dunia ekonomi, bisnis, dan keuangan. saya menulis untuk berbagi wawasan dan informasi yang bermanfaat bagi pembaca.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Aryanti Sekar Kinanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurut saya, banyak pemilik usaha kecil mengira penjualan UMKM baru bisa naik kalau punya modal iklan besar. Padahal beberapa penelitian kecil di Indonesia memperlihatkan hal yang lebih sederhana: usaha jadi lebih mudah dijangkau pembeli lewat WhatsApp Business, aplikasi gratis yang dibuat khusus untuk keperluan usaha. Dua kasus di bawah ini menurut saya cukup menggambarkannya.
Warung Bakso yang Dulu Hanya Menunggu Pembeli Datang
Menurut penelitian tim Universitas Advent Indonesia yang dimuat di jurnal MARTABE tahun 2026, sebuah usaha bakso awalnya hanya melayani pembeli yang datang langsung, tanpa jalur pemesanan jarak jauh. Komunikasi dengan pelanggan pun masih manual. Pertanyaan yang itu-itu saja, seperti harga, menu, dan ketersediaan produk, harus dijawab satu per satu.
Setelah Pakai WhatsApp Business, Porsi Terjualnya Bertambah
Tim peneliti lalu membantu pemiliknya membuat profil usaha, katalog menu, dan balasan cepat. Balasan cepat itu dipakai untuk mencatat nama pemesan, jenis pesanan, pilihan saus atau bumbu, dan metode pembayaran. Hasilnya, penjualan harian naik dari kisaran 100-150 porsi menjadi 150-200 porsi, atau sekitar 33-50 persen. Antrean juga lebih teratur, karena pembeli bisa memesan lebih dulu dan pesanan disiapkan sebelum diambil.
Saya perlu jujur soal batasannya. Ini studi pada satu usaha dengan pemantauan sekitar dua minggu, dan angka penjualannya berasal dari wawancara dengan pemilik usaha. Jadi hasil ini tidak bisa dijanjikan untuk semua UMKM. Tetapi menurut saya, alasan di baliknya masuk akal: pembeli lebih mudah melihat menu, lebih mudah memesan, dan lebih cepat dilayani.
Toko Kebutuhan Harian yang Tak Cocok Jualan di E-Commerce
Kasus kedua datang dari penelitian dosen Universitas Insan Pembangunan Indonesia pada 2023 tentang sebuah toko kebutuhan sehari-hari di Tangerang. Pembeli toko ini hanya warga sekitar, sehingga e-commerce dinilai kurang cocok. Ongkos kirim bahkan bisa lebih mahal daripada harga barangnya. Solusinya adalah WhatsApp Business: pembeli cukup menyimpan nomor toko, membuka katalog, memilih produk dan jumlahnya, lalu pemilik menerima pesan berisi daftar barang beserta perkiraan total harga.
Penelitian ini bersifat deskriptif dan tidak melaporkan angka kenaikan penjualan, jadi saya tidak mau mengklaim lebih. Tetapi menurut saya, contohnya penting. Tidak semua usaha butuh toko di marketplace. Sering kali cukup saluran yang sudah dipakai pembelinya setiap hari.
Ada Kelemahannya: Stok Harus Diatur Sendiri
Penelitian yang sama juga mencatat kekurangannya. Aplikasi ini tidak menghitung stok otomatis saat barang terjual, sehingga pemilik harus menonaktifkan produk yang habis secara manual. Menurut saya, hal kecil seperti ini yang sering membuat pelanggan kecewa. Katalog menampilkan barang yang ternyata sudah habis. Jadi aplikasi gratis tetap menuntut pemiliknya telaten.
Calon Pembelinya Sudah Ada di WhatsApp
Dari sisi pemakaian, menurut pemaparan perwakilan Facebook Indonesia yang dimuat Kontan, sekitar 6 juta pengguna di Indonesia melihat katalog produk dan jasa UMKM di WhatsApp Business setiap bulan, sementara jumlah UMKM saat itu sekitar 60 juta. Data ini sudah beberapa tahun, tetapi menurut saya gambaran besarnya tetap relevan. Calon pembeli sudah ada di sana, dan masih banyak pemilik usaha yang belum memanfaatkannya serius.
Alatnya Gratis, yang Mahal Itu Disiplinnya
Dari dua kasus tadi, menurut saya pelajarannya jelas. Aplikasinya tidak membuat usaha otomatis laris. Katalog yang fotonya buram atau harganya lama tidak menolong. Pesan otomatis terasa dingin kalau tidak diikuti balasan ramah dari orang sungguhan. Saya juga kurang setuju dengan kebiasaan mengirim promo massal ke semua kontak. Menurut saya itu mengganggu, dan pelanggan yang risih bisa saja melaporkan nomor kita.
Kalau saya menjadi pemilik usaha kecil, saya tidak akan mencoba semua fitur sekaligus. Saya akan memisahkan nomor usaha dari nomor pribadi, membuat katalog untuk beberapa produk andalan, menyiapkan balasan cepat untuk pertanyaan yang berulang, lalu mencatat setiap minggu berapa chat yang masuk dan berapa yang jadi pesanan. Dari catatan itu kita tahu apa yang berhasil, tanpa menebak-nebak.
Pada akhirnya, menurut saya penjualan naik karena pembeli merasa dilayani dengan cepat dan jelas. Itu bisa dimulai hari ini, tanpa biaya tambahan.
