Konten dari Pengguna

Studi Kelayakan Bisnis: Ide Usaha Bagus Saja Belum Cukup, Cek Dulu Sebelum Modal Keluar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Aryanti Sekar Kinanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/id/illustrations/bursa-efek-jerman-frankfurt-911619/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/illustrations/bursa-efek-jerman-frankfurt-911619/

Studi kelayakan bisnis sering dilewati karena banyak orang merasa sudah cukup yakin: idenya bagus, semangatnya tinggi, dan modalnya sudah siap. Menurut saya, keyakinan itu belum cukup. Ide usaha yang bagus baru sebatas dugaan, dan dugaan perlu diuji sebelum modal keluar, sekecil dan sesederhana apa pun caranya. Di artikel ini saya jelaskan alasannya, lalu saya dukung dengan hasil penelitian.

Kenapa Studi Kelayakan Itu Penting

Studi kelayakan bisnis pada dasarnya adalah penilaian apakah suatu usaha layak dijalankan, baik dari sisi keuangan maupun non-keuangan seperti pasar, lokasi, dan operasional. Menurut penelitian Mahardika (2024) pada UMKM tahu di Kediri, studi kelayakan berperan meminimalkan risiko dan membantu pengambilan keputusan karena usaha dinilai dari aspek finansial dan non-finansial sekaligus.

Menurut saya, inti dari semua itu sederhana: kita menguji dulu keyakinan kita sebelum membayar mahal untuk mengetahui kalau ternyata keliru. Rasa yakin itu enak, tetapi tidak sama dengan bukti.

Apa Kata Penelitian tentang Usaha yang Gagal?

Menurut penelitian Husaini dan Hutar (2022) di Waingapu, Sumba Timur, yang mewawancarai pemilik lima usaha yang gagal, penyebab kegagalan terbagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya meliputi ketidakmampuan mengelola usaha, kurangnya pengalaman, pengendalian keuangan yang buruk, pemasaran yang lemah, pertumbuhan yang tidak terkendali, dan piutang yang tidak tertagih. Faktor eksternalnya adalah lokasi usaha.

Menurut analisis CB Insights terhadap catatan post-mortem para pendiri startup yang gagal, alasan yang paling sering disebut adalah tidak adanya kebutuhan pasar (42 persen), disusul kehabisan uang tunai (29 persen). Artinya, banyak usaha gagal bukan karena produknya tidak dibuat dengan baik, tetapi karena tidak ada cukup orang yang membutuhkannya.

Menurut saya, kedua temuan ini saling melengkapi. Hampir semua penyebab yang disebut, seperti pasar, keuangan, pemasaran, dan lokasi, sebenarnya bisa dicek sebelum modal keluar. Itulah gunanya studi kelayakan.

Meski begitu, kedua sumber ini perlu dibaca hati-hati. Penelitian di Waingapu bersifat kualitatif dengan hanya lima usaha, sedangkan data CB Insights berasal dari startup, yang tidak persis sama dengan UMKM. Menurut saya, keduanya lebih tepat dipakai sebagai gambaran pola, bukan angka pasti untuk usaha kita.

Lima Hal yang Menurut Saya Perlu Dicek Dulu

Dari penyebab kegagalan di atas, menurut saya ada lima hal yang sebaiknya dicek sebelum mengeluarkan modal besar:

Pasar. Siapa calon pembelinya, dan apakah mereka benar-benar mau membayar? Pertanyaan ini langsung menjawab risiko “tidak ada kebutuhan pasar”.

Lokasi. Apakah tempat usaha mudah dijangkau calon pembeli? Penelitian di Waingapu menempatkan lokasi sebagai faktor eksternal penyebab kegagalan.

Modal dan biaya. Berapa modal awal, biaya tetap bulanan, dan biaya per produk? Ini untuk menghindari kehabisan uang sebelum usaha stabil.

Titik impas. Berapa penjualan minimum agar usaha tidak rugi?

Kesiapan pengelola. Apakah kita punya waktu, kemampuan, dan pengalaman untuk mengelola usaha ini, termasuk mencatat keuangan dan memasarkan produk?

Cara Sederhana Menguji Kelayakan Usaha

Menurut saya, banyak orang takut pada studi kelayakan karena membayangkan dokumen tebal dengan rumus yang rumit. Padahal untuk usaha kecil, versi sederhananya sudah sangat membantu.

Tes pasar kecil. Tanyakan ke sekitar 20 sampai 30 calon pembeli, atau coba jual lewat pre-order sebelum menyewa tempat. Kalau tidak ada yang tertarik membayar, itu informasi berharga yang didapat dengan biaya murah.

Hitung titik impas. Rumus dasarnya: biaya tetap dibagi selisih harga jual dan biaya per produk. Sebagai contoh fiktif, bayangkan sebuah usaha makanan dengan biaya tetap Rp3.000.000 per bulan, harga jual Rp25.000 per porsi, dan biaya bahan Rp12.000 per porsi. Selisihnya Rp13.000, sehingga titik impasnya sekitar 231 porsi per bulan atau kurang lebih 8 porsi per hari. Dengan hitungan seperti ini, kita langsung tahu target itu realistis atau tidak.

Siapkan skenario terburuk. Tanyakan pada diri sendiri: kalau penjualan hanya setengah dari target, berapa bulan saya sanggup bertahan?

Kalau Hasilnya Ternyata Belum Layak

Menurut saya, hasil “belum layak” bukan kegagalan, justru keuntungan. Kita mengetahuinya sebelum seluruh tabungan habis. Dari situ ada banyak pilihan: mengubah konsep, mencari lokasi yang lebih cocok, mulai dengan skala lebih kecil, atau menunda sampai persiapan lebih matang.

Penutup

Pada akhirnya, menurut saya, semangat dan ide bagus tetap penting, tetapi keduanya tidak cukup untuk menjaga usaha tetap hidup. Penelitian menunjukkan bahwa banyak penyebab kegagalan terkait hal yang sebenarnya bisa dicek lebih awal: pasar, keuangan, pemasaran, dan lokasi.

Jadi, sebelum menyewa tempat, membeli peralatan, atau menaruh tabungan ke dalam usaha, luangkan waktu untuk memeriksa dulu. Dugaan yang sudah diuji jauh lebih aman dijadikan dasar keputusan daripada keyakinan semata.