Musuh Terbesar Berinvestasi Bukan Market Melainkan Diri Sendiri

Pemerhati Masalah Ekonomi, Budaya dan Politik / Mahasiswa S2 Program Filantropi Syariah IAI SEBI
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aslamuddin Lasawedy CFP QWP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh :
Aslamuddin Lasawedy CFP®
Perencana Keuangan Independen
Arka bukan orang yang bodoh. Ia tahu apa itu diversifikasi investasi. Ia pernah ikut webinar tentang "Nilai Waktu Dari Uang." Pun cukup disiplin mencatat pengeluaran bulanannya. Namun tetap saja, tabungannya nyaris habis lantaran berinvestasi. Portofolionya kini tinggal jejak merah di aplikasi investasi.
Itu terjadi bukan karena ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun itu semua terjadi lantaran ia tak bisa mengendalikan dirinya. Pengetahuannya berinvestasi kalah dengan emosinya.
Semua itu bermula dari rasa FOMO (fear of missing out) atau rasa takut dibilang ketinggalan. Saat itu semua orang di media sosial bicara tentang cuan dari saham teknologi yang trend grafiknya sedang naik.
Dan Arka, seperti banyak orang lainnya, merasa tertinggal jika tidak ikut bermain saham. Tanpa pikir panjang lagi, Ia langsung bermain saham tanpa riset. Hanya berbekal kalimat, “Yang penting ikut dulu, belajar bisa sambil jalan.”
Tapi ternyata belajar sambil jalan itu berujung pada kerugian finansial. Seminggu kemudian harga saham anjlok. Dan Arka tak punya cukup literasi untuk tahu mengapa itu bisa terjadi.
Sejatinya bermain saham itu memang bukan sekadar tahu cara membeli saham. Pun, tahu kapan dan kenapa membeli saham. Serta siap menerima kenyataan jika salah dan merugi.
Arka sempat untung. Tapi Sedikit. Ketika itu terjadi, ia tidak menjual sahamnya. “Masih bisa naik lagi,” pikirnya. Itulah bias dari keserakahan Arka. Bias psikologis yang jadi musuh tak terlihat. Itu juga yang membuat Arka mengambil keputusan saat harga saham turun, ia tetap tak menjualnya. “Nanti juga harganya berbalik naik,” katanya. Penyangkalannya ini juga merupakan bias psikologis. Arka terjebak dalam apa yang disebut loss aversion atau kecenderungan untuk menahan kerugian karena takut mengaku kalah.
Padahal dalam bermain saham itu penting untuk memahami psikologi diri sendiri, yang sama pentingnya dengan memahami produk keuangan. Sehingga tidak semua kekalahan itu datang dari kurangnya data. Banyak kekalahan justru lahir dari bias psikologi yang tidak dikenali. Sehingga keputusan keuangan terbaik itu bukan soal pintar. Tapi soal kesiapan mental.
Setelah portofolionya merah selama berbulan-bulan, Arka mulai belajar lagi. Kali ini ia tidak hanya membaca buku investasi. Pun buku psikologi keuangan berjudul "The Psychology of Money, Your Money and Your Brain," dan artikel-artikel tentang Perilaku Finansial lainnya.
Setelah membacanya. Ia mulai sadar, bahwa terlalu percaya diri membuat banyak investor merasa lebih pintar dari pasar. Bahwa herding atau kecenderungan seseorang untuk mengikuti tindakan atau keputusan mayoritas dalam suatu situasi, terutama ketika menghadapi ketidakpastian, membuatnya ikut-ikutan berinvestasi tanpa rencana. Bahwa mental accounting Arka, ternyata memperlakukan uang secara emosional, bukan rasional.
Pada akhirnya, Arka mulai menyusun ulang portofolionya. Menyisihkan sebagian uangnya untuk dana darurat. Ia hanya berinvestasi dengan uang yang benar-benar sanggup ia relakan. Arka menyadari bahwa ini bukan soal menjadi kaya-raya seketika. Ini soal menjadi sadar sejak awal tentang risiko, tujuan, dan batas diri sendiri dalam berinvestasi.
Di akhir pekan, Arka duduk menulis di jurnalnya: “Ternyata, musuh terbesarku dalam berinvestasi bukan market. Tapi diriku sendiri yang belum utuh. Bermain saham bukan tentang memilih saham terbaik, tapi tentang memilih versi terbaik dari diri sendiri dalam mengambil keputusan.”
Hari itu, Arka tak lagi mengejar cuan instan. Ia memilih strategi jangka panjang, dengan alokasi dana ke investasi yang jelas, dengan target yang realistis. Ia berhenti mencari sensasi, dan mulai membangun sistem.
Baginya berinvestasi itu tidak cukup hanya bicara soal return dan resiko. Kita juga harus bicara tentang emosi, bias psikologis, dan bagaimana pola pikir kita yang bisa saja menjebak diri kita sendiri.
Keputusan keuangan terbaik adalah keputusan yang kita ambil dengan kesadaran penuh. Bukan lantaran ketakutan kehilangan uang atau terlena dengan harapan kosong, seolah-olah segera kaya-raya.
Dan Arka hanyalah satu dari banyak diantara kita yang belajar dari luka kekalahan dan kehilangan banyak uang. Lalu melangkah menata ulang arah berinvestasi yang benar dan bijak. Weleh, weleh, weleh.(*)
