Mengapa Saya Selalu Mengerjakan Tugas Mendekati Deadline?
Tulisan dari asrina mawarni'ma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat masih sekolah maupun sudah memasuki dunia perkuliahan, saya sering memiliki kebiasaan menunda tugas. Ketika melihat deadline yang masih lama, saya merasa masih memiliki banyak waktu untuk mengerjakannya. Apalagi jika gurunya baik dan tugas tersebut kemungkinan hanya diperiksa sebagai formalitas untuk mengetahui apakah siswa sudah mengerjakan atau belum.
Karena merasa masih memiliki banyak waktu, saya sering memilih untuk bermalas-malasan terlebih dahulu. Tugas yang sebenarnya bisa dikerjakan hari itu akhirnya dipikirkan untuk dikerjakan nanti atau ketika sudah mendekati batas pengumpulan.
Masalahnya, kebiasaan tersebut justru membuat saya panik ketika deadline sudah dekat. Apalagi jika tugas yang diberikan cukup sulit dan membutuhkan waktu untuk dikerjakan secara bertahap. Tugas yang awalnya terlihat masih jauh dari deadline tiba-tiba harus diselesaikan dalam waktu yang singkat.
Ketika sudah panik, terkadang saya malah menyalahkan guru atau dosen. Saya mulai berpikir, “Kenapa tugasnya sesulit ini?” atau “Kenapa harus ada tugas seperti ini?” Padahal, kalau dipikir lagi, mungkin masalahnya bukan hanya pada tugas yang sulit, tetapi karena saya sendiri terlalu sering menundanya.
Saya juga pernah merasakan ketika mengerjakan tugas tepat waktu ternyata hasilnya justru lebih baik. Saya bisa mengerjakannya dengan lebih tenang, punya waktu untuk memperbaiki bagian yang masih kurang, dan yang paling penting adalah merasa lebih lega karena tugas sudah selesai sebelum deadline.
Dari situ saya mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang membuat saya malas mengerjakan tugas sejak awal? Padahal ketika sudah mulai dikerjakan, tugas tersebut tidak selalu sesulit yang saya bayangkan. Ternyata, memulai memang sering terasa lebih sulit daripada mengerjakannya.
Menurut saya, salah satu alasan mahasiswa atau siswa suka menunda pekerjaan adalah karena merasa masih memiliki banyak waktu. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mengerjakan tugas akhirnya digunakan untuk hal lain. Ketika deadline masih lama, tugas terasa seperti bukan sesuatu yang harus diprioritaskan.
Belakangan ini, saya mulai mencoba mengubah kebiasaan tersebut dengan menyicil tugas, terutama tugas yang menurut saya sulit. Saya juga tidak ragu meminta bantuan teman ketika mengalami kesulitan. Cara ini memang belum selalu berhasil dan saya masih belajar untuk konsisten, tetapi setidaknya saya mulai terbiasa untuk tidak menunggu sampai mendekati deadline.
Menurut saya, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membiasakan diri mengerjakan tugas ketika memiliki waktu luang. Tidak harus langsung menyelesaikan semuanya dalam satu waktu. Yang penting, tugas tersebut sudah mulai dikerjakan dan menjadi salah satu prioritas.
Pada akhirnya, menunda tugas memang terasa menyenangkan karena kita merasa masih memiliki banyak waktu. Namun, rasa tenang tersebut biasanya hanya sementara. Ketika deadline semakin dekat, rasa panik justru bisa membuat pekerjaan terasa lebih berat.
Saya sendiri masih belajar untuk mengurangi kebiasaan menunda. Mungkin belum bisa langsung konsisten, tetapi setidaknya saya mulai memahami bahwa mengerjakan tugas lebih awal membuat semuanya terasa lebih ringan. Mau tugasnya mudah atau sulit, kalau memang sudah memiliki waktu untuk mengerjakannya, lebih baik dimulai daripada terus mengatakan, “Nanti saja, masih ada waktu.”

