Terjepit Ditengah: Gen Z Sebagai Generasi Sandwich

Mahasiswa Fakultas Ilmu Politik Universitas Jember
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari astri nadin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi sebagian Gen Z, mulai bekerja bukan berarti bisa langsung menikmati hasil kerja sendiri. Gaji yang didapat harus dibagi untuk banyak hal, mulai dari kebutuhan pribadi, membantu orang tua, kebutuhan rumah, sampai biaya sekolah adik. Akhirnya, keinginan untuk menabung atau menyiapkan masa depan sendiri sering kali harus ditunda.
Kondisi ini dikenal dengan istilah sandwich generation, yaitu orang yang harus membantu memenuhi kebutuhan orang tua sekaligus anggota keluarga lain yang masih bergantung kepadanya. Bagi anak muda yang baru mulai bekerja dan masih berusaha membangun kehidupan sendiri, keadaan ini tentu bukan hal yang mudah.
Menurut data BPS dalam publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2025, keluarga masih menjadi sumber utama uang atau barang bagi 48,56% penduduk lansia di Indonesia. Angka ini memang bukan data khusus generasi sandwich, tetapi menunjukkan bahwa banyak lansia masih mengandalkan dukungan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Membantu orang tua tentu bukan hal yang salah. Namun, bagaimana kalau penghasilan sendiri saja masih pas-pasan? Gen Z bisa dihadapkan pada pilihan sulit antara membantu keluarga, menabung, mengikuti pelatihan untuk mengembangkan kemampuan, atau menyiapkan masa depan. Belum lagi rasa bersalah ketika mereka belum bisa memenuhi kebutuhan keluarga seperti yang diharapkan.
Menurut penulis, masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyuruh anak muda lebih hemat atau pintar mengatur uang. Mengelola keuangan memang penting, tetapi kita juga perlu melihat berapa penghasilan yang didapat dan berapa banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Kalau uang yang masuk saja belum cukup, tentu sulit untuk menyisihkan sebagian demi masa depan.
Karena itu, pemerintah juga perlu ikut mengambil peran. Keluarga memang harus saling membantu, tetapi bukan berarti semua beban harus ditanggung sendiri. Pemerintah perlu memperkuat bantuan sosial bagi keluarga yang membutuhkan, mempermudah akses layanan kesehatan dan perawatan lansia, serta membuka lebih banyak kesempatan kerja yang layak bagi anak muda.
Pemerintah sendiri mulai membahas kesejahteraan antargenerasi melalui pendekatan National Transfer Accounts (NTA). Pendekatan ini digunakan untuk melihat bagaimana sumber daya ekonomi berpindah dan digunakan oleh kelompok usia yang berbeda, sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun kebijakan. Informasi ini disampaikan oleh Kementerian PPN/Bappenas pada April 2026.
Namun, perencanaan saja tidak cukup. Perlu ada kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Jangan sampai Gen Z terus dituntut untuk mandiri secara finansial, sementara kesempatan untuk mencapai kemandirian itu masih terbatas.
Pada akhirnya, membantu orang tua adalah bentuk kasih sayang yang patut dihargai. Namun, anak muda juga punya hak untuk memikirkan masa depannya sendiri. Mereka juga ingin punya tabungan, mengembangkan karier, dan mewujudkan cita-cita tanpa harus selalu merasa bersalah ketika belum bisa memenuhi semua kebutuhan keluarga.
