Konten dari Pengguna

Daya Beli Bertahan Sampai Kapan? Harga Naik, Dompet Menjerit

Astuti Sari

Astuti Sari

Mahasiswa Universitas Pamulang, Pogram Studi Akuntansi

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Astuti Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Dok. Pribadi/AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dok. Pribadi/AI

Daya beli keluarga Indonesia sedang diuji oleh harga yang naik lebih cepat daripada rasa aman di dompet. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan September 2026 mencapai 3,28 persen, naik dari 3,19 persen pada Agustus dan 2,65 persen pada September 2025, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,37 persen. Di sisi lain, Survei Konsumen Bank Indonesia yang dirilis 8 Oktober 2026 mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) 118,1, masih optimistis tetapi turun dari 118,5 pada Agustus. Menurut saya, dua data itu menggambarkan kondisi yang tidak hitam-putih: harga terasa naik, tetapi optimisme belum runtuh.

Daya beli dan harga: apa kata data BPS

Berdasarkan data BPS, pendorong utama inflasi tahunan September adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil 1,28 persen. Komoditas yang menekan antara lain ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, rokok kretek mesin, dan daging sapi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi tahunan tertinggi, yaitu 7,77 persen, terutama karena kenaikan harga emas perhiasan. Seluruh provinsi mengalami inflasi tahunan, artinya tekanan ini bukan masalah satu daerah.

Daya beli dan keyakinan konsumen: sinyalnya beragam

Berdasarkan Survei Konsumen BI, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun dari 109,4 menjadi 107,5, dan Indeks Penghasilan Saat Ini turun dari 118,0 menjadi 114,6. Sebaliknya, Indeks Ekspektasi Konsumen naik dari 127,6 menjadi 128,7. Keyakinan kelompok pengeluaran Rp1 juta sampai Rp2 juta turun ke 107,1, sedangkan kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta mencapai 123,5. Indeks ketersediaan lapangan kerja hanya 101,1, nyaris di batas optimistis 100.

Apakah keyakinan konsumen yang optimistis berarti daya beli aman?

Belum tentu.

BI mencatat rata-rata proporsi pendapatan untuk konsumsi naik dari 74,2 persen menjadi 74,9 persen, sementara proporsi untuk tabungan turun dari 15,8 persen menjadi 15,4 persen. Industry.co.id mengingatkan bahwa data itu belum cukup untuk menyimpulkan konsumsi naik karena daya beli menguat, sebab pendapatan riil dan tekanan pengeluaran rumah tangga juga perlu dihitung.

Teori: upah riil, pangan, dan ekspektasi

Ernst Engel (1857) mengamati bahwa makin rendah pendapatan, makin besar porsi pengeluaran untuk pangan. Karena itu inflasi pangan 4,37 persen lebih menggigit bagi keluarga berpenghasilan rendah, dan selaras dengan keyakinan kelompok Rp1 juta sampai Rp2 juta yang paling lemah dalam survei BI.

Milton Friedman (1957) menjelaskan bahwa konsumsi dipengaruhi oleh penghasilan yang diharapkan dalam jangka panjang, bukan hanya penghasilan hari ini. Ekspektasi yang membaik bisa menopang belanja walaupun penghasilan saat ini terasa melemah, dan itu bisa dibiayai dengan menggerus tabungan. Ini pembacaan saya atas data BI, bukan kesimpulan resmi.

Sebagai ilustrasi hipotetis, bayangkan keluarga berpenghasilan tetap Rp3.000.000 dengan pola rata-rata BI: konsumsi 74,9 persen (Rp2.247.000) dan tabungan 15,4 persen (Rp462.000). Jika harga kebutuhannya naik 3,28 persen, belanja yang sama menjadi sekitar Rp2.320.700, atau bertambah sekitar Rp73.700. Jika tambahan itu diambil dari tabungan, tabungannya turun menjadi sekitar Rp388.300, atau susut sekitar 16 persen. Angka ini rekaan untuk memudahkan penjelasan.

Sampai kapan daya beli bertahan?

Tidak ada tanggal pasti, tetapi ada tiga hal yang menentukan. Pertama, harga pangan: PajakOnline menilai keberhasilan menjaga pasokan cabai, beras, daging ayam, telur, dan komoditas strategis akan menjadi kunci menjaga daya beli hingga akhir 2026. Kedua, lapangan kerja dan penghasilan, yang tercermin dari indeks ketersediaan kerja yang nyaris 100. Ketiga, suku bunga dan kurs, yang memengaruhi harga barang dan biaya cicilan. Analis Mirae Asset yang dikutip Kontan memperkirakan sektor ritel tetap resilien tetapi tumbuh moderat dan selektif, sementara penjualan eceran September diproyeksi tumbuh 1,4 persen. Artinya, daya beli belum runtuh, tetapi ruangnya menyempit.

Yang bisa dilakukan menjaga daya beli

Menurut saya, ada tiga lapis:

Rumah tangga: catat pengeluaran, prioritaskan kebutuhan pokok, jaga dana darurat, dan hindari utang konsumtif.

Pemerintah: jaga pasokan dan distribusi pangan, tepatkan bantuan bagi kelompok rentan, dan dorong penciptaan lapangan kerja.

Pelaku usaha: efisiensi dan harga yang wajar, karena konsumen kini lebih selektif.

Ini bukan saran keuangan pribadi, dan tentu tidak semua keluarga punya ruang untuk menghemat.

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih penting dari “berapa angka inflasinya?” adalah “apa yang masih bisa dibeli dengan penghasilan kita?” Daya beli bukan sekadar angka di slip gaji, tetapi seberapa banyak ketenangan yang bisa dibeli di akhir bulan. Selama harga pangan terjaga dan lapangan kerja tumbuh, optimisme konsumen punya pijakan; tanpa itu, optimisme bisa menipis lebih cepat dari yang kita kira.

Sumber

PajakOnline, Inflasi September 2026 Naik Jadi 3,28 Persen: https://www.pajakonline.com/inflasi-september-2026-naik-jadi-3-28-persen-harga-pangan-jadi-sorotan

Media Indonesia, BPS: Inflasi Tahunan September 2026 Melonjak Jadi 3,28 Persen: https://mediaindonesia.com/ekonomi/939502/bps-inflasi-tahunan-september-2026-melonjak-jadi-328-persen