Konten dari Pengguna

Ketika Hutan FISIP Berubah Jadi Halaman Bermain

Nibras Safitri Agastya

Nibras Safitri Agastya

S1 Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS 2025

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nibras Safitri Agastya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pribadi

Tidak banyak ruang di kampus yang membuat kita ingin berhenti dan tinggal. Sampai suatu sore, tempat itu tiba-tiba ramai, berwarna, dan penuh suara orang bernyanyi.

Itulah yang saya alami di Hutan FISIP UNS pada Minggu sore, 4 Oktober 2026, saat Doelanan 2026 digelar.

Doelanan adalah pentas seni yang diselenggarakan mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS angkatan 2026 dengan tema "Saha Rasa, Saha Karya, Saha Sukha", yang berarti bersama dalam rasa, bersama dalam berkarya, dan bersama dalam bahagia. Acara ini dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menyalurkan ide, bakat, dan kreativitas lewat berbagai seni. Tujuan lainnya adalah mempererat kebersamaan dan memberi kesempatan belajar merancang serta menjalankan sebuah acara, sekaligus melatih kepemimpinan dan kerja sama.

Tempat bermain di tengah kampus

Hal pertama yang saya rasakan adalah suasananya. Acara berlangsung sore hari, saat cahaya mulai melunak dan udara tidak lagi terlalu menyengat. Dalam suasana seperti itu, Hutan FISIP tidak lagi terasa sebagai ruang kampus. Dekorasi dan penataan panggungnya membuat tempat ini seperti arena bermain, dan saya tiba-tiba teringat masa kecil, saat sore identik dengan bermain di luar rumah sampai dipanggil pulang.

Menariknya, kesan itu sejalan dengan identitas acaranya. Logo Doelanan di proposal memuat gambar layang-layang dan gasing, mainan yang akrab bagi banyak orang yang tumbuh di Indonesia. Saya tidak tahu apakah panitia memang menargetkan rasa nostalgia, tetapi di lapangan, rasa itu sampai.

Penontonnya juga ikut membentuk suasana. Ada sekitar seratus orang yang datang dari lingkungan FISIP, dan antusiasmenya terasa sejak awal. Mereka tidak menunggu satu penampilan andalan lalu pulang. Setiap giliran tampil punya daya tariknya sendiri, dan sorak penonton selalu menyambutnya. Keberagaman yang membuat acara tidak datar.

Bentuk acaranya cukup beragam: tari tradisional, drama musikal, modern dance, grup musik, dan flashmob. Keberagaman ini penting, dan bukan sekadar soal "banyak jenis penampilan". Tari tradisional memberi kesan anggun dan tenang. Drama musikal membawa cerita, dan itu membuat penonton harus mengikuti, bukan hanya menonton. Modern dance menaikkan energi. Band mengajak orang ikut bersuara, dan flashmob menutup dengan gerak yang lebih spontan.

Karena ritmenya bergantian seperti itu, acara terasa seperti perjalanan yang punya naik-turun, bukan satu nada yang diulang selama beberapa jam. Saya sempat memperhatikan bahwa perhatian penonton tidak mudah jenuh, padahal biasanya acara pentas seni mudah terasa panjang di tengah.

Sumber: pribadi

Ketika penonton ikut bernyanyi

Bagian yang paling saya ingat adalah penampilan GLARSA Band.

Ada momen di mana penonton mulai bernyanyi bersama. Awalnya satu dua suara, lalu makin banyak, hingga akhirnya suara dari panggung terdengar sama keras dengan suara penonton. Pada titik itu, batas antara penampil dan penonton terasa cair. Kami tidak lagi hanya duduk atau berdiri sebagai pihak yang menyaksikan. Kami ikut menjadi bagian dari pertunjukan itu.

Momen seperti ini sulit direncanakan sepenuhnya. Panitia bisa menyiapkan panggung, suara, dan jadwal, tetapi tidak bisa memaksa orang benar-benar ikut bernyanyi. Yang bisa mereka lakukan adalah menciptakan kondisi supaya hal itu mungkin terjadi, dan menurut saya sore itu kondisi tersebut tercipta. Bagi saya, di situlah rasa "kembali jadi anak-anak" terasa paling nyata: bernyanyi lepas tanpa terlalu memikirkan bagaimana kita terlihat.

Yang berhasil, dan yang bisa dibenahi

Kekuatan Doelanan ada pada beberapa hal. Dekorasinya membuat tempat terasa berbeda. Tata teknisnya cukup rapi, dan penampilan-penampilannya terlihat dipersiapkan dengan matang. Variasi performance menjaga acara tetap bergerak. Dan yang paling utama, panitia berhasil membuat Hutan FISIP punya suasana yang tidak biasa.

Kritik saya ada pada satu hal: kepadatan penonton. Antusiasme yang tinggi membuat beberapa area terasa desak-desakan. Saya tidak melihat ini sebagai kesalahan besar, karena kepadatan itu juga bagian dari energi acara. Orang berkumpul rapat karena mereka ingin ada di sana. Tetapi kalau kegiatan serupa diadakan lagi, pengaturan area penonton dan kenyamanan mereka layak dipikirkan lebih matang, misalnya lewat pembagian ruang yang lebih jelas, agar semangat acara tetap terjaga tanpa membuat orang kesulitan bergerak.

Mengapa ini relevan bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat Doelanan sebagai contoh nyata dari hal-hal yang biasanya hanya kami bahas di kelas. Sebuah acara seperti ini menuntut komunikasi yang jalan di banyak arah: antara panitia, antara panitia dan penampil, dan antara acara dengan penontonnya. Ada koordinasi, kerja sama, kreativitas, dan kemampuan mengelola acara serta penonton. Yang paling menarik bagi saya adalah bagaimana sebuah gagasan, dalam hal ini tentang kebersamaan dan kegembiraan, harus diterjemahkan menjadi sesuatu yang bisa dirasakan orang lain. Gagasan yang bagus belum tentu terasa. Ia baru berhasil kalau ruang, suara, dan orang-orangnya bekerja sama.

Apa yang saya bawa pulang

Doelanan membuat saya sadar bahwa sebuah acara tidak hanya dinilai dari apa yang terjadi di atas panggung. Suasana tempat, dekorasi, teknis, penonton, interaksi, dan cara acara membangun atmosfer, semuanya ikut menentukan pengalaman seseorang. Panggung hanyalah salah satu bagiannya.

Mungkin itu yang membuat sore itu berkesan. Tidak ada yang benar-benar membangun tempat baru. Tempatnya masih sama, pohon-pohonnya masih di situ. Yang berubah adalah cara kami memakainya. Selama beberapa jam, sebuah sudut kampus yang biasanya cuma dilewati berubah menjadi tempat kami bermain, bernyanyi, dan merayakan kebersamaan seperti anak-anak yang belum ingin pulang.