Konten dari Pengguna

Kepemimpinan Cemerlang Hasnan Habib

Atallah Putra Agavi

Atallah Putra Agavi

Mahasiswa FIA UI

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Atallah Putra Agavi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hasnan Habib sebelah ujung kanan (Sumber: twitter.com/fadlizon)
zoom-in-whitePerbesar
Hasnan Habib sebelah ujung kanan (Sumber: twitter.com/fadlizon)

Hasnan Habib mungkin namanya terdengar asing di kalangan anak muda zaman sekarang, tetapi jasa beliau tidak akan pernah pudar dimakan oleh waktu. Sejarah telah menulis namanya sebagai salah satu tokoh yang berperan besar dalam Operasi Pembebasan Woyla pada tahun 1981.

Pada saat itu beliau menjabat sebagai Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Thailand yang pastinya secara langsung memimpin jalannya administrasi daripada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok.

Keberhasilan Operasi Pembebasan Woyla dari sisi diplomasi pastinya tidak akan tercapai apabila KBRI Bangkok sebagai organisasi tidak berjalan dengan baik, di sinilah kecemerlangan daripada kepemimpinan Hasnan Habib yang berlatar belakang seorang perwira tinggi itu terlihat.

Tipe Kepemimpinan Hasnan Habib

Berdasarkan tipe kepemimpinan yang dikemukakan oleh Yukl (2013), Hasnan Habib cenderung memiliki tipe kepemimpinan transformational leadership. Dengan melihat berdasarkan jabatan Dubes yang merupakan sebuah jabatan politis dengan kurun waktu jabatan yang pada umumnya pendek (dinamis), seorang Dubes pastinya akan berusaha untuk memengaruhi bawahannya merasakan adanya kepercayaan, rasa hormat, dan kesetiaan kepada pemimpinnya dalam rangka untuk mengarahkan bawahannya agar bisa menghasilkan hasil kerja yang terbaik.

Hal ini bisa dilihat kala Hasnan Habib berusaha untuk meyakinkan Perdana Menteri Thailand, Prem Tinsulanonda, agar pihak Indonesia bisa melakukan opsi operasi militer. Dengan mengarahkan para atasenya dalam membantu Crisis Center yang dipimpin langsung oleh Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Kabakin) Yoga Soegomo dan juga bernegosiasi dengan pihak pemerintah Thailand. Hasil dari transformational leadership inilah yang menghasilkan "lampu hijau" dari pemerintah Thailand bagi pemerintah Indonesia untuk bisa melakukan opsi operasi militer.

Hasnan Habib dapat mengkoordinir para diplomat KBRI Bangkok dengan efektif maupun efisien sesuai dengan bidang mereka masing-masing tanpa pengecualian dan menghasilkan hasil kerja yang terbaik. Walaupun di antara para atasenya ada yang lebih senior dibanding dia dalam letting angkatan militernya seperti Atase Komunikasi Suratman, tetapi mereka tetap patuh dan mengerjakan apa yang sudah dikoordinasikan oleh Hasnan Habib dengan baik.

Tentu tanpa adanya jiwa kepemimpinan dengan tipe transformational leadership dalam dirinya pastinya akan sulit untuk menghadapi tugas yang sifatnya urgensi dengan perubahan cukup tinggi (dari keadaan biasa ke keadaan krisis) yang memerlukan etos kerja ekstra.

Teori Kepemimpinan Hasnan Habib

Hasnan Habib memiliki bakat menjadi pemimpin karena faktor individu yang dimilikinya. Bakat tersebut juga terus terasah saat beliau menjadi perwira dan memegang jabatan-jabatan penting yang kelak pula menjadikannya terkenal sebagai jenderal pemikir.

Memiliki wawasan yang luas dan berintelektual tinggi dengan ide-ide yang cemerlang inilah yang menjadikan bawahannya sangat menghormati dirinya. Faktor tersebut merupakan sebuah karakteristik yang menjadikannya sebagai pemimpin yang cemerlang yang sesuai dengan trait theory yang dicetuskan oleh Eynsenck (1967). Dalam trait theory terdapat beberapa faktor yang mampu mengidentifikasi pemicu yang mampu memberikan pengaruh yang cukup signifikan dalam mencapai kesuksesan dalam sebuah kepemimpinan yang dikenal dengan istilah effective leaders yang dicetuskan oleh Davis (1972).

Hashan Habib merupakan seorang pemimpin yang mengamalkan konsep effective leaders dari kepemimpinannya. Menurut kesaksian ayah saya yang merupakan salah satu siswa Sekolah Siswa Bangkok (SBI) pada masa itu, Hasnan Habib disetiap kesempatan kunjungannya ke SBI selalu memberikan penyampaian dan diskusi yang sangat berbobot dalam sisi intelektualnya.

Beliau cukup sering berkunjung ke SBI karena pada dasarnya beliau memiliki jiwa pemimpin yang ingin selalu mengayomi bawahannya, maklum beliau adalah salah satu pendiri dari Sekolah Pendidikan Infanteri pada tahun 1955 dan juga menjadi pelatihnya langsung pada saat itu.

Salah satu gagasan yang diungkapkan oleh Hasnan Habib adalah tentang pemuda Indonesia jangan menjadi pemuda yang indolensi. Kata indolensi sangat jarang sekali terdengar oleh khalayak umum dan Hasnan Habib memberikan penjelasan tentang kata tersebut, yaitu jangan sampai pemuda Indonesia yang akan menjadi penerus daripada kepemimpinan negara ini menjadi seorang pemuda yang memiliki kelambanan berpikir.

Dengan penyampaian tersebut dan juga berkaca daripada pribadi Hasnan Habib sendiri yang merupakan seorang perwira pemikir berjiwa workaholic tentu penyampaian narasi tersebut menjadi berkesan dan menjadi sebuah motivasi yang bisa dijadikan renung oleh para siswa SBI. Melihat akan hal ini Hasnan Habib sudah mengamalkan konsep effective leaders baik dari sisi kecerdasan, kedewasaan sosial, motivasi dan juga hubungan manusiawi.