Konten dari Pengguna

Apakah Target Inflasi 2,5% ± 1%, Masih Relevan bagi Indonesia?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari athifa adelia rahmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Badan Pusat Statistik 2020-2026.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Badan Pusat Statistik 2020-2026.

Penerapan sebuah target dalam pengendalian inflasi bekerja seperti kompas di tangan nakhoda: ia tidak menjamin laut tenang, akan tetapi memberi arah ketika ombak datang dari segala penjuru. Bagi Indonesia, kompas itu kini bertuliskan 2,5±1%, dengan periode 2026–2027. Namun, ombak laut pada tahun ini tidak mudah di prediksi, realitas ternyata tak semudah yang dibayangkan oleh para pembuat peta. Inflasi tahunan sempat menyentuh titik 4,76% pada Februari 2026, lalu turun menjadi 3,48% pada Maret, dan turun perlahan 2,88% pada bulan Juli. Pantas saja bila publik bertanya apakah angka 2,5% itu masih layak menjadi penunjuk arah.

Pembelaan pada target ini merujuk pada kredibilitas dan stabilitas sebuah negara yang akan menunjuk pada fungsi utama sebagai jangkar ekspektasi. Inflasi inti, mencerminkan tekanan harga yang lebih mendasar, tercatat stabil di kisaran 2,84% pada September 2026. BI pun berulang kali menyatakan keyakinannya bahwa inflasi akan tetap berada dalam jangkuan target hingga 2027, sembari menyebutkan bahwa ekspektasi inflasi masih terjaga. Selama pelaku usaha dan rumah tangga percaya pada angka tersebut, mereka cenderung menetapkan harga dan upah dengan menjadi jauh lebih tenang. Di titik inilah target berfungsi sebagai janji, bukan sekadar statistik.

Meski begitu, para pengkritik punya catatan yang tak bisa dianggap remeh. Gejolak harga di Indonesia sering lahir dari pangan, bukan dari kelebihan uang beredar: inflasi volatile food tercatat 5,03% secara tahunan pada september 2026. Suku bunga tidak dapat memperbanyak panen cabai atau memperlancar distribusi beras.Oleh karena itu, BI sendiri menggantungkan pengendalian harga pangan pada kerja sama dengan TPIP dan TPID di pusat dan daerah. Ketika sumber guncangan berada di luar jangkauan bank sentral, sebuah angka target tunggal terasa seperti kompas yang dituntut agar dapat menenangkan badai.

Ada harga tersembunyi yang harus dibayar untuk menjaga arah kemudi. Sepanjang 2026, BI menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin hingga 5,75%, dan menahannya pada September demi menstabilkan rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. Keputusan itu dikaitkan langsung dengan pencapaian sasaran inflasi 2,5±1% pada 2026 hingga 2027. Kebijakan ketat memang menjaga rupiah dan harga barang impor, akan tetapi juga dapat menambah tumpukan beban bagi kredit dan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, target inflasi kini tidak berdiri sendiri, melainkan terikat erat pada nasib nilai tukar.

Apakah relevan dengan kompas pada arahan target berada di 2,5% itu? Jawaban yang jujur adalah ya sebagai jangkar, tetapi perlu dibaca dengan lebih seksama. Fokus penilaian sebaiknya bergeser ke inflasi inti dan ekspektasi, sementara guncangan pangan dan energi dijelaskan secara terbuka sebagai faktor di luar kendali moneter. Komunikasi yang transparan tentang mengapa inflasi keluar jalur, dan kapan akan kembali, jauh lebih berharga daripada sekadar menegaskan bahwa sasaran masih terjaga. Kompas tak perlu diganti, tetapi nakhodanya harus mau mengakui bahwa tidak semua arus dapat dilawan dengan satu kemudi.