Konten dari Pengguna

Tidak Harus Pandai Bicara untuk Bisa Berbicara di Depan Umum

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Athiyah Atrini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto : sedang mengikuti event acara public figure/dok.pribadi
zoom-in-whitePerbesar
foto : sedang mengikuti event acara public figure/dok.pribadi

Pernahkah kamu tahu jawaban dari sebuah pertanyaan, tetapi memilih diam karena takut salah saat menyampaikannya? Atau pernah merasa gugup ketika harus berbicara di depan banyak orang, padahal sebelumnya sudah menyiapkan apa yang ingin dikatakan?

Saya rasa, banyak orang pernah mengalami hal seperti itu. Ada yang merasa tangannya dingin, suaranya bergetar, bahkan tiba-tiba lupa dengan kalimat yang sudah disiapkan. Hal sederhana seperti memperkenalkan diri di depan kelas pun terkadang bisa membuat seseorang merasa gugup.

Dulu, berbicara di depan banyak orang sering dianggap sebagai kemampuan yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Mereka yang lancar berbicara, berani tampil, dan mampu membuat orang lain tertarik dianggap lebih percaya diri. Padahal, menurut saya, kemampuan berbicara di depan umum bukan hanya tentang bakat, melainkan juga tentang kemauan untuk belajar dan berlatih.

Rasa Gugup Bukan Berarti Tidak Mampu

Bayangkan ketika dosen tiba-tiba meminta seorang mahasiswa menjelaskan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas. Semua mata tertuju kepadanya. Awalnya, ia sudah memahami materi yang akan disampaikan. Namun, begitu berdiri di depan kelas, pikirannya mendadak kosong.

Situasi seperti ini sering membuat seseorang merasa dirinya tidak mampu berbicara di depan umum. Padahal, belum tentu masalahnya terletak pada kemampuan memahami materi. Bisa jadi, ia belum terbiasa menghadapi situasi tersebut.

Menurut saya, kita sering terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain. Takut ditertawakan, takut salah mengucapkan kata, atau takut dianggap tidak pintar. Akibatnya, perhatian kita justru lebih banyak tertuju pada kekhawatiran daripada pesan yang ingin disampaikan.

Padahal, orang yang sedang mendengarkan belum tentu memperhatikan setiap kesalahan kecil yang kita lakukan. Bahkan, mereka mungkin lebih tertarik pada isi pembicaraan daripada penampilan kita.

Karena itu, saya berpendapat bahwa langkah pertama untuk belajar public speaking adalah menerima bahwa rasa gugup merupakan hal yang wajar. Kita tidak harus langsung tampil sempurna untuk mulai mencoba.

Berbicara Lancar Bukan Berarti Selalu Berhasil

Pernah melihat seseorang berbicara dengan lancar, tetapi sulit memahami maksud perkataannya? Sebaliknya, ada juga orang yang berbicara dengan sederhana, tetapi pesannya mudah dipahami dan terasa dekat dengan pendengarnya.

Dari situ, saya melihat bahwa public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara panjang lebar atau menggunakan kata-kata yang terdengar hebat. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kita menyampaikan pesan agar dapat dipahami oleh orang lain.

Seorang pembicara perlu mengetahui apa yang ingin disampaikan, siapa yang mendengarkan, dan bagaimana cara menyampaikan pesan tersebut dengan tepat. Berbicara kepada teman tentu berbeda dengan berbicara kepada dosen, rekan kerja, atau orang yang baru dikenal.

Misalnya, ketika menjelaskan suatu materi kepada teman sekelas, kita tidak harus menggunakan istilah yang rumit. Kita bisa menggunakan contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, pendengar akan lebih mudah mengikuti pembicaraan.

Menurut saya, pembicara yang baik bukanlah orang yang selalu mendominasi percakapan, melainkan orang yang mampu membuat pendengarnya memahami pesan yang disampaikan.

Belajar Berani Dimulai dari Hal Kecil

Lalu, bagaimana jika kita termasuk orang yang mudah gugup saat berbicara?

Menurut saya, kita tidak perlu langsung memaksakan diri tampil di hadapan banyak orang. Kemampuan berbicara dapat dilatih secara bertahap, dimulai dari lingkungan yang terasa nyaman.

Kita bisa mencoba menyampaikan pendapat ketika berdiskusi dengan teman, bertanya saat mengikuti perkuliahan, atau berlatih menjelaskan suatu topik selama beberapa menit. Jika sudah mulai terbiasa, kita dapat mencoba berbicara di hadapan kelompok yang lebih besar.

Persiapan juga tidak kalah penting. Sebelum berbicara, kita bisa mencatat beberapa gagasan utama agar pembicaraan lebih terarah. Tidak perlu menghafalkan setiap kalimat karena hal itu justru bisa membuat kita panik ketika lupa satu bagian.

Selain itu, cobalah berbicara dengan tempo yang wajar, menjaga kontak mata sewajarnya, dan memperhatikan respons pendengar. Jika melakukan kesalahan, tidak perlu langsung menganggap penampilan kita gagal. Berhenti sebentar, tarik napas, lalu lanjutkan pembicaraan.

Bagi saya, keberanian bukan berarti tidak pernah merasa takut. Keberanian justru terlihat ketika kita tetap mencoba meskipun masih memiliki rasa gugup.

Jangan Menunggu Percaya Diri untuk Mulai

Ada satu hal yang menurut saya perlu kita ubah dari cara pandang terhadap public speaking: jangan menunggu sampai benar-benar percaya diri untuk mulai berbicara.

Terkadang, kita berpikir bahwa kita harus menghilangkan rasa takut terlebih dahulu. Padahal, kepercayaan diri bisa tumbuh setelah kita berulang kali mencoba dan menyadari bahwa kita mampu melewati situasi yang sebelumnya terasa menakutkan.

Kita mungkin masih melakukan kesalahan pada percobaan pertama. Suara bisa saja bergetar, kalimat belum tersusun rapi, atau penjelasan terasa kurang lancar. Namun, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk penampilan berikutnya.

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki proses belajar yang berbeda. Ada yang cepat beradaptasi, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Kita tidak perlu membandingkan proses tersebut dengan kemampuan orang lain.

Pada akhirnya, public speaking bukan tentang menjadi orang yang paling banyak bicara atau paling berani tampil. Kemampuan ini lebih berkaitan dengan keberanian menyampaikan gagasan, kesediaan mendengarkan orang lain, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Jadi, jika suatu hari kamu mendapat kesempatan untuk berbicara di depan kelas, mengikuti rapat, atau menyampaikan pendapat dalam sebuah diskusi, cobalah untuk tidak langsung mundur karena takut salah.

Mulailah dari apa yang kamu pahami dan sampaikan dengan cara yang paling nyaman bagimu. Sebab, kita tidak harus menjadi pembicara yang sempurna untuk menyampaikan sesuatu yang berarti.

Athiyah Atrini, Mahasiswa Ekonomi dan Bisnis, Manajemen, Universitas Pamulang.