Agus Jabo Priyono dan Api Perjuangan Diponegoro

Sekretaris Jenderal PB PII, aktivis pelajar dan pengusaha. Memiliki perhatian pada pendidikan, kepemudaan, demokrasi, ekonomi, kewirausahaan, dan kebijakan publik.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Atqiya Fadhil Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebih dari dua abad setelah pecahnya Perang Jawa pada 1825, nama Pangeran Diponegoro tetap menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme sekaligus pengingat tentang pentingnya keberanian mempertahankan martabat dan keadilan. Nilai-nilai perjuangan tersebut kembali mengemuka melalui pandangan Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono yang mengajak masyarakat menjadikan semangat para pahlawan sebagai inspirasi untuk menghadapi persoalan bangsa masa kini.
Dalam peringatan 201 Tahun Perang Jawa sekaligus Haul Pangeran Diponegoro di Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 19 Juli 2026, Agus Jabo menegaskan bahwa peringatan sejarah tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum tersebut, menurutnya, harus menjadi ruang refleksi untuk memperkuat persatuan, nasionalisme, gotong royong, dan kecintaan terhadap bangsa.
"Saya ingin mengajak, mari kita berjuang. Mari kita bersatu menggali kehebatan para leluhur kita supaya kita kembali memiliki ruh sebagai bangsa Indonesia," kata Agus Jabo dalam kegiatan tersebut.
Pernyataan tersebut mengandung pesan penting: perjuangan suatu bangsa tidak pernah benar-benar selesai selama masih terdapat persoalan mendasar yang menghalangi rakyat untuk hidup bermartabat.
Dari Perlawanan Kolonial Menuju Perjuangan Sosial
Pangeran Diponegoro dikenang sebagai salah satu tokoh sentral perlawanan terhadap kolonialisme Belanda melalui Perang Jawa 1825–1830. Perjuangannya tidak hanya melekat pada sejarah peperangan, tetapi juga pada keteguhan prinsip, keyakinan, dan keberanian untuk menentang keadaan yang dianggap tidak adil.
Dalam konteks Indonesia modern, tantangan bangsa memang tidak lagi berbentuk perang melawan pasukan kolonial. Namun, persoalan kemiskinan, ketimpangan kesempatan, dan keterbatasan akses terhadap kesejahteraan masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan kesungguhan negara dan partisipasi masyarakat.
Di sinilah relevansi pemikiran Agus Jabo Priyono menemukan konteksnya.
Sebagai Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo menempatkan semangat perjuangan para pahlawan dalam kerangka pembangunan bangsa yang lebih luas. Ia memandang upaya mengatasi kemiskinan sebagai bagian penting dari perjuangan Indonesia untuk mencapai kehidupan yang lebih adil dan sejahtera.
Dalam pandangannya, bangsa Indonesia memiliki sejarah panjang tentang ketangguhan dan kemampuan untuk bangkit. Akan tetapi, kekuatan tersebut harus terus dirawat melalui gotong royong, kemandirian, nasionalisme, dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat.
Pesan ini menegaskan bahwa penghormatan terhadap Pangeran Diponegoro seharusnya tidak berhenti pada pengenangan sejarah. Penghormatan yang sesungguhnya justru terletak pada kesediaan generasi sekarang untuk melanjutkan cita-cita keadilan melalui cara-cara yang sesuai dengan tantangan zaman.
Mengingatkan Bahaya Serakahnomics
Pandangan Agus Jabo mengenai warisan perjuangan Diponegoro juga pernah disampaikannya dalam peringatan Milad Pangeran Diponegoro ke-240 pada November 2025.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengaitkan perjuangan sang pangeran dengan kritik terhadap serakahnomics, istilah yang digunakan Presiden Prabowo Subianto untuk menggambarkan perilaku ekonomi yang didorong oleh keserakahan.
Agus Jabo menilai bahwa keserakahan yang menghambat terwujudnya keadilan dan kemakmuran merupakan persoalan yang perlu dihadapi secara serius. Ia menghubungkan pesan tersebut dengan cita-cita perjuangan Diponegoro untuk membangun bangsa yang adil dan makmur.
Gagasan tersebut membuka ruang refleksi yang lebih luas tentang makna kemerdekaan.
Kemerdekaan politik tidak dengan sendirinya menjamin kemerdekaan sosial dan ekonomi apabila kekayaan bangsa belum sepenuhnya memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, perjuangan mewujudkan kesejahteraan membutuhkan kebijakan yang berpihak pada rakyat, pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab, serta komitmen untuk mencegah kepentingan segelintir pihak mengalahkan kepentingan bersama.
Dalam perspektif ini, melanjutkan semangat Diponegoro bukan berarti mengulangi metode perjuangan pada masa kolonial. Yang perlu diwarisi adalah keberanian moral untuk menentang ketidakadilan, keteguhan dalam mempertahankan prinsip, dan kesediaan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Persatuan sebagai Kekuatan Bangsa
Salah satu pelajaran penting dari perjuangan Pangeran Diponegoro ialah arti kepemimpinan dalam menyatukan kekuatan masyarakat untuk menghadapi tantangan bersama.
Agus Jabo mengingatkan bahwa semangat kebangsaan perlu terus dihidupkan di tengah tantangan yang dapat melemahkan persatuan dan memudarkan jati diri bangsa.
Persatuan, dalam pengertian ini, tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Ia harus hadir dalam tindakan nyata, mulai dari kepedulian terhadap kelompok masyarakat yang rentan hingga kesediaan bekerja bersama melampaui perbedaan pandangan dan kepentingan.
Negara memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa pembangunan tidak hanya menghasilkan pertumbuhan, tetapi juga memperluas kesempatan masyarakat dalam memperoleh kehidupan yang layak.
Di sisi lain, masyarakat juga dituntut untuk menjaga solidaritas sosial dan tidak membiarkan kepentingan kelompok mengikis semangat kebersamaan.
Bagi generasi muda, warisan perjuangan Diponegoro dapat menjadi sumber pembelajaran tentang keberanian mengambil sikap, pentingnya integritas, serta tanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Nasionalisme tidak cukup diukur dari kebanggaan terhadap sejarah, tetapi juga dari kesediaan berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Menghidupkan Sejarah Melalui Tindakan Nyata
Dua abad setelah Perang Jawa, Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda dari masa Pangeran Diponegoro. Akan tetapi, pertanyaan mendasarnya tetap sama: bagaimana sebuah bangsa dapat menjaga martabatnya dan memastikan kehidupan yang lebih baik bagi rakyatnya?
Pandangan Agus Jabo Priyono tentang perjuangan Diponegoro menawarkan satu jawaban penting bahwa sejarah perlu dihidupkan melalui tindakan nyata.
Semangat perjuangan harus diterjemahkan menjadi komitmen untuk mengurangi kemiskinan, memperkuat gotong royong, menjaga persatuan, dan membangun sistem sosial yang lebih adil. Nilai-nilai itu juga harus menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan publik yang tidak hanya berorientasi pada angka pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan kualitas hidup masyarakat.
Pada akhirnya, Pangeran Diponegoro bukan hanya bagian dari masa lalu yang layak dikenang. Ia merupakan pengingat bahwa martabat bangsa harus terus diperjuangkan, sementara kemerdekaan harus memberikan makna nyata bagi kehidupan rakyat.
Pesan yang disampaikan Agus Jabo menjadi relevan dalam konteks tersebut. Menghormati para pahlawan berarti meneruskan nilai perjuangan mereka melalui kerja nyata, kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, serta keberanian menghadapi berbagai bentuk ketidakadilan.
Sebab, ukuran keberhasilan suatu bangsa tidak hanya terletak pada seberapa besar ia menghormati sejarahnya, tetapi juga pada seberapa sungguh-sungguh ia mewujudkan cita-cita keadilan dan kesejahteraan yang diperjuangkan para pendahulunya.
Perjuangan Diponegoro telah menjadi bagian dari sejarah. Tantangan generasi hari ini adalah memastikan bahwa semangatnya tetap hidup dalam setiap upaya membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan sejahtera.
