Konten dari Pengguna

Tiga Hari di Seloromo: Saat Kami Belajar Lebih Banyak daripada yang Kami Ajarkan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nathanaelaudr tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Dok. Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
(Dok. Pribadi)

Sebagai ketua pelaksana Desa Mitra Binaan 2026, saya sempat mengira tugas utama kami hanyalah menjalankan rundown dengan lancar. Ternyata Desa Seloromo mengajarkan hal lain.

Pada 11-13 September 2026, saya dan 26 panitia lain datang ke Seloromo, Karanganyar, dengan satu misi: menumbuhkan semangat literasi. Di hari pertama, kami membuka RASA (Ruang Aksara), ruang baca untuk warga, setelah seminar tentang menghidupkan ruang baca di rumah bersama Ka Arbia Kusuma Ibna Abfa, Duta Kampus UNS 2025.

Momen yang paling saya ingat adalah saat GEMA RASA, ketika kami membaca bersama anak-anak Seloromo. Di situ saya sadar bahwa literasi tidak harus kaku. Membaca bisa terasa menyenangkan kalau dilakukan bersama-sama, sambil bermain dan tertawa.

Namun kedekatan dengan warga tidak berhenti di ruang baca. Senam sore bersama ibu-ibu PKK dan srawung berkeliling desa membuat jarak antara "mahasiswa" dan "warga" menghilang. Menurut saya, di situlah inti pengabdian: pendidikan bermakna tumbuh dari kedekatan, bukan dari datang, memberi materi, lalu pergi.

Ada satu hal yang terus saya pikirkan: ruang baca hanya akan hidup jika dipakai. Karena itu, harapan terbesar saya bukan pada tiga hari kegiatan itu, tetapi pada hari-hari sesudahnya, ketika anak-anak dan warga terus membuka RASA tanpa kami.

Desa Mitra Binaan mengingatkan saya bahwa kita sering merasa datang untuk memberi, padahal pulang dengan banyak diberi. Ilmu tumbuh, harapan tangguh, dan itu berlaku bagi kami juga.