Katanya Kuliah untuk Masa Depan, Tapi Siapa yang Membiayai Hari Ini?

Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang yang memiliki minat pada literasi keuangan serta berbagai isu yang dekat dengan kehidupan anak muda saat ini.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Aulisda Silviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Katanya, kuliah adalah investasi untuk masa depan. Namun, sebelum sampai ke masa depan itu, ada uang kuliah yang harus dibayar, perut yang harus diisi, ongkos yang harus tersedia, dan kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda.
Bagi sebagian anak muda, kuliah memang menjadi jalan untuk mendapatkan pendidikan dan membuka kesempatan yang lebih luas di masa depan. Tetapi, tidak semua mahasiswa bisa menjalani masa kuliah hanya dengan memikirkan nilai, tugas, organisasi, dan kehidupan kampus. Ada yang sejak awal harus memikirkan biaya semester berikutnya, uang kos, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari.
Di tengah kondisi tersebut, muncul dilema yang sebenarnya cukup sederhana, tetapi tidak selalu mudah dijawab: kalau kuliah untuk masa depan, siapa yang membiayai hari ini?
Kuliah Tidak Hanya Tentang Uang Semester
Ketika membicarakan biaya kuliah, kita sering kali hanya memikirkan uang pendidikan. Padahal, menjadi mahasiswa membutuhkan lebih dari itu.
Ada biaya transportasi, makan, internet, buku, tugas, tempat tinggal bagi mahasiswa rantau, hingga kebutuhan kecil yang jika dikumpulkan bisa menjadi pengeluaran yang cukup besar.
Bagi mahasiswa yang kondisi ekonominya terbatas, biaya-biaya tersebut tidak bisa dianggap sebagai hal sepele. Karena itu, bekerja sambil kuliah menjadi pilihan yang diambil sebagian anak muda untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka.
Pagi menjadi mahasiswa, sore bekerja, malam kembali mengerjakan tugas. Siklus tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah.
Ada waktu istirahat yang harus dikorbankan. Ada tugas yang tetap harus selesai meskipun tubuh sudah lelah. Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan hanya karena besok ada ujian.
Namun, dari luar, perjuangan tersebut sering kali tidak terlihat.
Ketika nilai menurun, seseorang bisa dengan mudah mengatakan bahwa mahasiswa seharusnya fokus kuliah. Ketika pekerjaan mulai mengganggu jadwal perkuliahan, muncul anggapan bahwa bekerja adalah pilihan yang seharusnya tidak diambil.
Padahal, bagi sebagian mahasiswa, bekerja bukan sekadar pilihan untuk mendapatkan pengalaman. Bekerja adalah salah satu cara agar mereka tetap bisa kuliah.
Tidak Semua Orang Memulai dari Tempat yang Sama
Kita sering mengatakan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengejar pendidikan. Namun, kenyataannya, kondisi awal setiap orang tidak selalu sama.
Ada mahasiswa yang bisa fokus belajar karena kebutuhan pendidikannya sudah tercukupi. Ada pula yang harus mencari penghasilan sendiri untuk membayar sebagian kebutuhannya.
Bukan berarti salah satunya lebih rajin atau lebih berjuang.
Mereka hanya menghadapi keadaan yang berbeda.
Begitu juga dengan seseorang yang memilih bekerja terlebih dahulu setelah lulus sekolah. Keputusan tersebut tidak selalu berarti ia tidak memiliki keinginan untuk kuliah. Bisa jadi, ia sedang mengumpulkan biaya agar suatu hari bisa melanjutkan pendidikan tanpa sepenuhnya bergantung kepada keluarga.
Sayangnya, masyarakat sering melihat pilihan tersebut hanya dari hasil akhirnya. Seseorang yang belum kuliah dianggap tertinggal, sementara mahasiswa yang bekerja sambil kuliah dianggap tidak bisa fokus.
Padahal, setiap orang memiliki alasan yang tidak selalu terlihat dari luar.
Pendidikan dan Kebutuhan Hidup Tidak Seharusnya Dipertentangkan
Pendidikan memang penting. Kuliah juga bisa menjadi salah satu cara untuk mempersiapkan masa depan. Namun, kebutuhan hari ini tetap harus dipenuhi.
Di sinilah kita perlu berhenti memandang pilihan kuliah dan kerja sebagai dua hal yang selalu bertentangan.
Ada yang bisa langsung kuliah setelah lulus sekolah. Ada yang bekerja terlebih dahulu. Ada yang kuliah sambil bekerja. Ada pula yang harus menunda pendidikan karena kondisi keluarga.
Semua pilihan tersebut memiliki konsekuensi masing-masing.
Yang perlu dipahami adalah bahwa tidak semua anak muda memiliki kemewahan untuk hanya memikirkan masa depan. Sebagian dari mereka juga harus memikirkan bagaimana menjalani hari ini.
Kita sering meminta anak muda untuk bermimpi setinggi mungkin. Tetapi ketika berbicara tentang pendidikan, kita juga perlu memahami bahwa mimpi membutuhkan biaya untuk diwujudkan.
Bukan berarti biaya harus menjadi alasan untuk berhenti bermimpi. Justru sebaliknya, kita perlu menyadari bahwa setiap orang membutuhkan jalan yang berbeda untuk sampai pada tujuan yang sama.
Sebelum Sampai ke Masa Depan
Mungkin masalahnya bukan karena anak muda tidak ingin kuliah.
Mungkin mereka hanya sedang berusaha mencari cara agar bisa tetap bertahan sambil mengejar masa depan.
Sebab memiliki cita-cita saja tidak cukup. Ada waktu, kesempatan, dukungan, dan kemampuan finansial yang ikut menentukan seberapa mudah seseorang bisa mengejarnya.
Karena itu, ketika melihat mahasiswa yang bekerja setelah kuliah, seseorang yang bekerja sebelum melanjutkan pendidikan, atau mereka yang harus menunda kuliah, kita tidak perlu buru-buru menganggap mereka tidak memiliki ambisi.
Kita tidak pernah tahu apa yang sedang mereka perjuangkan.
Pada akhirnya, kuliah memang bisa menjadi investasi untuk masa depan. Tetapi masa depan tidak seharusnya membuat kita lupa bahwa hari ini juga membutuhkan biaya.
Sebab sebelum seseorang bisa memikirkan masa depan, ia harus punya kesempatan untuk bertahan sampai ke sana.
