Kita Tidak Harus Menunggu Hancur untuk Datang ke Psikolog

Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang yang memiliki minat pada literasi keuangan serta berbagai isu yang dekat dengan kehidupan anak muda saat ini.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Aulisda Silviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak, seseorang merasa pikirannya sudah terlalu penuh, tetapi ketika ditanya keadaannya, ia tetap menjawab, “Aku nggak apa-apa”? Bukan karena semuanya benar-benar baik, melainkan karena ia sendiri bingung harus mulai bercerita dari mana. Ada banyak hal yang ingin disampaikan, tetapi selalu muncul pikiran bahwa mungkin masalahnya belum cukup besar untuk diceritakan kepada orang lain, apalagi dibawa ke psikolog.
Di kalangan anak muda, kesadaran tentang kesehatan mental semakin sering dibicarakan. Kita bisa menemukan pembahasan tentang kecemasan, kelelahan emosional, tekanan kuliah, masalah keluarga, hingga kesulitan menghadapi masa depan di media sosial. Namun, ketika pembicaraan itu berubah menjadi keputusan untuk mencari bantuan profesional, ternyata tidak semua orang berani melakukannya.
Ada yang takut dianggap berlebihan. Ada yang khawatir dicap memiliki gangguan mental. Ada pula yang sebenarnya ingin berkonsultasi, tetapi mengurungkan niat karena merasa masih mampu menghadapi semuanya sendiri. Akhirnya, keinginan untuk mencari pertolongan terus ditunda sampai keadaan terasa semakin sulit.
Padahal, kita tidak harus menunggu semuanya terasa berat untuk mulai memperhatikan kesehatan mental.
Gambaran tentang persoalan ini terlihat dalam Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022. Survei nasional tersebut menemukan bahwa sekitar satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir sebelum survei. Namun, hanya 2,6 persen remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mengakses layanan yang menyediakan dukungan atau konseling untuk masalah emosi dan perilaku dalam periode tersebut. Temuan ini juga dipublikasikan oleh Universitas Gadjah Mada.
Angka tersebut bukan berarti semua remaja yang membutuhkan bantuan harus langsung menjalani terapi psikologis. Namun, ada jarak yang cukup besar antara mengalami masalah kesehatan mental dan mendapatkan dukungan profesional. Hal ini menunjukkan bahwa mengenali masalah saja belum tentu membuat seseorang berani mencari bantuan.
Lalu, apa yang membuat langkah tersebut terasa begitu sulit?
Salah satu alasannya adalah stigma yang masih melekat pada kesehatan mental. Sebagian orang masih menganggap bahwa pergi ke psikolog berarti seseorang sedang mengalami masalah yang sangat serius atau tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri. Akibatnya, konsultasi psikologis seolah menjadi sesuatu yang harus disembunyikan.
Ketakutan itu bisa membuat seseorang lebih sibuk memikirkan penilaian orang lain daripada kebutuhan dirinya sendiri. Ia mungkin khawatir akan menjadi bahan pembicaraan teman, mengecewakan keluarga, atau dianggap tidak cukup kuat menghadapi persoalan hidup. Bahkan, ketika sudah menyadari bahwa dirinya membutuhkan tempat bercerita, ia masih bisa memilih diam karena takut dengan pandangan orang lain.
Padahal, mencari bantuan bukan berarti seseorang gagal mengatasi masalahnya. Sama seperti kita memeriksakan diri ketika mengalami keluhan fisik yang mengganggu, berbicara dengan psikolog juga bisa menjadi salah satu cara untuk memahami kondisi diri dan mencari langkah yang sesuai. Kita tidak harus menunggu keadaan memburuk untuk mulai meminta bantuan.
Selain stigma, ada juga kebiasaan menganggap masalah sendiri tidak cukup penting. Ketika melihat orang lain menghadapi persoalan yang tampaknya lebih berat, seseorang bisa merasa tidak pantas mengeluhkan keadaannya. Ia mulai membandingkan kesulitannya dengan pengalaman orang lain, lalu menyimpulkan bahwa dirinya seharusnya bisa mengatasi semuanya sendiri.
Kalimat seperti “Orang lain saja bisa bertahan, masa aku nggak?” akhirnya menjadi alasan untuk terus memendam perasaan. Padahal, setiap orang mempunyai keadaan, pengalaman, dan kemampuan menghadapi tekanan yang berbeda. Kesulitan seseorang tidak otomatis menjadi tidak berarti hanya karena orang lain menghadapi persoalan yang berbeda.
Ada pula anggapan bahwa selama masih bisa kuliah, bekerja, tertawa bersama teman, dan menjalani rutinitas seperti biasa, berarti tidak ada masalah yang perlu diperhatikan. Padahal, apa yang terlihat dari luar tidak selalu menggambarkan apa yang sedang dirasakan seseorang. Orang yang tampak ceria pun bisa mengalami tekanan yang sulit ia ceritakan.
Meski demikian, bukan berarti setiap perasaan sedih, lelah, atau cemas harus dianggap sebagai gangguan mental. Perasaan tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia. Yang penting adalah mengenali ketika masalah mulai terasa sulit dihadapi sendiri, berlangsung terus-menerus, atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada saat seperti itu, mencari bantuan bisa menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan.
Persoalan berikutnya adalah rasa takut untuk bercerita. Tidak semua orang terbiasa mengungkapkan perasaan dengan terbuka. Ada yang sejak kecil terbiasa menyelesaikan masalah sendiri, ada yang khawatir ceritanya tidak dipercaya, dan ada pula yang pernah mendapatkan respons tidak menyenangkan ketika mencoba membuka diri.
Pengalaman seperti itu dapat membuat seseorang ragu untuk kembali bercerita, termasuk kepada tenaga profesional. Ia mungkin membayangkan bahwa dirinya akan dihakimi, disalahkan, atau dipaksa membicarakan sesuatu yang belum siap disampaikan.
Padahal, konsultasi dengan psikolog bukan tentang harus menceritakan semuanya sekaligus. Seseorang dapat memulai dari hal yang paling mudah ia ungkapkan, menyampaikan kekhawatirannya, dan bertanya tentang proses konsultasi. Psikolog juga dapat membantu seseorang memahami persoalan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi yang dihadapi.
Namun, kita juga perlu melihat hambatan yang tidak hanya berkaitan dengan keberanian. Biaya konsultasi, jarak menuju layanan, keterbatasan waktu, serta kurangnya informasi tentang tempat mendapatkan bantuan bisa menjadi persoalan nyata. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap layanan kesehatan mental.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF dalam panduan yang diterbitkan pada 2024 turut menyoroti bahwa banyak anak dan remaja yang mengalami masalah kesehatan mental belum mendapatkan layanan yang dibutuhkan. Hambatan yang disebutkan meliputi keterbatasan layanan, biaya yang tidak terjangkau, dan stigma. Artinya, mendorong anak muda agar berani mencari bantuan saja tidak cukup jika akses terhadap bantuan tersebut belum memadai.
Karena itu, pembahasan tentang kesehatan mental seharusnya tidak berhenti pada ajakan untuk lebih terbuka terhadap perasaan sendiri. Lingkungan keluarga, kampus, sekolah, dan masyarakat juga perlu menciptakan suasana yang membuat seseorang merasa aman ketika ingin mencari bantuan. Informasi tentang layanan yang tersedia, biaya, serta cara mengaksesnya perlu disampaikan dengan jelas agar konsultasi tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang asing.
Kita juga perlu berhenti menjadikan kemampuan memendam masalah sebagai ukuran kekuatan seseorang. Terlalu sering, orang yang tidak mengeluh dianggap paling kuat, sedangkan mereka yang mengungkapkan kesulitan justru dianggap tidak mampu menghadapi kehidupan. Padahal, mengetahui kapan harus meminta bantuan juga merupakan bagian dari mengenali batas kemampuan diri.
Pada akhirnya, pergi ke psikolog bukan tentang membuktikan bahwa seseorang sedang mengalami masalah besar. Langkah itu bisa menjadi kesempatan untuk memahami pikiran, mengenali pola yang membuat kita kesulitan, dan mencari cara yang lebih sehat untuk menghadapi persoalan. Tidak semua masalah harus ditangani dengan cara yang sama, tetapi setiap orang layak mendapatkan kesempatan untuk mencari bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Mungkin, selama ini yang membuat anak muda ragu bukan karena mereka tidak peduli terhadap kesehatan mental, melainkan karena mereka masih takut terhadap konsekuensi ketika mengakui bahwa dirinya sedang kesulitan. Mereka takut dinilai, takut tidak dipahami, atau takut dianggap tidak cukup kuat.
Karena itu, perubahan tidak hanya perlu dimulai dari keberanian seseorang untuk mencari bantuan, tetapi juga dari cara kita memandang orang yang melakukannya. Kita perlu membangun lingkungan yang tidak menjadikan konsultasi psikologis sebagai bahan ejekan dan tidak memaksa seseorang membuktikan seberapa berat masalahnya sebelum ia layak didengarkan.
Kita tidak harus menunggu sampai semua terasa berantakan untuk mulai memperhatikan diri sendiri. Terkadang, langkah kecil seperti mengakui bahwa kita sedang kesulitan dan bersedia mencari bantuan justru menjadi awal untuk memahami diri dengan lebih baik.
Sebab, menjaga kesehatan mental bukan tentang menunggu sampai kita tidak sanggup lagi bertahan. Ini tentang menyadari bahwa diri sendiri juga layak mendapatkan perhatian, bahkan sebelum keadaan terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian.
