Kita Tidak Kekurangan Teman, Kita Hanya Kekurangan Ruang untuk Bercerita

Mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang yang memiliki minat pada literasi keuangan serta berbagai isu yang dekat dengan kehidupan anak muda saat ini.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Aulisda Silviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak, kamu ingin menceritakan sesuatu kepada seseorang, tetapi sebelum mulai bercerita, kamu sudah lebih dulu memikirkan bagaimana orang itu akan merespons? Takut dianggap berlebihan, takut ceritanya disepelekan, atau malah khawatir masalah yang seharusnya menjadi privasi justru diketahui orang lain. Akhirnya, keinginan untuk bercerita pun hilang dan semuanya kembali disimpan sendiri.
Namun, di tengah kebiasaan memendam cerita itu, ada pilihan lain yang semakin dekat dengan kehidupan anak muda, yaitu kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Sekarang, ketika pikiran terasa penuh dan tidak tahu harus bercerita kepada siapa, sebagian orang memilih membuka aplikasi AI, mengetik apa yang sedang dirasakan, lalu menunggu jawabannya. Hal yang mungkin sulit diucapkan kepada teman sendiri terasa lebih mudah disampaikan melalui layar.
Fenomena ini bukan sekadar dugaan. IDN Research Institute dalam laporan yang dipublikasikan pada Agustus 2026 mengungkapkan bahwa lebih dari 70 persen dari 183 responden Gen Z dan milenial yang disurvei pernah mencurahkan perasaan kepada AI. Jika dilihat berdasarkan generasi, angkanya mencapai 81,1 persen pada Gen Z dan 63,6 persen pada milenial. Survei tersebut juga menemukan bahwa 43,7 persen responden merasa lingkungan sekitarnya belum menyediakan ruang aman yang memadai untuk bercerita. Di antara responden yang merasakan kekurangan tersebut, 88 persen menjadikan AI sebagai alternatif.
Angka-angka itu memang tidak bisa mewakili seluruh anak muda Indonesia karena jumlah respondennya terbatas. Meski begitu, temuan tersebut cukup menarik untuk mengajak kita melihat satu persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: mengapa bercerita kepada teknologi terkadang terasa lebih mudah daripada membuka diri kepada manusia?
Salah satu jawabannya mungkin terletak pada rasa takut dihakimi. Tidak semua orang bisa menerima cerita dengan cara yang kita harapkan. Ada yang berniat membantu, tetapi justru membandingkan masalah kita dengan masalah orang lain. Ada yang langsung memberikan nasihat tanpa benar-benar memahami situasinya. Bahkan, ada juga yang menganggap persoalan yang sedang kita hadapi sebagai sesuatu yang sepele.
Pengalaman seperti itu bisa membuat seseorang berpikir berkali-kali sebelum kembali bercerita. Bukan karena tidak membutuhkan orang lain, melainkan karena tidak ingin mengalami kekecewaan yang sama. Pada akhirnya, diam terasa lebih aman daripada harus menjelaskan perasaan sendiri dan berisiko tidak dipahami.
Di sinilah AI terlihat menarik. Kita bisa menuliskan apa pun yang sedang memenuhi pikiran tanpa harus berhadapan langsung dengan ekspresi orang lain. Kita tidak perlu khawatir percakapan akan berubah menjadi perbandingan tentang siapa yang masalahnya paling berat. Kita juga bisa menyusun kata-kata secara perlahan, menghapus kalimat yang dirasa kurang tepat, lalu melanjutkan cerita ketika sudah siap.
Selain itu, AI dapat diakses kapan saja selama layanannya tersedia. Ketika teman sedang sibuk atau orang terdekat tidak bisa dihubungi, percakapan dengan AI menjadi pilihan yang mudah dijangkau. Respons yang terasa menerima dan tidak menghakimi pun dapat membuat seseorang lebih berani mengungkapkan hal-hal yang selama ini sulit disampaikan.
Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Kemudahan tersebut tidak selalu berarti seseorang benar-benar tidak memiliki teman. Bisa jadi ia mempunyai banyak teman untuk bercanda, belajar, atau menghabiskan waktu bersama, tetapi belum menemukan orang yang membuatnya nyaman membicarakan hal-hal pribadi. Banyaknya orang di sekitar kita ternyata tidak selalu sejalan dengan perasaan aman ketika ingin membuka diri.
Kita mungkin cukup mudah menemukan teman untuk tertawa, tetapi belum tentu mudah menemukan seseorang yang bersedia mendengarkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja. Dalam beberapa situasi, orang yang bercerita bahkan tidak sedang mencari solusi. Ia hanya ingin menyampaikan apa yang dirasakan tanpa langsung disuruh bersyukur, dibandingkan dengan orang lain, atau dianggap terlalu memikirkan sesuatu.
Kebiasaan menggunakan AI untuk bercerita juga terlihat dalam penelitian di luar Indonesia. Pew Research Center, melalui survei terhadap 1.458 remaja berusia 13–17 tahun di Amerika Serikat yang dilakukan pada September hingga Oktober 2025, melaporkan pada Februari 2026 bahwa 12 persen responden pernah menggunakan chatbot untuk memperoleh dukungan emosional atau saran. Angka tersebut bukan gambaran kondisi remaja Indonesia, tetapi menunjukkan bahwa penggunaan chatbot untuk kebutuhan emosional juga ditemukan di negara lain.
Meski demikian, kita perlu membedakan antara merasa nyaman saat berbicara dengan AI dan benar-benar mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. AI dapat membantu seseorang menyusun pikiran, menemukan sudut pandang lain, atau memulai percakapan yang selama ini terasa sulit. Namun, AI juga bisa memberikan jawaban yang keliru atau tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Respons yang terdengar memahami bukan berarti teknologi tersebut mempunyai pengalaman dan perasaan seperti manusia.
Karena itu, menjadikan AI sebagai salah satu sarana untuk bercerita tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang sepenuhnya buruk. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menggunakannya dan apakah kita masih mempunyai ruang untuk membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Untuk persoalan yang berat, dukungan dari orang tepercaya atau tenaga profesional tetap penting, terutama ketika masalah mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, fenomena ini seharusnya tidak hanya membuat kita sibuk mempertanyakan mengapa anak muda lebih nyaman bercerita kepada AI. Kita juga perlu melihat bagaimana cara kita mendengarkan orang lain selama ini. Apakah kita benar-benar memberikan perhatian ketika seseorang mulai bercerita? Apakah kita bisa menerima perasaan orang lain tanpa buru-buru menilainya? Atau justru tanpa sadar membuat mereka merasa bahwa tidak semua cerita layak untuk didengar?
Mungkin, selama ini kita terlalu sering menganggap bahwa orang yang memiliki banyak teman pasti mempunyai tempat untuk bersandar. Padahal, seseorang bisa saja dikelilingi banyak orang dan tetap kesulitan menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Teknologi akan terus berkembang dan mungkin akan semakin pandai merespons apa yang kita sampaikan. Namun, kemampuan untuk mendengarkan tanpa meremehkan, memahami tanpa membandingkan, dan hadir ketika seseorang membutuhkan dukungan tetap menjadi hal yang perlu kita bangun dalam hubungan antarmanusia.
Sebab, bisa jadi anak muda bukan sedang kehilangan keinginan untuk bercerita kepada manusia. Mereka hanya sedang mencari tempat yang membuat mereka merasa aman untuk memulai. Dan kalau tempat itu lebih mudah ditemukan di balik layar daripada di antara orang-orang terdekat, mungkin sudah waktunya kita belajar kembali bagaimana caranya mendengarkan.
