Konten dari Pengguna

Kenapa Gen Z Susah Banget Merasa Cukup di Medsos?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayesha Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saat standar hidup yang "cukup" hilang, validasi digital jadi pelarian. Begini cara Durkheim menjelaskannya.

Budaya FOMO dan Flexing dalam teori Fakta Sosial dan Anomie menurut Durkheim Photo by Vitaly Gariev from Pexels: https://www.pexels.com/photo/two-women-shopping-in-a-mall-with-colorful-bags-36712929/
zoom-in-whitePerbesar
Budaya FOMO dan Flexing dalam teori Fakta Sosial dan Anomie menurut Durkheim Photo by Vitaly Gariev from Pexels: https://www.pexels.com/photo/two-women-shopping-in-a-mall-with-colorful-bags-36712929/

Coba deh buka Instagram atau TikTok sore ini. Pasti ada teman yang baru balik dari Jepang, ada yang pamer iPhone baru, ada juga yang lagi brunch di kafe estetik sambil nulis caption "small things, big happiness". Dan tanpa sadar, jempol kita berhenti scroll. Dada agak sesak. Bukan karena kita nggak punya apa-apa, tapi karena tiba-tiba apa yang kita punya jadi kerasa kurang.

Ini bukan cuma drama medsos receh. Dalam sosiologi, ada istilah yang namanya Fear of Missing Out (FOMO), yang sekarang jalan bareng sama kebiasaan flexing alias pamer pencapaian atau gaya hidup di dunia maya. Buat Gen Z, dua hal ini udah bukan sekadar kebiasaan personal lagi. Ini semacam aturan sosial baru yang nggak pernah ditulis, tapi hampir semua orang ngikutin.

Medsos Itu Panggung, Bukan Cermin

Durkheim juga mempunyai teori kuat untuk menganalisis fenomena ini di mana anomie itu kondisi waktu norma-norma lama di masyarakat udah nggak lagi dianggap relevan, tapi norma baru yang jelas belum ada buat gantiin. Orang jadi kehilangan pegangan soal apa yang sebenarnya "cukup" atau "berhasil" dalam hidup.

Dulu, ukuran sukses itu relatif jelas dan terbatas, lulus sekolah, punya kerjaan tetap, nikah, punya rumah. Itu aja. Sekarang, transisinya sudah berubah kita diharuskan menuruti standar baru tiap detik. Sukses bisa berarti udah keliling 5 negara di umur 22, sukses bisa berarti punya bisnis sampingan yang cuan, sukses bisa berarti badan kayak di reels. Standarnya nggak cuma banyak, tapi juga berubah-ubah dan datang dari ribuan orang yang nggak kita kenal.

Pamer sebagai Cara Cari Pegangan

Kalau dipikir-pikir, flexing itu sebenarnya bisa dibaca sebagai usaha orang buat nyari kepastian di tengah kekacauan standar itu. Waktu nggak ada lagi tolok ukur yang disepakati bersama soal "berhasil itu kayak apa", orang jadi pakai validasi instan, jumlah likes, komentar "wah keren", sebagai pengganti rasa aman yang dulu dikasih sama norma sosial yang lebih stabil.

Ini juga kenapa rasanya melelahkan. Karena nggak ada titik akhir yang jelas. Beda sama dulu, di mana orang bisa ngerasa "aku udah cukup" begitu nyampe target yang disepakati bersama (misal udah kerja, udah nikah, udah punya rumah), sekarang standarnya bergerak terus. Begitu kita ngerasa udah nyampe satu level, muncul lagi standar baru di linimasa yang bikin kita ngerasa harus ngejar lagi.

Ini Bukan Salah Gen Z

Penting buat nggak gampang nyalahin Gen Z sebagai "generasi lemah" atau "generasi haus pengakuan". Dalam sosiologi, perilaku individu nggak pernah lahir dari ruang kosong. Selalu ada sistem besar yang membentuknya. Durkheim mengatakan ini merupakan fakta sosial, yaitu cara berpikir dan bertindak yang sebenarnya datang dari luar diri kita, tapi kerasa kayak "kewajiban" yang harus diikuti. Algoritma medsos memang didesain buat bikin orang betah scroll lama-lama, dan konten yang memicu rasa kagum atau cemburu itu, secara data, emang lebih sering nyebar dibanding konten yang biasa aja. Gen Z nggak "milih" buat jadi cemas. Mereka cuma kebetulan tumbuh di sistem yang nggak punya norma jelas, tapi diuntungkan dari kebingungan itu.

Ironisnya kerasa banget di sini. Generasi yang paling sering ngomongin kesehatan mental, paling akrab sama kata self-love dan healing, justru hidup di tengah kondisi anomie paling parah soal standar hidup yang "cukup".

Terus Harus Gimana?

Bukan dengan nyuruh Gen Z berhenti main medsos, karena itu sama aja kayak nyuruh orang berhenti hidup di zamannya sendiri. Yang lebih masuk akal itu bangun kesadaran, sadar kalau standar yang muncul di beranda sosmed itu bukan norma yang harus kita ikuti, tapi sekadar potongan kecil dari hidup orang lain yang sengaja ditampilin. Mungkin yang dibutuhin sekarang bukan standar baru yang lebih "benar", tapi keberanian buat nentuin sendiri standar mana yang masuk akal buat hidup kita masing-masing, bukan buat linimasa orang lain.

FOMO sama flexing pada akhirnya cuma gejala. Penyakit aslinya lebih dalam, yaitu masyarakat yang kehilangan kesepakatan bersama soal apa itu artinya "cukup". Jadi mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan "kenapa Gen Z gampang insecure", tapi "kenapa kita sebagai masyarakat udah nggak punya pegangan bersama soal apa itu hidup yang berhasil?"