Konten dari Pengguna

Di Balik Citra Radiologi, Ketika Bahasa Menjadi Jembatan Empati

Ayu Amanda Novasya Putri

Ayu Amanda Novasya Putri

Mahasiswa D4 Teknologi Radiologi Pencitraan

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ayu Amanda Novasya Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Radiografer yang sedang berkomunikasi dengan pasien. Foto: Pinterest
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Radiografer yang sedang berkomunikasi dengan pasien. Foto: Pinterest

Sebuah citra radiologi mungkin hanya terlihat seperti gambar di layar, tetapi untuk mendapatkannya ada proses yang melibatkan lebih dari sekadar mesin. Ada pasien yang harus memahami instruksi, mengikuti arahan, dan mempercayai tenaga kesehatan yang mendampinginya. Mesin radiologi mungkin menghasilkan gambar, tetapi manusia menghasilkan rasa percaya. Di antara kecanggihan teknologi dan hasil citra medis, ada satu hal sederhana yang menjadi penghubung keduanya, yaitu bahasa.

Sebagai mahasiswa baru program studi D4 Teknologi Radiologi Pencitraan Universitas Airlangga, saya mulai menyadari bahwa radiologi tidak hanya berkaitan dengan alat dan teknologi. Di balik kecanggihan tersebut, ada manusia yang menjadi bagian penting dalam setiap pemeriksaan, yaitu pasien. Karena itu, kemampuan berkomunikasi menjadi hal yang tidak kalah penting dengan kemampuan memahami teknologi yang digunakan.

Dalam pemeriksaan radiologi, pasien biasanya perlu mengikuti beberapa instruksi agar pemeriksaan dapat berjalan dengan baik. Misalnya, pasien mungkin diminta mengubah posisi tubuh, menahan napas, tidak bergerak, atau mengikuti arahan tertentu selama pemeriksaan. Instruksi tersebut mungkin terdengar sederhana bagi tenaga kesehatan yang sudah terbiasa, tetapi belum tentu mudah dipahami oleh pasien. Terlebih lagi, pasien yang baru pertama kali menjalani pemeriksaan dapat merasa cemas karena berhadapan dengan alat dan prosedur yang belum mereka kenal.

Bayangkan seorang pasien datang ke ruang radiologi dalam keadaan cemas. Ia melihat alat pemeriksaan yang belum pernah ditemuinya dan belum mengetahui apa yang akan dilakukan. Jika petugas langsung memberikan beberapa instruksi menggunakan istilah medis yang sulit dipahami, pasien mungkin justru semakin bingung atau takut. Sebaliknya, ketika instruksi disampaikan dengan bahasa yang sederhana, jelas, dan sesuai dengan kondisi pasien, mereka dapat lebih mudah memahami apa yang harus dilakukan. Dari sini saya melihat bahwa Bahasa Indonesia bukan hanya digunakan untuk menyampaikan informasi, tetapi juga dapat membantu membangun pemahaman dan rasa percaya antara tenaga kesehatan dengan pasien.

Dalam dunia radiologi terdapat banyak istilah teknis, seperti radiografi, radiasi, kontras, proyeksi, hingga CT scan. Bagi mahasiswa dan tenaga kesehatan, istilah tersebut mungkin sudah familiar. Namun, bagi masyarakat umum, istilah-istilah tersebut belum tentu mudah dipahami. Karena itu, penggunaan istilah teknis perlu disesuaikan dengan situasi. Jika suatu istilah memang perlu digunakan, penjelasan sederhana dapat diberikan agar pasien mengetahui maksudnya.

Menggunakan bahasa yang sederhana bukan berarti mengurangi profesionalitas seorang tenaga kesehatan. Justru, kemampuan menjelaskan sesuatu yang rumit dengan bahasa yang mudah dipahami menunjukkan bahwa seseorang mampu menyesuaikan cara berkomunikasi dengan orang yang sedang dilayaninya. Pengetahuan tentang teknologi dan prosedur pemeriksaan tetap penting, tetapi pengetahuan tersebut akan lebih bermanfaat jika dapat disampaikan dengan cara yang dapat dipahami pasien.

Komunikasi yang baik juga dapat mendukung kelancaran pemeriksaan. Pasien yang memahami instruksi akan lebih mudah mengikuti arahan, terutama pada pemeriksaan yang membutuhkan ketepatan posisi dan kerja sama pasien. Sebaliknya, instruksi yang kurang jelas dapat membuat pasien salah memahami arahan sehingga pemeriksaan menjadi kurang optimal. Artinya, kemampuan berkomunikasi bukan hanya berkaitan dengan membuat pasien merasa nyaman, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemeriksaan itu sendiri.

Hal ini membuat saya menyadari bahwa belajar Bahasa Indonesia di perguruan tinggi ternyata memiliki hubungan dengan bidang yang saya pelajari di Teknologi Radiologi Pencitraan. Bahasa Indonesia tidak hanya digunakan untuk membuat tugas, menulis laporan, atau mengikuti perkuliahan. Kemampuan berbahasa juga akan digunakan ketika berhadapan langsung dengan pasien nantinya. Seorang calon radiografer tidak hanya perlu memahami bagaimana sebuah alat bekerja, tetapi juga bagaimana menjelaskan pemeriksaan kepada pasien dengan cara yang mudah dipahami. Pasien tidak harus mengetahui semua istilah radiologi, tetapi mereka perlu memahami apa yang harus dilakukan selama pemeriksaan.

Menurut saya, komunikasi juga merupakan bagian dari sikap profesional seorang tenaga kesehatan. Pasien bukan sekadar objek yang harus diposisikan di depan alat pemeriksaan. Mereka adalah manusia yang mungkin sedang merasa khawatir terhadap kondisi kesehatannya. Cara tenaga kesehatan berbicara dan memberikan penjelasan dapat memengaruhi pengalaman pasien selama menjalani pemeriksaan. Sehebat apa pun teknologi radiologi berkembang, aspek manusia dalam pelayanan tetap tidak dapat diabaikan.

Sebagai mahasiswa Teknologi Radiologi Pencitraan semester pertama, saya memang masih berada pada tahap awal untuk memahami dunia radiologi. Namun, dari pembelajaran yang mulai saya dapatkan, saya menyadari bahwa kemampuan berkomunikasi perlu dilatih sejak sekarang. Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik tidak selalu berarti harus menggunakan kalimat yang sangat formal. Yang lebih penting adalah mampu menyampaikan informasi dengan jelas, sopan, tepat, dan sesuai dengan kondisi orang yang diajak berkomunikasi. Kemampuan tersebut nantinya dapat menjadi salah satu bekal ketika saya berhadapan langsung dengan pasien sebagai seorang tenaga radiologi.

Pada akhirnya, teknologi radiologi akan terus berkembang dengan berbagai alat dan metode pemeriksaan baru. Namun, di balik citra yang dihasilkan oleh teknologi tersebut tetap ada pasien yang membutuhkan penjelasan, arahan, dan rasa aman. Bagi saya, Bahasa Indonesia bukan sekadar bahasa yang digunakan untuk menyelesaikan tugas perkuliahan. Bahasa dapat menjadi jembatan yang menghubungkan pengetahuan radiologi dengan pemahaman pasien. Karena itu, menjadi tenaga radiologi yang kompeten bukan hanya tentang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga tentang mampu berkomunikasi dengan manusia yang berada di balik setiap pemeriksaan.