Konten dari Pengguna

Niat Memotivasi, tetapi Justru Membuat Anak Merasa Kurang

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azalia Davina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Coba lihat temanmu, nilainya selalu bagus.”

Kalimat seperti ini mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang tua. Maksudnya bisa saja baik, yaitu ingin anak lebih rajin belajar atau termotivasi untuk berkembang. Namun, pernahkah terpikir bagaimana perasaan anak ketika dirinya terus dibandingkan dengan orang lain?

Membandingkan anak sering kali dianggap sebagai cara untuk memacu semangat. Orang tua berharap anak melihat keberhasilan orang lain, kemudian terdorong untuk melakukan hal yang sama. Padahal, setiap anak memiliki kemampuan, minat, dan proses perkembangan yang berbeda. Apa yang berhasil bagi satu anak belum tentu cocok diterapkan kepada anak lainnya.

Niat Memotivasi, tetapi Bisa Membuat Anak Merasa Kurang

Tidak semua perbandingan dimaksudkan untuk merendahkan. Ada orang tua yang melakukannya karena khawatir terhadap masa depan anak. Mereka ingin anak mendapatkan nilai bagus, berprestasi, dan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Namun, niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang diharapkan. Ketika anak berulang kali dibandingkan dengan saudara, teman, atau anak tetangga, ia bisa merasa bahwa usahanya belum cukup. Perhatian yang seharusnya menjadi dukungan justru terasa seperti tuntutan untuk selalu menyamai orang lain.

Misalnya, seorang anak sudah berusaha belajar lebih giat dan mendapatkan nilai yang lebih baik daripada sebelumnya. Alih-alih mengapresiasi kemajuannya, orang tua justru mengatakan bahwa nilai temannya masih lebih tinggi. Anak pun kehilangan kesempatan untuk merasa bangga atas pencapaiannya sendiri.

Jika kebiasaan ini terus terjadi, anak dapat kesulitan menghargai proses belajarnya. Ia mungkin lebih sibuk mengejar pengakuan daripada memahami kemampuan dan potensi dirinya.

Setiap Anak Memiliki Proses yang Berbeda

Salah satu hal yang perlu dipahami dalam pengasuhan adalah bahwa perkembangan anak tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama. Ada anak yang cepat memahami pelajaran matematika, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk membaca. Ada pula anak yang tidak menonjol dalam bidang akademik, tetapi memiliki kreativitas atau keterampilan sosial yang baik.

Perbedaan tersebut bukan alasan untuk mengabaikan kesulitan anak. Orang tua tetap perlu memberikan arahan dan membantu anak mengembangkan kemampuannya. Namun, bantuan tersebut sebaiknya berangkat dari kebutuhan anak, bukan semata-mata keinginan agar ia menyamai pencapaian orang lain.

Daripada berkata, “Kenapa kamu tidak bisa seperti temanmu?”, orang tua bisa mencoba bertanya, “Bagian mana yang masih sulit? Ayo, kita cari cara supaya kamu lebih paham.”

Perubahan kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Akan tetapi, pendekatannya berbeda. Anak tidak hanya dituntut untuk menjadi lebih baik, tetapi juga dibantu memahami apa yang perlu diperbaiki.

Menghargai Kemajuan, Bukan Hanya Hasil

Anak tentu membutuhkan evaluasi agar dapat berkembang. Memuji semua hal tanpa memberikan arahan juga bukan solusi. Yang perlu diubah adalah cara orang tua menyampaikan harapan dan menilai kemajuan anak.

Orang tua dapat mulai dengan menghargai usaha yang nyata, memberikan kritik tanpa merendahkan, serta menetapkan target sesuai kemampuan anak. Jika anak mengalami kesulitan, fokuslah pada hal yang bisa diperbaiki, bukan pada siapa yang lebih unggul.

Anak juga perlu memahami bahwa keberhasilan orang lain bukanlah ancaman. Teman yang mendapatkan nilai lebih tinggi bukan berarti dirinya gagal. Sebaliknya, pencapaian orang lain bisa menjadi inspirasi tanpa harus dijadikan ukuran mutlak untuk menilai diri sendiri.

Pada akhirnya, tugas orang tua bukan membentuk anak menjadi salinan dari anak lain, melainkan mendampingi mereka agar terus berkembang sesuai potensinya. Anak tetap membutuhkan batasan, arahan, dan evaluasi, tetapi semua itu dapat diberikan tanpa membuatnya merasa selalu kalah dibandingkan orang lain.

Sebab, anak tidak selalu membutuhkan kalimat yang menyuruhnya menjadi seperti orang lain. Terkadang, mereka hanya perlu mendengar bahwa usahanya dihargai dan bahwa orang tuanya bersedia membantu ketika ia belum berhasil.

Sumber: Ilustrasi Gemini AI