Konten dari Pengguna

Pendidikan di Indonesia: Mendidik atau Menekan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Abdul Azizurrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber : https://pixabay.com (ilustrasi foto siswa di Indonesia)
zoom-in-whitePerbesar
sumber : https://pixabay.com (ilustrasi foto siswa di Indonesia)

Sistem pendidikan kita sering kali dipuji sebagai "pabrik SDM unggul" tapi di balik itu semua, ribuan siswa merasa tercekik dengan tekanan ujian nasional, les tambahan dan ekspektasi tinggi. Apakah ini benar-benar mendidik, atau justru menekan generasi muda? Mari kita bedah realita pendidikan Indonesia hari ini.

Menurut data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2024, lebih dari 70% siswa kelas 12 mengaku mengalami stres berat akibat tekanan akademik. Survei PISA 2022 juga menempatkan Indonesia di peringkat rendah untuk kesejahteraan siswa, dengan skor literasi dan numerasi yang masih di bawah rata-rata OECD. Akibatnya, siswa belajar bukan karena dorongan rasa ingin tahu melainkan karena takut gagal, takut dimarahi bahkan takut tidak memenuhi ekspektasi orang tua dan sekolah. Pendidikan pun kini berubah menjadi beban bukan kebutuhan.

Bayangin siswa pergi sekolah dari jam 7 pagi pulang jam 4 sore bahkan ditambah dengan les privat sampai malam. Ironisnya, Keluhan para siswa malah dicap "lemah", padahal ini sinyal darurat yang diabaikan orang tua dan guru. Selain itu, guru dan pihak sekolah sering diposisikan sebagai pihak yang selalu benar bahkan siswa tidak diajarkan untuk berfikir kritis sehingga para siswa nggak biasa mikir kritis, cuma hafal rumus buat ujian.

Pendidikan Indonesia seperti kota dan desa. Data BPS 2024 menunjukkan angka putus sekolah di pedesaan mencapai 12%, tertinggi di NTT dan Papua. Para siswa di sana berjuang dengan sekolah reyot, guru honorer dan biaya transportasi yang mencekik. Pada masa COVID-19 memperparah ini. Sekitar 20 juta siswa kehilangan akses pembelajaran daring karena tak punya gadget sehingga kesenjangan belajar meledak.

di tahun 2025 pemerintah membuat gerakan, Kemendikbudristek janjikan beasiswa full untuk 100 ribu siswa miskin dan kurangi UTBK jadi satu gelombang, tapi ini baru awal. Orang tua harus stop dengan ekspektasi "dokter atau gak sama sekali!", sekolah wajib punya psikolog tiap 200 siswa, plus pelajaran hidup seperti public speaking setara Matematika. Tanpa itu, reformasi cuma gimmick.

Realitanya, tujuan mulia "cerdaskan bangsa" cuma omong doang di lapangan. Sistem lebih doyan nilai dan ranking daripada proses belajar atau kesehatan jiwa anak. Selama angka lebih penting dari manusia, tekanan bakal terus bikin generasi muda burnout.

Pendidikan bukan soal ranking, tapi membangun manusia utuh. Jika terus menekan, kita ciptakan generasi burnout bukan inovator.***

Muhammad Abdul Azizurrahim, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta